news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Rupiah.
Sumber :
  • (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)

Rupiah Melemah Lagi ke Rp17.965 per Dolar AS Jelang Rilis Data Neraca Perdagangan Mei 2026

Rupiah pada Rabu (1/7/2026) melemah lagi ke level Rp17.965 per dolar Amerika Serikat (AS) menjelang rilis data neraca perdagangan Mei 2026. 
Rabu, 1 Juli 2026 - 09:27 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah melemah lagi ke level Rp17.965 per dolar Amerika Serikat (AS) menjelang rilis data neraca perdagangan Mei 2026. 

Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di level Rp17.899 per dolar AS pada Selasa, 30 Juni 2026. 

Posisi rupiah melemah 43 poin dari kurs sebelumnya di level Rp17.856 per dolar AS pada perdagangan Senin, 29 Juni 2026.

Perdagangan di pasar spot pada Rabu, 1 Juli 2026 hingga pukul 09.01 WIB rupiah ditransaksikan di Rp17.965 per dolar AS.

Posisi rupiah melemah 58 poin atau 0,32 persen dari posisi sebelumnya di level Rp17.907 per dolar AS. Meski demikian, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diprediksi masih akan bergerak fluktuatif. 

Dalam riset hariannya pada Rabu (1/7/2026), Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan pasar menunggu data neraca perdagangan di bulan Mei 2026 dimana sebelumnya mengalami defisit transaksi berjalan pada April dan anggaran yang melebar.

Surplus perdagangan yang menyusut dinilai akan memberikan tekanan terhadap current account deficit (CAD) pada tahun ini.

"Kondisi tersebut berpotensi memperlemah ketahanan eksternal dan meningkatkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah jika tidak diimbangi oleh masuknya aliran modal asing," terangnya. 

Di sisi lain, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat surplus perdagangan Indonesia sampai April 2026 hanya US$5,64 miliar—jauh lebih rendah dibandingkan periode Januari-April 2025 yang masih berada di atas US$10 miliar.

Penyusutan surplus perdagangan tersebut akan berdampak langsung pada pelebaran defisit transaksi berjalan dimana pada kuartal I-2026 transaksi berjalan Indonesia sudah mencatat defisit sekitar US$4 miliar.

Inflasi pada bulan Mei 2026 mendekati batas atas target Bank Indonesia, dipimpin oleh kenaikan harga pangan.

Adapun stabilitas harga dan konsumsi masih terkendali secara agregat nasional.

Akan tetapi, pergerakan inflasi di beberapa daerah menunjukkan alarm, khususnya Sumatera yang mencatatkan tekanan harga relatif lebih tinggi daripada wilayah lainnya.  

Ketimpangan inflasi dipicu oleh beberapa faktor seperti rantai tata niaga pangan domestik yang belum efisien, fluktuasi cuaca setempat serta pola tanam antar-daerah yang belum terkoordinasi.

Kondisi tersebut, sambung dia, diperparah oleh ancaman eksternal. Kenaikan biaya logistik perkapalan global dan inflasi barang impor juga memengaruhi persoalan ini.  

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

04:04
04:31
05:07
05:01
02:23
17:37

Viral