news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi perumahan..
Sumber :
  • Antara

Harga Rumah Lesu di Awal 2026, BI Ungkap Pasar Properti Mulai Kehilangan Tenaga

Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer hanya naik tipis pada kuartal I-2026.
Minggu, 10 Mei 2026 - 13:30 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Laju kenaikan harga rumah di Indonesia mulai melambat pada awal 2026. Bank Indonesia (BI) mencatat pertumbuhan harga properti residensial di pasar primer hanya naik tipis pada kuartal I-2026.

Hal ini menandakan daya dorong sektor properti belum sepenuhnya pulih di tengah tekanan ekonomi dan melemahnya permintaan.

Perlambatan tersebut tercermin dari hasil Survei Harga Properti Residensial (SHPR) BI. Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) tercatat sebesar 110,60 atau hanya tumbuh 0,62 persen secara tahunan (year on year/yoy), lebih rendah dibandingkan pertumbuhan kuartal IV-2025 yang mencapai 0,83 persen.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perlambatan terutama dipicu melemahnya pertumbuhan harga rumah tipe menengah dan besar.

“Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan harga rumah tipe menengah dan besar yang masing-masing mencatatkan indeks sebesar 113,56 dan 108, 14,” kata Ramdan Denny Prakoso dikutip dari laman BI, Minggu (10/5/2026).

BI mencatat rumah tipe menengah hanya tumbuh 0,88 persen (yoy), melambat dibanding kuartal sebelumnya sebesar 1,12 persen. Sementara rumah tipe besar tumbuh 0,50 persen (yoy), lebih rendah dari capaian sebelumnya sebesar 0,72 persen.

Tekanan juga terjadi pada rumah tipe kecil. Segmen yang selama ini menjadi penopang pasar properti tersebut hanya tumbuh 0,61 persen (yoy), melambat dibandingkan kuartal IV-2025 yang mencapai 0,76 persen.

Secara spasial, perlambatan terjadi di mayoritas kota yang disurvei BI. Dari 18 kota, sebanyak 10 kota mengalami perlambatan pertumbuhan harga rumah dan tiga kota bahkan mencatat penurunan IHPR secara tahunan.

Banjarmasin menjadi salah satu kota dengan perlambatan paling tajam. Pertumbuhan harga rumah di kota tersebut turun menjadi 0,52 persen (yoy), setelah sebelumnya mampu tumbuh 1,63 persen.

Di Surabaya, tekanan pasar properti bahkan semakin dalam. Harga rumah tercatat mengalami kontraksi 0,27 persen (yoy), lebih buruk dibanding kuartal sebelumnya yang terkontraksi 0,04 persen.

Di tengah tren perlambatan, beberapa kota masih mencatat penguatan harga. Padang dan Balikpapan menjadi dua wilayah yang menunjukkan kenaikan pertumbuhan properti residensial.

Harga rumah di Padang tumbuh menjadi 1,21 persen (yoy) dari sebelumnya 0,17 persen. Sedangkan Balikpapan naik menjadi 1,44 persen (yoy) dari sebelumnya 0,43 persen.

Secara kuartalan (quarter to quarter/qtq), pasar properti juga menunjukkan pelemahan. IHPR kuartal I-2026 hanya tumbuh 0,04 persen, turun dibandingkan kuartal sebelumnya yang mencapai 0,17 persen.

Perlambatan terutama dipicu melemahnya pertumbuhan rumah tipe kecil yang hanya naik 0,06 persen (qtq), dari sebelumnya 0,28 persen. 

Sementara rumah tipe menengah mengalami kontraksi 0,01 persen (qtq), berbalik turun dari pertumbuhan 0,12 persen pada kuartal IV-2025.

“Selain itu, pertumbuhan harga rumah tipe besar turut mengalami perlambat an sebesar 0,06% (qtq) dari 0,17% (qtq) pada triwulan sebelumnya,” ujarnya. (agr/muu)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

01:02
02:11
01:30
05:41
02:16
05:19

Viral