- Kadin Indonesia
Ekonomi RI Tumbuh 5,61% di Tengah Tekanan Global, Kadin Apresiasi Strategi Pemerintah Dongkrak Pertumbuhan
BPS mencatat, belanja pemerintah yang tumbuh 21,81% dan investasi yang meningkat 5,96% menjadi faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I-2026 sebesar 5,61% .
Angka ini melampaui berbagai proyeksi lembaga ekonomi, baik dalam maupun luar negeri. Konsumsi rumah tangga tumbuh moderat sebesar 5,52%.
Secara nominal, produk domestik bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan sebesar Rp3.447,7 triliun pada periode tersebut.
Struktur pertumbuhan masih didominasi permintaan domestik di tengah lemahnya sektor eksternal. Ekspor tumbuh 0,90%, sementara impor meningkat 7,18%.
Dari sisi lapangan usaha, sektor jasa menjadi penggerak utama, terutama akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14%, transportasi 8,04%, serta informasi dan komunikasi 7,14%. Industri pengolahan tetap menjadi kontributor terbesar terhadap PDB dengan porsi sekitar 19%.
Secara wilayah, Pulau Jawa masih menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi lebih dari separuh PDB nasional. Namun, kawasan Bali–Nusa Tenggara dan Sulawesi mencatat pertumbuhan yang lebih tinggi.
Secara keseluruhan, capaian ini mencerminkan ketahanan ekonomi Indonesia di awal 2026, dengan belanja pemerintah dan investasi sebagai penopang utama di tengah ketidakpastian global.
Kontribusi Program MBG
Di sisi lain, program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menjadi salah satu penggerak baru ekonomi pada kuartal I-2026, sekaligus instrumen strategis untuk mendorong pemerataan. Program ini mencatat ekspansi sangat signifikan, dengan peningkatan skala lebih dari 2.400% secara tahunan.
Jika pada kuartal I-2025 program ini masih dalam tahap awal dengan 900 dapur, produksi 2,5 juta porsi per hari, dan melibatkan sekitar 45.000 tenaga kerja, maka pada kuartal I-2026 telah berkembang pesat.
Jumlah dapur meningkat menjadi 26.066 unit, produksi mencapai 60 juta porsi per hari, dan menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja. Perputaran uang juga melonjak dari Rp37,5 miliar menjadi sekitar Rp900 miliar per hari.
“Ini mencerminkan efek pengganda (multiplier effect—Red) yang sangat kuat terhadap perekonomian domestik,” jelas Anin.
Ekspansi tersebut menjadikan MBG sebagai salah satu program dengan serapan anggaran tercepat di awal 2026, dengan nilai belanja diperkirakan sekitar Rp80 triliun.
Anggaran ini langsung mengalir ke masyarakat melalui rantai pasok pangan, distribusi, logistik, hingga tenaga kerja lokal. Dampaknya terlihat pada peningkatan konsumsi rumah tangga dan penguatan sektor riil, terutama pertanian dan konstruksi.