- tvOnenews.com/Julio Trisaputra
Rupiah Tertekan 7 Hari Beruntun, Industri Mulai Waspadai Lonjakan Biaya Impor
Industri Manufaktur Hadapi Tekanan Bahan Baku Impor
Pelemahan rupiah mulai menjadi perhatian sektor riil, khususnya industri yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Direktur Eksekutif Indef Esther Sri Astuti menilai depresiasi rupiah memberikan tekanan langsung terhadap industri manufaktur nasional. Ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat biaya produksi meningkat ketika nilai tukar rupiah melemah.
Di sisi lain, pelaku usaha menghadapi keterbatasan untuk menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat masih rendah.
“Pelaku usaha sulit menaikkan harga jual produk di tengah rendahnya daya beli masyarakat, sehingga margin keuntungan tertekan,” kata Esther, Kamis, 17 September 2026.
Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu panjang, perusahaan berpotensi mengambil langkah efisiensi operasional.
“Penurunan kinerja keuangan berpotensi memicu perusahaan untuk menahan rekrutmen baru atau melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) demi kelangsungan usaha,” tegasnya.
Industri Tekstil Menunggu Arah Rupiah
Tekanan nilai tukar juga dirasakan industri tekstil. Selain menghadapi kenaikan harga bahan baku impor seperti polyester, industri tersebut juga berhadapan dengan pelemahan permintaan ekspor.
Ketidakpastian ekonomi global juga membuat konsumen di luar negeri cenderung menahan belanja. Kondisi itu berpotensi semakin menekan permintaan ekspor produk tekstil.
Pelaku usaha tekstil kini masih memantau perkembangan nilai tukar sebelum menentukan volume produksi berikutnya..
China Soroti Stabilitas Yuan
Di tingkat regional, People's Bank of China (PBOC) menegaskan bahwa pergerakan mata uang tidak akan dimanfaatkan semata-mata untuk memperoleh keuntungan perdagangan.
Wakil Gubernur PBOC Lu Lei mengatakan China berkomitmen menjaga penetapan nilai tukar secara rasional dan tidak menjadikan depresiasi mata uang sebagai strategi untuk memperoleh keuntungan kompetitif perdagangan.
“China tidak membutuhkan dan tidak memiliki niat untuk memperoleh keuntungan kompetitif perdagangan melalui depresiasi mata uang,” ujar Lu.
Sementara itu, Kepala Ekonom Huafu Securities Guan Tao mengingatkan pelaku pasar agar menyikapi pergerakan yuan secara proporsional.
“Penguatan dan pelemahan yuan masing-masing memiliki manfaat dan kerugian. Jangan memberikan penilaian berlebihan terhadap arah pergerakannya,” ujar Guan.
Pasar domestik selanjutnya akan mencermati Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 22-23 September 2026. Jadwal tersebut merupakan agenda resmi RDG BI September 2026 yang berlangsung selama dua hari.