- Antara
Minyak Dunia Tembus US$100 Bikin Rupiah Tertekan, Geopolitik Dunia Jadi Biang Kerok
Jakarta, tvOnenews.com - Harga minyak mentah dunia melonjak signifikan pada perdagangan Kamis (10/9/2026) dengan harga Brent crude oil menembus level US$100 per barel.
Kenaikan harga minyak tersebut terjadi di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di sejumlah kawasan yang turut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan selain Brent yang telah berada di atas US$100 per barel, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) juga telah menembus US$96 per barel dan berpotensi kembali naik hingga US$98 per barel.
“Hari ini ya kita melihat bahwa harga minyak mentah dunia mengalami kenaikan yang cukup signifikan, terutama dalam Brent crude oil sudah di atas US$100 per barel,” kata Ibrahim saat dihubungi tvOnenews.com, Kamis (10/9/2026).
“Kemudian WTI crude oil pun juga sudah di atas US$96, bahkan kemungkinan akan mencapai di US$98 per barel,” sambungnya.
Menurut Ibrahim, lonjakan harga minyak tidak terlepas dari sejumlah faktor fundamental yang memperbesar gejolak di pasar global. Salah satu faktor utama yang menjadi sorotan adalah eskalasi konflik geopolitik, baik di Eropa Timur maupun Timur Tengah.
“Nah, apa yang membuat harga minyak mentah naik, kemudian rupiah pun juga dibuka melemah? Ada beberapa fundamental yang mempengaruhi gejolak yang membuat harga minyak mentah mengalami kenaikan, kemudian rupiah pun juga mengalami pelemahan,” ujarnya.
Ibrahim menjelaskan, di Eropa Timur, perang Rusia-Ukraina yang terus berlanjut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global.
Serangan antara kedua negara masih terjadi, termasuk serangan terhadap infrastruktur yang berkaitan dengan produksi dan pengolahan minyak Rusia.
“Salah satunya adalah tentang masalah geopolitik, baik di Eropa Timur maupun di Timur Tengah yang terus terjadi. Kita lihat bahwa di Eropa Timur, Rusia dan Ukraina terus melakukan penyerangan,” kata dia.
“Rusia melakukan penyerangan terhadap kota-kota besar di Ukraina, kemudian Ukraina pun juga melakukan penyerangan terhadap wilayah-wilayah Rusia,” lanjut Ibrahim.
Eskalasi tersebut, menurut Ibrahim, semakin memperbesar tekanan terhadap produksi minyak Rusia.