news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Esti Widya Putri dan Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira.
Sumber :
  • Kemendag.

Indonesia-Maroko Percepat Perjanjian Dagang! Bidik Pasar ASEAN, Afrika, hingga Eropa

Indonesia dan Maroko mempercepat upaya penguatan hubungan ekonomi dengan mendorong penyelesaian Preferential Trade Agreement (PTA) dan memperluas kerjasama investasi.
Sabtu, 11 Juli 2026 - 17:09 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com – Indonesia dan Maroko mempercepat upaya penguatan hubungan ekonomi dengan mendorong penyelesaian Preferential Trade Agreement (PTA) dan memperluas kerja sama investasi

Langkah ini dinilai strategis karena kedua negara memiliki posisi geografis yang saling melengkapi sebagai pintu masuk menuju kawasan ASEAN, Afrika, Eropa, dan Mediterania.

Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) RI Dyah Roro Esti Widya Putri dengan Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira di Jakarta. 

Pertemuan itu membahas percepatan kerja sama perdagangan, investasi, serta peningkatan keterlibatan sektor swasta kedua negara.

Wamendag Roro menilai, potensi perdagangan Indonesia dan Maroko masih jauh lebih besar dibandingkan realisasi saat ini. Sebagai negara dengan pasar yang saling melengkapi, kedua pihak memiliki peluang untuk memperluas akses produk dan investasi di kawasan strategis masing-masing.

“Di dalam ASEAN, Indonesia merupakan mitra dagang terbesar ketiga Maroko. Mengingat ukuran ekonomi kedua negara dan pasar yang saling melengkapi, kami meyakini masih ada ruang yang cukup besar untuk lebih memperluas perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Maroko,” jelas Roro, dalam keterangannya, Sabtu (11/7/2026).

Indonesia menawarkan akses ke pasar ASEAN yang dihuni lebih dari 680 juta penduduk. Sebaliknya, Maroko menjadi gerbang penting menuju pasar Afrika, Eropa, dan kawasan Mediterania. Kombinasi tersebut dinilai dapat membuka jalur perdagangan baru sekaligus memperkuat posisi kedua negara dalam rantai pasok global.

Untuk mempercepat integrasi ekonomi, Indonesia juga mendorong aktivasi kembali perundingan PTA yang sempat tertunda. Menurut Roro, penandatanganan Mutual Recognition Agreement (MRA) mengenai Jaminan Produk Halal antara Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal (BPJPH) Indonesia dan Institut Marocain de Normalisation (IMANOR) Maroko pada 20 Mei 2026 menjadi fondasi penting untuk melanjutkan negosiasi tersebut.

“Indonesia berharap dapat segera mengaktifkan kembali negosiasi tersebut. Pasalnya, Preferential Trade Agreement (PTA) dan MRA tentang Jaminan Produk Halal akan memberikan dasar yang kuat untuk kepercayaan yang lebih dalam dan kerja sama yang lebih erat antara pelaku usaha kedua negara sehingga perdagangan bilateral dapat berkembang,” ujar Roro.

Perundingan Indonesia-Maroko PTA sendiri telah dimulai sejak penandatanganan kesepakatan pada 28 Juni 2018 di Fes, Maroko. Sebagian besar substansi perjanjian telah disepakati, namun proses negosiasi sempat tertunda karena kedua negara memprioritaskan kerja sama di bidang sertifikasi halal.

Di sisi lain, Wakil Perdagangan Luar Negeri Maroko Omar Hejira menyatakan dukungannya terhadap percepatan penyelesaian perjanjian dagang tersebut. Ia berharap pembahasan dapat kembali dimulai pada awal 2027 sekaligus mengajak pelaku usaha Indonesia memperluas investasi ke Maroko yang akan menjadi salah satu tuan rumah Piala Dunia 2030 bersama Spanyol dan Portugal.

“Kami mengharapkan perundingan perjanjian perdagangan dapat kembali dimulai awal tahun 2027. Kami juga mengundang Indonesia di Marrakesh, salah satu kota perdagangan besar, untuk melihat sendiri situasi Maroko sebagai gerbang ke Afrika,” ujar Omar.

Optimisme tersebut didukung oleh tren perdagangan bilateral yang terus meningkat. Total perdagangan Indonesia dan Maroko pada 2025 mencapai US$235 juta, meningkat 33,04 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara selama Januari–Mei 2026, nilai perdagangan telah mencapai US$158,1 juta, atau tumbuh 41,95 persen secara tahunan.

Pada 2025, ekspor Indonesia ke Maroko tercatat US$154,9 juta, didominasi kopi, ban pneumatik baru, lemak dan minyak hewani maupun nabati, margarin dan olahan makanan, serta batu bara. Sebaliknya, impor dari Maroko mencapai US$80,1 juta, terutama berupa pupuk nitrogen dan fosfat, aluminium mentah, pakaian wanita, serta berbagai bahan baku industri.

Kinerja tersebut menghasilkan surplus perdagangan Indonesia sebesar US$74,8 juta. Di bidang investasi, arus modal Maroko ke Indonesia juga menunjukkan peningkatan signifikan. Investasi langsung (FDI) Maroko naik dari US$1,4 juta pada 2024 menjadi sekitar US$5,4 juta pada 2025. Secara kumulatif, investasi Maroko di Indonesia sepanjang 2021–2025 mencapai sekitar US$8,4 juta yang tersebar dalam 122 proyek. (agr/cmi)
 

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

09:58
06:13
07:04
05:40
01:08
07:17

Viral