- Antara
Bukan Cuma Rupiah yang Jebol Rp17.500, IHSG Juga Masih Tersungkur Jelang Pengumuman MSCI
Menurut dia, regulator pasar modal sebenarnya sudah cukup baik dalam mengantisipasi penyesuaian kebijakan MSCI. Namun, ada faktor lain yang membuat daya tarik pasar Indonesia masih tertinggal dibanding negara lain di Asia.
“Masalah MSCI sudah relatif teratasi. Mungkin ini soal kreativitas,” ujar Pandu di Gedung Bursa Efek Indonesia, Selasa (12/5/2026).
Indonesia Dinilai Belum Punya “Cerita Baru” untuk Investor
Pandu menyoroti pasar modal Indonesia yang masih terlalu bergantung pada sektor tradisional seperti perbankan dan pertambangan.
Menurut dia, dunia investasi global kini bergerak ke sektor teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Negara-negara yang memiliki perusahaan teknologi besar justru menjadi pasar dengan performa terbaik di Asia sepanjang tahun ini.
Ia mencontohkan Taiwan dan Korea Selatan yang mampu mencatat penguatan signifikan berkat dominasi industri teknologi dan AI.
“Kalau lihat bursa terbaik di Asia, hanya Taiwan dan Korea karena teknologi dan AI,” kata Pandu.
Ia bahkan menyebut kapitalisasi pasar Taiwan Semiconductor Manufacturing Company (TSMC) lebih besar dibanding total kapitalisasi pasar Asia Tenggara.
Menurutnya, Indonesia belum memiliki perusahaan teknologi besar yang mampu menjadi magnet baru bagi investor global.
“Yang listed di Indonesia masih bank dan mining companies. Belum ada yang mengikuti tren AI,” ujarnya.
IHSG Turun di Tengah Dinamika Global
Selain sentimen domestik, tekanan terhadap IHSG juga datang dari kondisi global yang belum stabil.
Konflik geopolitik di Timur Tengah, penguatan dolar AS, hingga kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi Amerika Serikat membuat investor cenderung menghindari aset berisiko.
Aliran dana asing ke pasar negara berkembang pun mulai tertahan. Kondisi itu membuat tekanan jual di pasar saham Indonesia semakin besar.
Di tengah situasi tersebut, investor disebut lebih selektif dalam menempatkan dana mereka. Bursa saham yang memiliki sektor teknologi kuat dinilai lebih menarik dibanding pasar yang masih didominasi sektor konvensional.
Saham Perbankan Dinilai Murah, Tapi Kurang Menarik
Pandu mengakui sektor perbankan Indonesia sebenarnya masih memiliki fundamental yang cukup kuat. Bahkan sejumlah saham bank besar dinilai sudah berada di level valuasi murah.