- tvOnenews.com/Abdul Gani Siregar
Kadin Dukung Langkah BI Naikkan Suku Bunga, Anindya Bakrie Tegaskan Demi Jaga Stabilitas Ekonomi
“Pesan kami sederhana. Pertama, optimistis. Kedua, BI all out menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan ekonomi. Ketiga, kami akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Kementerian Keuangan, dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK),” ujar Perry.
Menurut dia, BI selama ini selalu mengedepankan pendekatan pro-bisnis, tidak hanya kepada industri keuangan dan perbankan, tetapi juga kepada sektor riil. Dengan dukungan 46 kantor perwakilan yang tersebar di seluruh Indonesia, BI siap memperkuat sinergi dengan Kadin hingga ke daerah untuk menggerakkan investasi, ekspor, industri pengolahan, dan UMKM.
Perry mengatakan BI mendukung penuh berbagai program prioritas pemerintah, termasuk hilirisasi industri, penguatan investasi, pengembangan UMKM, dan ekonomi kerakyatan. Namun di saat yang sama, BI harus memastikan stabilitas makroekonomi tetap terjaga agar berbagai capaian pembangunan tidak terganggu oleh gejolak global.
“Kami mendukung penuh garis kebijakan Bapak Presiden. Saat terjadi tekanan eksternal dan gejolak pasar keuangan, tugas BI adalah memastikan stabilitas tetap terjaga agar kemajuan ekonomi yang telah dicapai tidak tergerus,” tegasnya.
Ketidakpastian Global
Saat ini, perekonomian dunia masih menghadapi ketidakpastian tinggi meskipun Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan gencatan senjata sementara pada 14 Juni 2026.
Direktur Eksekutif sekaligus Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Firman Mochtar menyebut gangguan logistik global, ketegangan geopolitik, serta masih tingginya harga sejumlah komoditas strategis diperkirakan menekan pertumbuhan ekonomi dunia.
BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi sekitar 3,0% pada 2026 dari 3,4% pada tahun sebelumnya, sementara inflasi global diproyeksikan meningkat menjadi 4,4%.
Kondisi itu mendorong bank sentral negara maju mempertahankan kebijakan moneter ketat. Sikap hawkish bank sentral utama dunia, khususnya Federal Reserve, menyebabkan penguatan dolar AS dan mendorong perpindahan modal dari negara berkembang ke negara maju. “Tekanan eksternal tersebut menjadi tantangan bagi seluruh emerging markets, termasuk Indonesia,” ujar Firman.
Meski demikian, Firman menilai fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat. Konsumsi rumah tangga masih terjaga, stimulus fiskal pemerintah berjalan, tingkat keyakinan dunia usaha tetap berada pada zona ekspansi, dan investasi terus meningkat. BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini berada pada kisaran 4,9%-5,7%.