- Antara
Bukan Cuma Rupiah yang Jebol Rp17.500, IHSG Juga Masih Tersungkur Jelang Pengumuman MSCI
Jakarta, tvOnenews.com - Tekanan besar masih membayangi pasar keuangan Indonesia. Tidak hanya nilai tukar rupiah yang terus melemah hingga menembus level Rp17.500 per dolar AS, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga masih belum mampu keluar dari zona merah di tengah tingginya ketidakpastian pasar.
Pada akhir perdagangan sesi pertama Selasa (12/5/2026), IHSG tercatat turun 1,43 persen ke level 6.807,13. Padahal pada awal perdagangan pagi, indeks sempat dibuka menguat 41,23 poin atau 0,60 persen ke posisi 6.946,85.
Sementara itu, indeks LQ45 yang berisi saham-saham unggulan juga hanya mampu dibuka menguat tipis 1,43 poin atau 0,21 persen ke level 670,06 sebelum akhirnya ikut tertekan.
Kondisi ini menunjukkan tekanan di pasar keuangan domestik masih sangat besar. Investor asing maupun pelaku pasar disebut masih mengambil posisi wait and see menjelang pengumuman hasil review MSCI yang dinilai akan memengaruhi sejumlah saham di pasar modal Indonesia.
Rupiah dan IHSG Sama-Sama Tertekan
Pelemahan rupiah dan anjloknya IHSG terjadi hampir bersamaan dalam beberapa pekan terakhir. Rupiah bahkan mencatat level terlemah sepanjang sejarah setelah menyentuh Rp17.500 per dolar AS.
Di sisi lain, IHSG juga belum mampu bangkit meski beberapa kali sempat mencoba rebound. Tekanan eksternal seperti penguatan dolar AS, konflik geopolitik global, hingga tingginya ketidakpastian pasar membuat investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko di negara berkembang.
Sentimen global tersebut semakin diperparah dengan kekhawatiran investor terhadap prospek pasar modal domestik dan minimnya sektor pertumbuhan baru yang dianggap mampu menarik dana asing dalam jangka panjang.
Investor Masih Menunggu Pengumuman MSCI
Salah satu sentimen yang paling diperhatikan pasar saat ini adalah pengumuman MSCI yang akan dirilis dalam waktu dekat.
MSCI merupakan lembaga penyedia indeks saham global yang menjadi acuan banyak investor institusi dunia dalam menentukan alokasi investasi. Karena itu, setiap perubahan atau review terhadap Indonesia berpotensi memengaruhi arus modal asing di pasar saham domestik.
Chief Investment Officer Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Pandu Sjahrir, menilai persoalan pasar modal Indonesia saat ini tidak hanya terkait MSCI semata.