news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Menko Perekonomian Airlangga Hartarto..
Sumber :
  • ekon.go.id

Airlangga Beberkan Strategi RI Jadi Magnet Investasi di Tengah Gejolak Global, Dubes dan Kadin Pegang Peran Kunci

Menko Airlangga mendorong kolaborasi dunia usaha dan para dubes untuk memperkuat diplomasi ekonomi, menarik investasi, dan menjaga pertumbuhan di tengah krisis global.
Minggu, 12 Juli 2026 - 15:58 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mendorong pelibatan aktif dunia usaha dan para duta besar negara sahabat untuk memperkuat diplomasi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian ekonomi global.

Hal tersebut dinilai penting agar kerja sama antarpemerintah dapat diwujudkan menjadi investasi, perdagangan, dan penciptaan lapangan kerja yang mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

“Ke depan, akan banyak tantangan dalam rantai pasok serta lapangan kerja. Namun, di bawah arahan Presiden Prabowo, saya pikir adopsi teknologi selaras dengan fokus kemandirian sumber daya Indonesia dalam memajukan kedaulatan pangan, kedaulatan energi, dan sejalan dengan roadmap transformasi digital yang jelas,” kata Airlangga ketika memberikan keynote speech dalam acara Kadin Indonesia Monthly Economic Diplomatic Breakfast bertema “Beyond Uncertainty: Building Indonesia’s Next Economy”, di Jakarta, dikutip Minggu (12/7/2026).

Peluang Investasi Strategis di Indonesia

Sudah umum diketahui bahwa Indonesia memiliki sumber daya mineral yang penting dan demografi muda yang melek teknologi. Upaya membangun infrastruktur dan ekosistem yang dibutuhkan untuk pengemasan semikonduktor canggih, pengujian, dan AI data center, juga sedang terus dilakukan.

Berdasarkan data KORIKA, Indonesia merupakan pasar AI potensial terbesar ke-4 di Asia setelah Tiongkok, India, dan Jepang, dengan nilai pasar sekitar USD70 miliar dan mewakili 6,4% dari potensi pasar AI regional.

Sehingga, pertumbuhan ini perlu didukung oleh data center kuat sebagai tulang punggung infrastruktur AI. Diketahui bahwa saat ini ada 182 data center di Indonesia, dengan sebagian besar berlokasi di Jakarta (94 data center), dan Batam (16 data center).

Guna memajukan ekonomi digital dan AI data center, maka membutuhkan kapasitas jaringan listrik yang besar. Menko Airlangga mengklaim Indonesia siap memenuhi permintaan ini secara berkelanjutan dengan memperluas arsitektur energi terbarukan, yang ditargetkan akan mengerahkan hingga 100 GW kapasitas energi surya dan campuran energi terbarukan selama beberapa dekade mendatang.

“Dari fiber optic itu kita punya landing point ke regional countries, seperti dengan Singapura itu akan ada peresmian juga kerja sama landing point yang poin ke-3 atau ke-4 di Batam dan Singapura. Di samping itu, kita juga punya landing point di Bitung untuk ke Amerika, jadi itu sangat potensial untuk pengembangan data center,” ungkap Menko Airlangga.

Bersamaan dengan itu, Indonesia baru saja meluncurkan program Biodiesel B50 untuk mengurangi emisi karbon secara drastis di sektor transportasi. Implementasi B50 juga telah berdampak nyata melalui penghematan devisa hingga Rp 177 triliun, dan mengurangi emisi karbon sekira 44 juta ton setiap tahunnya.

Peluang serupa juga terlihat di industri semikonduktor. Pasalnya, permintaan global untuk produk semikonduktor diproyeksikan mencapai USD1 triliun pada 2030, dan Indonesia juga memiliki permintaan pasar domestik yang signifikan untuk produk ini.

Oleh karena itu, Indonesia bertujuan untuk mencapai swasembada chip semikonduktor melalui pengembangan desain chip dan kemampuan Perakitan, Pengujian, dan Pengemasan (ATP) di dalam negeri.

Berdasarkan survei Japan External Trade Organization (JETRO) tahun 2025 yang dilakukan kepada perusahaan Indonesia dan ASEAN memperlihatkan hasil bahwa Indonesia mempunyai dunia bisnis yang paling stabil dan menguntungkan jika dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya. Di masa depan, Indonesia tetap sepenuhnya terbuka, transparan, dan bersemangat untuk menerima foreign direct investment.

Indonesia dengan cepat menyelesaikan beberapa Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif (CEPA) dan secara agresif memajukan proses aksesi OECD untuk menyelaraskan kerangka peraturan di dalam negeri dengan praktik terbaik internasional. Lebih jauh, kita telah menempatkan aksesi kita ke Perjanjian Komprehensif dan Progresif untuk Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP) sebagai prioritas strategis utama.

“Tadi saya sampaikan kepada para Duta Besar bahwa ada beberapa MOU yang dihasilkan dalam kunjungan Bapak Presiden Prabowo sehingga kami berharap mereka juga ikut membantu Indonesia untuk mengawal realisasi daripada investasi. Karena, ada pendapat yang mengatakan bahwa kita perlu bekerja bersama untuk menavigasi ketidakpastian dalam ekonomi global. Mari kita manfaatkan kekuatan teknologi, energi hijau, dan kerja sama ekonomi bersama untuk membangun masa depan yang sejahtera bagi semua bangsa,” tutur Menko Airlangga.

Di sisi lain, Ketua Umum Kadin Indonesia Anindya Novyan Bakrie menjelaskan bahwa diskusi yang terjadi dalam acara hari ini menjadi sangat penting.

Pasalnya, saat ini perekonomian global tidak hanya lebih terhubung antar satu sama lain, tetapi juga jauh lebih rentan karena berbagai factor. Misalnya dari persoalan rantai pasok, arus investasi, kebijakan industri, teknologi, keamanan energi, keamanan pangan, dan geopolitik.

“Bagi Indonesia, ini berarti diplomasi ekonomi tidak lagi dapat terpisah dari dunia usaha. Hubungan antar Pemerintah membutuhkan eksekusi antar bisnis di baliknya," ujar Anindya Bakrie.

"Perjanjian tingkat tinggi harus diubah menjadi perdagangan, investasi, dan pada akhirnya menjadi lapangan kerja. Kadin Indonesia siap menjadi jembatan antara Pemerintah, dunia usaha, kamar dagang daerah, dan mitra internasional kita,” pungkasnya. (rpi)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

09:58
06:13
07:04
05:40
01:08
07:17

Viral