news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

ilustrasi rupiah.
Sumber :
  • tvOnenews.com/Wildan M.

Rupiah Melemah ke Rp18.013 per Dolar AS Usai Rilis soal Ekspansi PMI Manufaktur dan Deflasi Juli 2026

Rupiah melemah ke Rp18.013 per dolar AS usai rilis soal ekspansi PMI Manufaktur dan deflasi Juli 2026. 
Selasa, 4 Agustus 2026 - 09:30 WIB
Reporter:
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Rupiah melemah ke Rp18.013 per dolar Amerika Serikat (AS) usai rilis soal ekspansi PMI Manufaktur dan deflasi Juli 2026. 

Berdasarkan data Jisdor BI, kurs rupiah berada di level Rp17.991 per dolar AS pada Senin, 3 Agustus 2026. 

Posisi rupiah menguat 67 poin dari kurs sebelumnya di level Rp18.058 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 31 Juli 2026.

Perdagangan di pasar spot pada Selasa, 4 Agustus 2026 hingga pukul 09.00 WIB rupiah ditransaksikan di Rp18.013 per dolar AS.

Posisi rupiah melemah 16 poin atau 0,09 persen dari posisi sebelumnya di level Rp 17.997 per dolar AS.

Dalam riset hariannya, Pengamat Ekonomi dan Pasar Uang Ibrahim Assuaibi mengatakan aktivitas manufaktur Indonesia kembali memasuki fase ekspansi pada Juli 2026 setelah sempat terkontraksi pada bulan sebelumnya.

Akan tetapi, sambungnya, pemulihan sektor industri dinilai masih berlangsung secara bertahap karena kenaikan biaya bahan baku, pelemahan permintaan ekspor dan kehati-hatian pelaku usaha dalam membeli bahan baku sehingga masih membatasi laju pertumbuhan. 

Berdasarkan laporan S&P Global Indonesia, PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,2 pada Juli 2026 dari posisi 46,9 pada Juni 2026. 

Angka di atas level 50 menunjukkan bahwa kondisi operasional manufaktur kembali membaik pada awal kuartal III-2026.

Perbaikan tersebut ditopang oleh kembalinya pertumbuhan volume produksi setelah empat bulan mengalami kontraksi.

Akan tetapi, laju kenaikannya masih relatif tipis. S&P Global mencatat peningkatan produksi didorong oleh mulai membaiknya kondisi permintaan dan meningkatnya kepercayaan pelanggan, meski kenaikan harga bahan baku disebut masih menahan laju ekspansi. 

Di samping itu, Indonesia mencatatkan deflasi sebesar 0,14 persen month-to-month (mtm) setelah sebelumnya mencatat inflasi 0,44 persen pada Mei 2026.

Pada Juli 2026, BPS mencatat Indonesia inflasi 2,88 persen secara tahunan dan secara tahun kalender terjadi inflasi 1,65 persen year-to-date (ytd) akibat penurunan Indeks Harga Konsumen dari 111,89 pada Juni 2026 menjadi 111,73 pada Juli 2026.

Kelompok pengeluaran penyumbang terbesar atau faktor penyebab deflasi Juli 2026 kelompok makanan, minuman dan tembakau dengan deflasi 0,89 persen dan dengan andil deflasi 0,26 persen.

Kelompok penahan deflasi terbesar adalah transportasi dengan inflasi sebesar 0,52 persen dan andil inflasi 0,06 persen. 

Berita Terkait

1
2 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

02:40
01:28
01:58
25:00
02:02
01:19

Viral