news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Kementan Otak-atik Strategi Produksi Minyak Sawit untuk Genjot B50 Tanpa Ganggu Produksi CPO.
Sumber :
  • antara

Harga Minyak Sawit Rontok Dua Hari Beruntun, Ekspor Lesu dan Harga Minyak Dunia Jadi Pemicu

Harga minyak sawit atau CPO di Bursa Malaysia anjlok dua hari beruntun akibat ekspor melemah, harga minyak dunia turun, dan ringgit menguat.
Jumat, 22 Mei 2026 - 12:58 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) kembali mengalami tekanan hebat pada perdagangan Kamis, 21 Mei 2026. Pelemahan harga minyak sawit di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) bahkan berlangsung selama dua hari berturut-turut seiring turunnya permintaan ekspor serta melemahnya harga minyak mentah dunia.

Tekanan di pasar minyak sawit global membuat seluruh kontrak berjangka CPO ditutup di zona merah. Penurunan harga minyak sawit juga dipengaruhi sentimen negatif dari pasar minyak nabati pesaing seperti minyak kedelai dan minyak sawit Dalian.

Berdasarkan data penutupan Bursa Malaysia Derivatives, kontrak berjangka minyak sawit untuk Juni 2026 anjlok 112 Ringgit Malaysia menjadi 4.403 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak minyak sawit Juli 2026 turun lebih dalam sebesar 123 Ringgit Malaysia menjadi 4.433 Ringgit Malaysia per ton.

Penurunan harga minyak sawit juga terjadi pada kontrak lainnya, yakni:

  • Kontrak Agustus 2026 turun 125 Ringgit Malaysia menjadi 4.458 Ringgit Malaysia per ton

  • Kontrak September 2026 melemah 121 Ringgit Malaysia menjadi 4.480 Ringgit Malaysia per ton

  • Kontrak Oktober 2026 terkoreksi 112 Ringgit Malaysia menjadi 4.507 Ringgit Malaysia per ton

  • Kontrak November 2026 turun 101 Ringgit Malaysia menjadi 4.537 Ringgit Malaysia per ton

Ekspor Minyak Sawit Malaysia Turun Tajam

Tekanan terbesar terhadap harga minyak sawit datang dari melemahnya kinerja ekspor produk sawit Malaysia sepanjang Mei 2026.

Data surveyor kargo yang dikutip dari TradingView menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia periode 1–20 Mei 2026 turun antara 13,9 persen hingga 20,5 persen dibandingkan periode yang sama bulan sebelumnya.

Penurunan ekspor tersebut menjadi sentimen negatif utama bagi pasar minyak sawit karena mencerminkan lemahnya permintaan global terhadap produk CPO dan turunannya.

Lesunya ekspor membuat pelaku pasar khawatir terhadap peningkatan stok minyak sawit di Malaysia. Kondisi itu kemudian mendorong aksi jual di pasar berjangka CPO sehingga harga minyak sawit semakin tertekan.

Di sisi lain, pasar minyak sawit global juga menghadapi persaingan ketat dengan minyak nabati lain yang harganya ikut melemah.

Harga Minyak Nabati Pesaing Ikut Turun

Harga minyak sawit turut terbebani oleh penurunan harga minyak nabati pesaing di pasar internasional.

Kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat turun 0,97 persen. Sementara kontrak minyak sawit Dalian melemah lebih dalam hingga 2,02 persen.

Tidak hanya itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga turun 0,92 persen.

Pergerakan harga minyak sawit memang cenderung mengikuti arah minyak nabati rival karena seluruh produk tersebut bersaing di pasar minyak nabati global, terutama untuk kebutuhan pangan dan industri.

Ketika harga minyak kedelai turun, harga minyak sawit biasanya ikut terdampak karena pembeli memiliki alternatif minyak nabati lain dengan harga lebih murah.

Kondisi tersebut membuat sentimen pasar minyak sawit semakin negatif dalam beberapa hari terakhir.

Harga Minyak Dunia Tambah Tekanan Pasar Sawit

Selain faktor ekspor, harga minyak sawit juga tertekan oleh melemahnya harga minyak mentah dunia.

Pasar energi global saat ini tengah mencermati perkembangan negosiasi damai antara Amerika Serikat dan Iran. Di saat bersamaan, perlambatan aktivitas ekonomi di zona euro ikut memicu kekhawatiran terhadap permintaan energi dunia.

Turunnya harga minyak mentah membuat minyak sawit menjadi kurang menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Dalam kondisi harga minyak dunia rendah, penggunaan minyak sawit untuk biodiesel dinilai menjadi kurang kompetitif dibanding bahan bakar fosil. Situasi ini kemudian memberikan tekanan tambahan terhadap harga CPO global.

Pelaku pasar minyak sawit pun kini memantau arah harga minyak dunia karena pergerakannya sangat mempengaruhi permintaan biodiesel berbasis sawit.

Penguatan Ringgit Malaysia Bebani Harga CPO

Faktor lain yang ikut menekan harga minyak sawit adalah penguatan mata uang ringgit Malaysia terhadap dolar Amerika Serikat.

Ringgit Malaysia dilaporkan menguat sekitar 0,2 persen terhadap dolar AS. Penguatan mata uang tersebut membuat harga minyak sawit Malaysia menjadi lebih mahal bagi pembeli asing yang menggunakan dolar AS maupun mata uang lainnya.

Akibatnya, daya saing ekspor minyak sawit Malaysia menjadi sedikit berkurang di pasar global.

Kondisi ini semakin memperbesar tekanan terhadap pasar CPO yang sebelumnya sudah terbebani oleh penurunan ekspor dan melemahnya harga minyak dunia.

Pelaku industri minyak sawit kini menunggu perkembangan permintaan ekspor dan pergerakan harga energi global untuk melihat arah pasar CPO dalam beberapa waktu ke depan. (nsp)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

06:21
01:18
06:50
00:51
01:05
01:40

Viral