- Antara
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp18.091 per Dolar AS, Sentimen Positif dari S&P Jadi Pemicu
Jakarta, tvOnenews.com – Nilai tukar rupiah berhasil ditutup menguat pada perdagangan Selasa (14/7/2026), seiring meningkatnya optimisme pelaku pasar setelah S&P Global Ratings mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level layak investasi (investment grade) dengan prospek stabil.
Penilaian positif tersebut menjadi sentimen yang mampu menopang kepercayaan investor di tengah tekanan ekonomi global dan gejolak pasar keuangan domestik.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, pada perdagangan sore ini rupiah ditutup menguat 19 poin ke level Rp18.091 per dolar Amerika Serikat (AS), setelah sebelumnya sempat menguat hingga 25 poin dari posisi penutupan sebelumnya di Rp18.109 per dolar AS.
“Pada perdagangan sore ini, mata uang rupiah ditutup menguat 19 poin sebelumnya sempat menguat 25 poin dilevel Rp18.091 dari penutupan sebelumnya di level Rp18.109,” ujar Ibrahim Assuaibi saat dihubungi tvOnenews.com, Selasa (14/7/2026).
Meski demikian, Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih akan diwarnai volatilitas akibat berbagai sentimen eksternal. Rupiah diproyeksikan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.090 hingga Rp18.140 per dolar AS.
“Sedangkan untuk perdagangan besok, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah direntang Rp18.090-Rp18.140,” tuturnya.
Penguatan rupiah pada perdagangan hari ini tidak lepas dari respons positif pasar terhadap keputusan S&P Global Ratings yang kembali mempertahankan sovereign credit rating Indonesia di level BBB dengan prospek stabil.
Lembaga pemeringkat internasional tersebut juga memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh sekitar 5 persen per tahun dalam tiga tahun ke depan.
Menurut S&P, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap kuat karena didukung kebijakan makroekonomi yang dinilai prudent, serta posisi utang pemerintah dan utang luar negeri yang relatif lebih rendah dibandingkan negara-negara lain dengan peringkat serupa.
“Pertumbuhan ekonomi ini didorong oleh belanja fiskal dan kebijakan penghiliran (hilirisasi), yang tidak lepas dari sentimen terhadap eksekusinya,” tukas Ibrahim.
Di sisi lain, S&P mengingatkan bahwa prospek positif tersebut masih dibayangi tantangan eksternal. Meskipun ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,6 persen pada kuartal I 2026, gejolak pasar keuangan sepanjang semester pertama tahun ini masih cukup besar.
“Pasar saham yang paling mengalami tekanan akibat kehilangan lebih dari 30 persen kapitalisasi pasar. Belum lagi, nilai tukar rupiah juga turun sekitar 7 persen terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada periode yang sama,” jelas dia.
Untuk keseluruhan tahun 2026, S&P memperkirakan ekonomi Indonesia masih mampu tumbuh sebesar 5,1 persen.
Namun, laju pertumbuhan diperkirakan akan mengalami moderasi pada kuartal-kuartal berikutnya seiring masih tingginya ketidakpastian ekonomi global dan bertahannya suku bunga domestik pada level tinggi. (agr/cmi)