news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi ekspor-impor RI yang tergambar dari suasana di terminal petikemas Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta..
Sumber :
  • Dok. Pelindo

Impor Naik Tajam, Tapi Neraca Dagang RI Tetap Surplus 71 Bulan Berturut-turut

Indonesia memperpanjang tren surplus neraca perdagangan selama 71 bulan berturut-turut, dengan kontribusi terbesar berasal dari ekspor nonmigas, khususnya industri pengolahan.
Senin, 4 Mei 2026 - 17:23 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia kembali mencatat surplus neraca perdagangan hingga Maret 2026.

Capaian ini memperpanjang tren surplus menjadi 71 bulan berturut-turut, dengan kontribusi terbesar berasal dari ekspor nonmigas, khususnya sektor industri pengolahan.

"Neraca perdagangan Indonesia telah mencatat surplus selama 71 bulan berturut-turut sejak bulan Mei tahun 2020 yang lalu,” ujar Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono di Jakarta, Senin (4/5/2026).

Pada Maret 2026, neraca perdagangan barang mencatat surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS. Surplus ini didorong kinerja positif sektor nonmigas yang mencapai 5,21 miliar dolar AS.

Kontributor utamanya meliputi komoditas lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja.

Di sisi lain, sektor migas masih mengalami defisit sebesar 1,89 miliar dolar AS. Defisit tersebut berasal dari komoditas minyak mentah, hasil minyak, dan gas.

Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Maret 2026, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar 5,55 miliar dolar AS.

Kinerja ini ditopang oleh surplus nonmigas, termasuk industri pengolahan sebesar 10,63 miliar dolar AS. Sementara itu, sektor migas mencatat defisit 5,08 miliar dolar AS.

Dari sisi ekspor, total nilai ekspor Indonesia pada triwulan pertama 2026 mencapai 66,85 miliar dolar AS, atau meningkat tipis 0,34 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Ekspor migas tercatat sebesar 3,25 miliar dolar AS atau turun 10,58 persen. Sebaliknya, ekspor nonmigas tumbuh 0,98 persen menjadi 63,60 miliar dolar AS.

Ateng menjelaskan, kenaikan ekspor nonmigas secara keseluruhan didorong oleh sektor industri pengolahan yang menjadi motor utama pertumbuhan.

“Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama atas peningkatan kinerja ekspor nonmigas sepanjang periode Januari sampai dengan Maret tahun 2026 dengan andil terhadap kenaikannya 3,15 persen,” kata dia.

Peningkatan ekspor industri pengolahan antara lain ditopang oleh komoditas nikel, kimia dasar organik berbasis hasil pertanian, minyak kelapa sawit, produk kimia lainnya, serta semikonduktor dan komponen elektronik.

Pada Maret 2026, nilai ekspor nonmigas tercatat sebesar 21,25 miliar dolar AS. Dari total tersebut, sektor industri pengolahan memberikan kontribusi terbesar dengan nilai 17,92 miliar dolar AS.

Selain itu, tiga komoditas unggulan Indonesia, yakni besi dan baja, crude palm oil (CPO) beserta turunannya, serta batu bara, menyumbang sekitar 28,53 persen terhadap total ekspor nonmigas sepanjang Januari-Maret 2026.

Secara rinci, ekspor besi dan baja tumbuh 0,56 persen secara kumulatif. Ekspor CPO dan turunannya meningkat 3,56 persen, sedangkan ekspor batu bara mengalami penurunan 11,51 persen.

Dari sisi tujuan ekspor, China masih menjadi pasar utama dengan nilai mencapai 16,5 miliar dolar AS atau naik 17,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Selain China, Amerika Serikat dan India juga menjadi tujuan utama ekspor. Ketiga negara tersebut berkontribusi sebesar 44,48 persen terhadap total ekspor nonmigas nasional.

Impor Naik 10 Persen Lebih

Sementara itu, dari sisi impor, total nilai impor Indonesia pada Januari-Maret 2026 mencapai 61,30 miliar dolar AS atau meningkat 10,05 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Impor nonmigas tercatat sebesar 52,97 miliar dolar AS atau naik 12,16 persen. Adapun impor migas turun 1,72 persen menjadi 8,33 miliar dolar AS.

Menurut Ateng, peningkatan impor terutama dipicu oleh kebutuhan bahan baku dan penolong yang mencapai 43,17 miliar dolar AS atau tumbuh 6,89 persen.

Beberapa komoditas impor yang mencatat kenaikan signifikan meliputi mesin dan peralatan listrik, logam mulia dan perhiasan, serta berbagai produk kimia.

Ia juga menyampaikan bahwa impor bahan baku plastik pada Maret 2026 tercatat sebesar 338,1 juta dolar AS atau mengalami penurunan bulanan sebesar 14,96 persen.

Dalam komposisi mitra dagang, Amerika Serikat menjadi penyumbang surplus terbesar bagi Indonesia dengan nilai 4,43 miliar dolar AS. Posisi ini diikuti India sebesar 3,29 miliar dolar AS dan Filipina sebesar 2,61 miliar dolar AS.

Sebaliknya, defisit terbesar terjadi dengan China sebesar 5,18 miliar dolar AS, diikuti Australia sebesar 2,5 miliar dolar AS, serta Singapura sebesar 1,9 miliar dolar AS. (ant/rpi)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

00:58
00:58
00:49
04:00
02:43
01:22

Viral