- Pexels/SHVETS production
Tren Diet hingga Bariatrik Kian Diminati, Ini Penjelasan Lengkap dari Pola Makan hingga Pendampingan Medis
Jakarta, tvOnenews.com – Tren diet kini semakin populer, tidak hanya di kalangan masyarakat umum tetapi juga artis dan influencer. Beragam metode diet bermunculan, mulai dari pengaturan pola makan hingga program penurunan berat badan yang lebih terstruktur.
Pada dasarnya, diet bukan sekadar upaya menurunkan berat badan, melainkan perubahan gaya hidup secara menyeluruh. Banyak orang memulai dari langkah sederhana seperti mengatur pola makan sehat dan meningkatkan aktivitas fisik.
Pola Makan Sehat Jadi Kunci Awal
Bagi pemula, pendekatan diet umumnya dimulai dengan konsumsi makanan tinggi serat seperti sayur, buah, dan kacang-kacangan, serta protein yang cukup. Sebaliknya, makanan olahan dan minuman manis mulai dikurangi.
Selain itu, kebiasaan makan juga berperan penting. Makan perlahan, menggunakan porsi kecil, serta tidak melewatkan sarapan menjadi langkah dasar yang membantu mengontrol rasa lapar sepanjang hari.
Gaya Hidup dan Aktivitas Fisik Tak Bisa Dipisahkan
Diet yang efektif tidak lepas dari gaya hidup aktif. Olahraga rutin seperti joging atau angkat beban membantu meningkatkan metabolisme tubuh.
Di sisi lain, kualitas tidur juga berpengaruh besar terhadap keberhasilan diet. Kurang tidur dapat mengganggu hormon lapar dan meningkatkan risiko makan berlebihan.
Diet Populer Semakin Beragam
Seiring berkembangnya tren, berbagai metode diet populer pun banyak diterapkan. Mulai dari diet keto, intermittent fasting (puasa berkala), hingga diet Mediterania yang dikenal seimbang.
Namun, tidak semua metode cocok untuk setiap individu. Pemilihan diet tetap harus disesuaikan dengan kondisi tubuh dan kebutuhan masing-masing.
Obesitas dan Tantangan Metabolik Modern
Gaya hidup modern seperti konsumsi makanan tinggi gula dan lemak, kurang aktivitas fisik, stres, serta kurang tidur menjadi pemicu meningkatnya angka obesitas.
Kondisi ini dapat menyebabkan adaptasi metabolik, di mana tubuh memperlambat metabolisme dan menganggap berat badan tertentu sebagai kondisi normal. Akibatnya, penurunan berat badan menjadi semakin sulit.
Dari Diet ke Solusi Medis: Bariatrik Jadi Pilihan
Ketika metode diet konvensional tidak memberikan hasil signifikan, tindakan medis seperti bariatrik mulai menjadi pilihan. Prosedur ini bukan sekadar “operasi kurus”, melainkan terapi untuk mengatasi penyakit metabolik.
Menurut dr Handy Wing, Sp.B, Subsp.BD(K), FBMS, FICS, FInaCS yang merupakan Dokter Spesialis Bedah Digestif yang menangani bedah Bariatrik pasien LIGHThouse Advanced Klinik, operasi bariatrik bekerja dengan mengubah anatomi saluran cerna sehingga dapat mengontrol rasa lapar, penyerapan kalori, serta respons hormonal yang berkaitan dengan diabetes dan gangguan metabolik.
Prosedur ini umumnya direkomendasikan untuk pasien dengan kriteria tertentu, seperti:
-
BMI di atas 27,5 dengan diabetes
-
BMI di atas 30 dengan komorbid
-
BMI di atas 35 tanpa komorbid
Cara Kerja dan Jenis Operasi Bariatrik
Dalam praktiknya, bariatrik dilakukan dengan mengubah ukuran lambung atau jalur pencernaan.
Beberapa metode yang umum digunakan antara lain:
-
Sleeve Gastrectomy: Mengurangi sekitar 80% ukuran lambung
-
Gastric Bypass: Mengubah jalur makanan untuk mengurangi penyerapan kalori
Efeknya, pasien akan lebih cepat kenyang dan penyerapan nutrisi berkurang, sehingga berat badan turun secara signifikan.
Manfaat dan Risiko Tetap Harus Dipahami
Selain membantu menurunkan berat badan minimal 8–10 kg, bariatrik juga dapat membantu mengontrol penyakit seperti diabetes.
Namun, prosedur ini tetap memiliki risiko medis seperti pendarahan, infeksi, hingga gangguan saluran cerna. Oleh karena itu, keputusan menjalani operasi harus melalui pertimbangan matang.
Pasca Operasi, Pola Makan Berubah Total
Setelah operasi, pasien tidak bisa langsung makan seperti biasa. Pola makan harus mengikuti tahapan:
-
Minggu awal: makanan cair
-
Tahap berikutnya: makanan lumat
-
Lalu makanan lunak
-
Hingga akhirnya makanan padat setelah sekitar dua bulan
Selain itu, pasien wajib mengonsumsi protein tinggi (60–80 gram per hari) dan makan dalam porsi kecil namun sering.
Perlu Suplemen dan Pendampingan Nutrisi
Karena penyerapan nutrisi berkurang, pasien bariatrik biasanya membutuhkan suplemen seperti vitamin B12, vitamin D, dan zat besi dalam jangka panjang.
Ahli gizi Veronica S.Gz. dan program manager dari LIGHT Group menegaskan bahwa pendampingan nutrisi sangat penting, baik sebelum maupun setelah operasi. Fokusnya tidak hanya pada kecukupan nutrisi, tetapi juga edukasi pola makan baru.
Pendampingan ini membantu pasien beradaptasi dengan kondisi lambung yang lebih kecil serta menjaga hasil operasi tetap optimal dalam jangka panjang.
Pendampingan Psikologis Jadi Kunci Adaptasi
Menurut Tara de Thouars yang merupakan Psikolog Klinis dari LIGHThouse Clinic., makan bagi banyak individu bukan sekadar kebutuhan biologis, tetapi juga menjadi mekanisme coping terhadap emosi.
Jika akar emosional tidak ditangani, pasien berisiko mengalami frustrasi setelah menjalani prosedur penurunan berat badan. Oleh karena itu, pendampingan psikolog sangat dibutuhkan agar pasien mampu beradaptasi dengan perubahan serta membangun pola pikir baru yang lebih sehat.
Program Pendampingan Komprehensif Pasca Tindakan
Pendampingan tidak hanya berlaku untuk pasien bariatrik, tetapi juga bagi mereka yang menjalani prosedur seperti liposuction Ultrasound Fat Removal (ULFRA).
Program seperti LIGHT Companion Program hadir untuk menjawab kebutuhan pemulihan yang tidak hanya bersifat fisik, tetapi juga mencakup aspek nutrisi dan psikologis. Hal ini penting karena tanpa perubahan gaya hidup, risiko penumpukan lemak kembali tetap ada meski tindakan sudah dilakukan.
Fokus pada Perubahan Gaya Hidup Jangka Panjang
Melalui pendekatan komprehensif, program pendampingan ini menekankan edukasi serta perubahan perilaku (lifestyle shifting). Tujuannya agar pasien mampu mempertahankan hasil tindakan sekaligus mencapai penurunan berat badan yang optimal.
Pendekatan ini juga membantu membangun kebiasaan hidup sehat yang berkelanjutan, bukan hanya hasil instan.
Pendekatan Holistik Libatkan Banyak Tenaga Ahli
Menurut Anna Wibowo, penanganan obesitas memerlukan solusi yang terintegrasi, mulai dari sebelum hingga setelah tindakan medis.
Pendampingan dilakukan secara menyeluruh, melibatkan ahli gizi, dokter spesialis, hingga psikolog. Tujuannya tidak hanya memastikan keberhasilan prosedur, tetapi juga membantu pasien mengatasi kecemasan dan membentuk pola hidup sehat jangka panjang. (nsp)