- Pixabay
Investasi Tumbuh Signifikan, Laba Perusahaan Reasuransi Melonjak 544 Persen
Jakarta, tvOnenews.com - Kinerja PT Reasuransi Indonesia Utama (Persero) atau Indonesia Re mencatat perbaikan signifikan sepanjang 2025. Perusahaan reasuransi pelat merah itu membukukan laba bersih Rp176,96 miliar, melonjak dibandingkan capaian Rp27,46 miliar pada 2024.
Dengan demikian, laba bersih Indonesia Re meningkat sekitar 544 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, total aset perusahaan tercatat mencapai Rp10,28 triliun.
Perbaikan kinerja tersebut berlangsung di tengah penerapan standar akuntansi baru, yakni PSAK 117 atau yang mengadopsi IFRS 17. Penerapan standar ini turut memengaruhi cara perusahaan menyajikan pendapatan, liabilitas, serta laba berdasarkan jasa perlindungan yang telah diberikan (service provided).
Indonesia Re menjelaskan, penerapan PSAK 117 tidak mengubah fundamental bisnis maupun arus kas perusahaan. Perubahan lebih berkaitan dengan metode pencatatan dan penyajian laporan keuangan agar lebih transparan dan selaras dengan praktik akuntansi internasional.
Dari sisi bisnis, perbaikan kinerja didukung oleh upaya perusahaan memperketat seleksi risiko dan meningkatkan disiplin dalam proses underwriting. Pada lini reasuransi umum, Indonesia Re mengoptimalkan penggunaan pricing tools berbasis data sekaligus memperkuat tata kelola underwriting dan contract wording.
Penyesuaian harga, terms dan conditions juga dilakukan dengan mempertimbangkan karakteristik risiko serta treaty. Langkah tersebut diarahkan untuk menjaga kualitas portofolio dan memastikan risiko yang diterima memiliki tingkat profitabilitas yang terukur.
Sementara pada bisnis reasuransi jiwa, perusahaan lebih menitikberatkan pada kualitas portofolio melalui experience study, Robust Pricing, serta prinsip prudent underwriting. Evaluasi terhadap struktur retensi, ketentuan reasuransi dan profitabilitas portofolio juga dilakukan secara berkala, khususnya untuk bisnis dengan eksposur mortalitas jangka panjang.
Direktur Utama Indonesia Re, Robbi Yanuar Walid, mengatakan peningkatan kinerja tersebut dicapai di tengah tantangan yang dihadapi perusahaan sepanjang tahun lalu.
“Seluruh strategi yang kami jalankan berorientasi pada kualitas portofolio, pengelolaan risiko yang prudent, serta penguatan kapabilitas organisasi," ujar Robbi dalam keterangannya, dikutip Jumat (21/8/2026).
Hasil Investasi Ikut Naik
Selain dari aktivitas bisnis reasuransi, kinerja investasi turut memberikan kontribusi terhadap capaian perusahaan. Indonesia Re mencatatkan hasil investasi sebesar Rp427,28 miliar pada 2025, naik dari Rp335,78 miliar pada tahun sebelumnya.
Pengelolaan investasi dilakukan dengan sejumlah pendekatan, antara lain prudent investment, risk-based investment, portfolio optimization, sustainable investing, serta penguatan Asset Liability Management (ALM).
Strategi tersebut diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara risiko dan tingkat imbal hasil, sekaligus menyesuaikan portofolio dengan kebutuhan liabilitas perusahaan.
Pada sisi retrosesi, Indonesia Re juga melakukan penyesuaian struktur perlindungan risiko berdasarkan kebutuhan kapasitas, risk appetite, serta kebijakan akseptasi. Perusahaan menyebut penyempurnaan struktur retrosesi non-proporsional dilakukan untuk meningkatkan efisiensi biaya perlindungan terhadap risiko dengan frekuensi rendah tetapi memiliki dampak besar.
Di sepanjang 2025, perusahaan juga mengoptimalkan penggunaan proportional financial year quota-share pada portofolio Fire & Engineering untuk mendukung pengelolaan modal.
Dari sisi kesehatan keuangan, tingkat solvabilitas Indonesia Re tercatat 133,38% pada 2025. Angka tersebut meningkat tipis dari 132,83% pada 2024 dan menunjukkan posisi permodalan perusahaan masih berada di atas ketentuan yang berlaku.
Penguatan Teknologi dan Data
Transformasi perusahaan sepanjang 2025 juga mencakup aspek teknologi dan pengelolaan data. Indonesia Re melakukan modernisasi pusat data, infrastruktur keamanan, serta memperkuat Security Operations Center (SOC) dan Disaster Recovery Center (DRC).
Perusahaan juga memperbarui platform Human Capital Management System (HCMS), mengembangkan catastrophe modeling melalui Perils Hub, serta melanjutkan pengembangan RIU Connect 2.0.
Penguatan data governance dan kualitas data turut dilakukan untuk mendukung implementasi PSAK 117. Di sisi keamanan informasi dan tata kelola layanan teknologi, Indonesia Re mempertahankan sertifikasi ISO 20000 dan ISO 27001.
Sementara itu, Indonesia Re Institute menjalankan sejumlah program pengembangan kompetensi dan riset yang melibatkan regulator, akademisi, pemerintah, serta pelaku industri. Topik yang dikaji antara lain catastrophe risk, asuransi parametrik, non-medical data analytics, dan penguatan retensi industri asuransi nasional.
Robbi mengatakan transformasi yang dilakukan perusahaan tidak hanya ditujukan untuk memperbaiki kinerja jangka pendek, tetapi juga memperkuat fondasi bisnis ke depan.
“Transformasi yang kami jalankan bukan hanya berhasil memberikan dampak positif terhadap kinerja perusahaan saat ini, tetapi juga mempersiapkan Indonesia Re menjadi perusahaan reasuransi nasional yang semakin kuat, efisien, dan mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi industri, serta terus berbenah dalam aspek layanan kepada mitra dan ceding company sebagai bagian dari transformasi menyeluruh," pungkasnya. (cmi)