- Parlementaria DPR
DPR: Cuma di Indonesia Orang Miskin Pakai Kasta, Miskin 1, Miskin 2
Jakarta, tvOnenews.com - Anggota Komisi X DPR RI Bonnie Triyana menyoroti soal beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah yang kerap terhalang syarat latar belakang ekonomi sosial.
Hal itu disampaikan dalam rapat Komisi X DPR dengan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek) di Gedung DPR, Jakarta Pusat, Senin (7/9/2026).
Dia menilai pengelompokan tingkat kesejahteraan masyarakat pada sistem desil menghambat masyarakat yang kurang mampu untuk mengakses pendidikan tinggi.
“KIP ini banyak sekali terbentur pada syarat terutama sekali latar belakang sosial ekonomi keluarga yang disebut desil itu tadi, Pak,” kata Bonnie dalam rapat.
Dia mengatakan sistem desil seperti itu baru kali ini diterapkan di Indonesia, di mana ada klasifikasi kelompok bagi masyarakat miskin.
“Mungkin saya pikir cuma di Indonesia tuh ada orang miskin pakai kasta gitu ya Pak ya, miskin 1, miskin 2, miskin 3, miskin 4, desil 1, 2, 3, 4,” ujar Bonnie.
Padahal, kata Bonnie, dalam konstitusi diatur dengan sangat jelas bahwa mengakses pendidikan adalah hak bagi masyarakat.
“Ketika seseorang dari keluarga miskin yang entah karena kesalahan administrasi pencatatan segala macam dia desilnya jadi naik kelas, dia gagal, dia terbentur sehingga tidak mendapatkan bantuan dari negara untuk menempuh kuliah,” ungkapnya.
Terkait hal ini, dia meminta Mendiktisaintek turun tangan menyelesaikan masalah terkait kesalahan pendataan desil tersebut. Pasalnya, banyak mahasiswa yang terancam gagal mendapat beasiswa akibat kesalahan data desil.
“Kita dengar beberapa waktu lalu di Unpad ada sekian banyak mahasiswa yang terancam batal gara-gara sudah diterima, desilnya tidak sesuai dengan syarat yang telah diajukan, ditentukan untuk mendapatkan KIP Kuliah,” ujar Bonnie.
Dia mengaku mendapat banyak aduan dari masyarakat bahwa desil yang ditetapkan pemerintah tidak sesuai dengan kondisi ekonomi yang sebenarnya.
“Akhirnya banyak sekali orang, banyak sekali anak-anak kita yang tidak bisa melanjutkan kuliah,” kata Bonnie.
“Mestinya persoalan-persoalan ini tidak menjadi penghalang bagi anak-anak muda kita untuk menempuh kuliah, Pak. Masih banyak anak-anak muda kita ingin kuliah namun karena keadaan ekonominya tidak mampu maka dia terhalang untuk melanjutkan kuliah,” tandasnya. (saa/rpi)