- Shutterstock
Iran-Oman Rebutan Selat Hormuz, Harga Minyak Diprediksi Tembus US$83 per Barel
Jakarta, tvOnenews.com – Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi menilai, dinamika geopolitik di Selat Hormuz menjadi salah satu faktor utama yang akan menentukan arah harga minyak, di tengah upaya Iran dan Oman mencapai kesepakatan terkait pengendalian jalur pelayaran strategis tersebut.
Ibrahim memperkirakan harga minyak mentah akan bergerak pada rentang US$65,70 hingga US$83,30 per barel. Level US$65,70 menjadi area support, sedangkan US$83,30 merupakan resistance.
“Harga minyak mentah kemungkinan besar dalam sepekan ini range-nya itu adalah di US$65,70 per barel, itu support-nya. Kemudian resisten-nya di US$83,30 per barel,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Minggu (9/8/2026).
Selain minyak, Ibrahim memperkirakan indeks dolar AS juga bergerak dalam rentang tertentu. Level support diproyeksikan berada di 98,90, sedangkan resistance di 100,50.
“Kemudian untuk indeks dolarnya sendiri, kemungkinan di 98,90 itu support-nya, resisten-nya adalah 100,50 dolar per barel,” ujarnya.
Menurut Ibrahim, pasar minyak saat ini mencermati perkembangan negosiasi antara Iran dan Oman terkait pengendalian Selat Hormuz. Kesepakatan tersebut dinilai berpotensi menjadi sentimen penting bagi pasar energi global mengingat posisi Selat Hormuz sebagai jalur strategis perdagangan minyak.
“Ini tentang masalah geopolitik di mana adanya kesepakatan Iran dengan Oman, ya, mengenai pengendalian Selat Hormuz, ya, yang kemungkinan besar akan segera tercapai satu kesepakatan,” tegasnya.
Namun, situasi di kawasan belum sepenuhnya stabil. Ibrahim menyebut Iran masih melakukan serangan terhadap kapal-kapal Uni Emirat Arab (UEA) yang melintas di kawasan Selat Hormuz. Kondisi tersebut terjadi karena kesepakatan pengendalian jalur tersebut antara Iran dan Oman belum tercapai.
“Dan ini pun juga sudah dilaporkan ke Amerika. Walaupun, ya, secara bersamaan pun juga Iran melakukan penyerangan, ya, terhadap kapal-kapal Uni Emirat Arab di wilayah Selat Hormuz,” kata dia.
Ia menjelaskan, kapal-kapal tanker UEA telah melakukan penyeberangan melalui Selat Hormuz ketika kesepakatan antara Iran dan Oman belum terealisasi. Hal itu kemudian memicu serangan dari Iran.
“Kenapa? Karena belum adanya kesepakatan yang terjadi antara Iran dengan Oman. Kemudian kapal-kapal tanker dari Uni Emirat sudah melakukan penyeberangan melalui Selat Hormuz sehingga apa? Sehingga mendapatkan serangan dari Iran,” ujarnya.
Meski terjadi serangan terhadap kapal tanker, Ibrahim mengatakan respons harga minyak justru tidak menunjukkan lonjakan signifikan. Menurutnya, perhatian Amerika Serikat saat ini lebih tertuju pada kemungkinan tercapainya perjanjian antara Iran dan Oman mengenai pengendalian Selat Hormuz.
“Nah, serangan dari Iran ini rupanya tidak membuat harga minyak itu kembali mengalami kenaikan, tetapi Amerika Serikat fokus terhadap perjanjian yang ada di ini antara Iran dan Oman untuk pengendalian Selat Hormuz,” ungkap Ibrahim.
Di sisi lain, Iran disebut memiliki kepentingan lain dalam perkembangan konflik dengan Amerika Serikat. Ibrahim mengatakan Iran menginginkan agar AS tidak melakukan serangan terhadap fasilitas-fasilitas yang berada di wilayah Iran.
“Nah, di sisi lain pun juga kita lihat bahwa keinginan dari Iran sendiri adalah, ya, bahwa keinginan dari Iran sendiri semua yang diinginkan oleh Iran itu adalah tidak adanya Amerika, ya, melakukan penyerangan terhadap apa? Terhadap fasilitas yang dimiliki oleh Iran,” tukas dia.
Situasi tersebut juga berkaitan dengan pembahasan anggaran perang di Amerika Serikat. Ibrahim menyebut Kongres AS masih akan membahas pembiayaan perang dalam waktu dekat.
“Nah, sehingga apa? Ini yang diinginkan oleh Iran, ya, terhadap Amerika. Walaupun Amerika sendiri saat ini terus menggodok tentang masalah anggaran, anggaran perang, ya, di Kongres yang kemungkinan besar dalam minggu depan itu masih akan dibahas, ya, tentang pembiayaan untuk perang,” pungkasnya. (agr/rpi)