Rupiah Tertekan, Pasar Dibayangi Konflik AS-Iran hingga Ancaman Kenaikan Suku Bunga The Fed
- Ilustrasi AI/ChatGPT
Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah kembali melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Selain dibebani persoalan fundamental ekonomi domestik, pelaku pasar kini juga mencermati perkembangan konflik Amerika Serikat (AS)-Iran, potensi gangguan jalur pelayaran di Selat Hormuz, hingga peluang kenaikan suku bunga bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed).
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, sentimen eksternal menjadi salah satu faktor yang menekan pergerakan mata uang di pasar keuangan global.
Menurut Ibrahim, perhatian investor tertuju pada kemungkinan pembicaraan antara AS dan Iran di Doha setelah kedua negara kembali terlibat aksi saling serang rudal pada akhir pekan yang menguji keberlangsungan gencatan senjata.
“Pasar mengamati hasil potensi pembicaraan AS-Iran di Doha di tengah serangan rudal akhir pekan dari kedua belah pihak yang menguji gencatan senjata,” kata Ibrahim dalam keterangannya saat dihubungi, Selasa (30/6/2026).
Ia menjelaskan Iran bersama Oman juga akan memulai pembahasan mengenai penataan ulang jalur pelayaran di Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur distribusi minyak paling strategis di dunia.
“Para ahli Iran dan Oman akan memulai pembicaraan tentang pendefinisian ulang jalur transit melalui Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang,” ujarnya.
Mengutip pernyataan Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi, Ibrahim mengatakan Iran akan berupaya menghalangi kapal-kapal yang melintas di luar jalur pelayaran yang telah ditetapkan.
Namun di sisi lain, peluang dimulainya negosiasi damai masih belum jelas. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan belum ada agenda pertemuan dengan pihak Amerika Serikat dalam waktu dekat.
“Namun, juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengatakan tidak akan ada pertemuan negosiasi di tingkat mana pun dengan pihak Amerika dalam beberapa hari mendatang,” katanya.
Ketidakpastian itu juga diperkuat oleh pernyataan Presiden AS Donald Trump.
“Pertemuan di Doha mungkin penting, mungkin juga tidak. Kita akan mengetahuinya,” kata Presiden AS Donald Trump kepada wartawan di Ruang Oval.
Menurut Ibrahim, belum adanya kepastian mengenai perundingan damai menunjukkan rapuhnya kesepakatan gencatan senjata yang dicapai pada 17 Juni.
Load more