- Istimewa
Summer Davos 2026, Anindya Bakrie Tegaskan RI Punya Modal Besar Jadi Pemain Utama di Era SDV
“Ini menjadi gerakan publik yang mendorong elektrifikasi tidak hanya di Jakarta, tetapi juga di seluruh Indonesia,” ujar Anin optimistis.
Namun, penguasaan teknologi mutakhir ini tidak dapat terjadi dalam waktu singkat secara mandiri, sehingga kolaborasi internasional menjadi faktor krusial untuk mempercepat pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan SDV di Indonesia.
“Pengolahan material baterai dan produksi baterai membutuhkan mitra. Mitra membawa investasi asing langsung, menciptakan lapangan kerja, dan membantu memperkuat stabilitas ekonomi,” ucap Anin menekankan pentingnya kemitraan global.
Melalui adopsi SDV dan kecerdasan buatan, Anin berharap biaya logistik nasional yang saat ini diperkirakan mencapai 17 persen dari Produk Domestik Buto (PDB) dapat dipangkas secara signifikan hingga mendekati angka 5% demi mendongkrak daya saing ekonomi global.
“Ketika berbicara mengenai shared mobility, itu memang penting. Tetapi bagi Indonesia, yang lebih penting adalah bagaimana teknologi dapat menurunkan biaya logistik untuk menggerakkan perekonomian. Itulah yang saya harapkan bisa terwujud dalam tiga tahun ke depan,” pungkas Anin mengakhiri sesinya.
Diskusi panel tingkat tinggi tersebut juga menghadirkan sejumlah pembicara terkemuka, seperti Senior Fellow Salata Institute for Climate and Sustainability Harvard University Elaine Buckberg, Chief Executive Officer Motovis Zhenghua Yu, dan Chief Manufacturing Officer Contemporary Amperex Technology Ni Jun.
Di samping menghadiri forum utama, Anindya Bakrie juga menjalani serangkaian agenda strategis di China, mulai dari bertemu Duta Besar RI untuk China H.E. Djauhari Oratmangun, wawancara khusus dengan China Global Television Network, menghadiri APEC China CEO Forum bersama anggota APEC Business Advisory Council, hingga mengikuti Welcoming & Networking Banquet di China International Supply Chain Expo. (rpi)