news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi rupiah dan dolar AS.
Sumber :
  • ANTARA

Rupiah Loyo Rp17.926 per Dolar AS, Pengamat Sebut Imbas Perang Uranium AS-Iran dan Lonjakan Minyak Dunia

Rupiah kembali tertekan dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Rabu, 3 Juni 2026 - 12:18 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com Rupiah kembali tertekan dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Menguatnya harga minyak dunia di tengah memanasnya ketegangan antara AS dan Iran menjadi pemicu utama pelemahan mata uang Indonesia pada perdagangan Rabu (3/6/2026).

Berdasarkan data Bloomberg hingga pukul 10.13 WIB, rupiah melemah 0,49 persen ke posisi Rp17.926 per dolar AS.

Koreksi tersebut memperpanjang tekanan terhadap mata uang domestik yang dalam beberapa waktu terakhir dibayangi sentimen eksternal, terutama dari pasar energi dan kebijakan moneter Amerika Serikat.

Pengamat Pasar Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai lonjakan harga minyak dunia menjadi faktor yang langsung menekan nilai tukar rupiah.

“Hari ini rupiah kembali mengalami pelemahan ya akibat menguatnya minyak mentah dunia WTI ya di 94.58 kemudian Brent crude oil ini pun juga mengalami penguatan di 96.72 dan dolar AS ya tadi pagi ya terjadi gap up,” kata Ibrahim saat dihubungi, Rabu (3/6/2026).

Menurut dia, gejolak di pasar energi dipicu oleh mandeknya perundingan antara Amerika Serikat dan Iran yang kembali meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan minyak global.

“Nah, apa sih yang menyebabkan harga rupiah ya kembali mengalami pelemahan? Yaitu dari segi eksternal itu tentang masalah stagnasi. Stagnasi yang terjadi antara Amerika Serikat dan Iran ya tentang masalah perundingan,” ujarnya.

Ibrahim menjelaskan ketegangan kedua negara semakin meningkat setelah Iran menuding Amerika Serikat tidak konsisten dalam proses negosiasi yang sedang berlangsung.

“Jadi Iran sendiri mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Amerika Serikat itu sangat licik ya pada saat melakukan sosialisasi ya tentang masalah kesepahaman dalam perjanjian ya Amerika Serikat terus melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah di Iran. Nah, Iran pun juga berbalik melakukan penyerangan,” katanya.

Ia menilai akar persoalan yang membuat negosiasi sulit mencapai titik temu adalah perbedaan sikap terkait program nuklir Iran, khususnya pengayaan uranium.

“Nah, kemudian inti dari permasalahan utama itu adalah tentang masalah pengayaan uranium. Nah, pengayaan uranium ini yang keinginan dari Amerika Serikat sendiri adalah agar dimusnahkan tetapi Iran sendiri tidak mau,” ujar Ibrahim.

Ketegangan geopolitik tersebut mendorong harga minyak terus bergerak naik. Dampaknya tidak hanya dirasakan negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia, tetapi juga memicu kekhawatiran inflasi global yang lebih tinggi.

“Kita melihat bahwa dengan tingginya harga minyak ya kemudian transportasi tinggi, mahal, kemudian logistik juga mahal membuat inflasi cukup tinggi,” katanya.

Di Amerika Serikat, kenaikan harga energi dinilai berpotensi memperpanjang tekanan inflasi. Kondisi tersebut membuat ruang bagi bank sentral AS untuk segera menurunkan suku bunga semakin sempit.

“Harga-harga konsumsi ya termasuk BBM, gasoline di Amerika Serikat terus mengalami kenaikan sehingga berdampak terhadap mempertahankan suku bunga bahkan bisa menaikkan suku bunga,” kata Ibrahim.

Menurutnya, pasar kini mulai mengantisipasi kemungkinan Federal Reserve tetap mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan pada tahun ini.

“Nah, ini yang yang cukup menarik ya sehingga apa? Sehingga apa, Bank Sentral Amerika Serikat kemungkinan besar ini akan mempertahankan suku bunga dan bisa menaikkan suku bunga dalam tahun ini satu kali,” ujarnya.

Prospek suku bunga tinggi AS menjadi sentimen negatif bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Ketika imbal hasil aset dolar AS semakin menarik, arus modal global cenderung kembali ke Amerika Serikat dan meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. (agr/nsi)

 
 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:54
02:28
04:12
05:10
01:43
01:22

Viral