- ANTARA
Rupiah Balik Melemah ke Rp17.906 per Dolar AS, Bayang-Bayang Defisit dan Inflasi Bikin Pasar Waspada
Selain faktor eksternal, Ibrahim juga menyoroti perkembangan inflasi yang mulai mendekati batas atas sasaran Bank Indonesia. Meski secara nasional stabilitas harga masih terkendali, tekanan inflasi di sejumlah wilayah, khususnya Sumatra, mulai menunjukkan tren yang perlu diwaspadai.
“Inflasi pada bulan Mei mendekati batas atas target Bank Indonesia, dipimpin oleh kenaikan harga pangan. Secara agregat nasional stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali. Namun, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatra yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lain,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, tingginya inflasi di sejumlah daerah dipicu berbagai faktor, mulai dari belum efisiennya rantai distribusi pangan, pengaruh cuaca, hingga belum sinkronnya pola tanam antardaerah. Situasi tersebut diperburuk oleh kenaikan biaya logistik global dan inflasi barang impor.
“Ketimpangan inflasi dipicu oleh beberapa faktor, seperti rantai tata niaga pangan domestik yang belum efisien, fluktuasi cuaca setempat, serta pola tanam antar-daerah yang belum terkoordinasi. Kondisi tersebut diperparah oleh ancaman eksternal. Kenaikan biaya logistik perkapalan global dan inflasi barang impor juga memengaruhi persoalan ini,” katanya.
Di sisi lain, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh regulasi baru yang memberikan kekebalan hukum bagi pembeli obligasi yang diterbitkan dana investasi negara Danantara. Kebijakan tersebut, menurut Ibrahim, memunculkan kekhawatiran investor terhadap aspek tata kelola dan transparansi.
“Sentimen juga terguncang oleh undang-undang baru yang memberikan kekebalan hukum menyeluruh bagi pembeli obligasi yang diterbitkan oleh dana investasi negara Danantara, yang menimbulkan kekhawatiran tentang tata kelola dan transparansi,” pungkasnya. (agr/rpi)