news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Aurelie Moeremans.
Sumber :
  • Instagram/aurelie

Aurelie Moeremans Buka Luka Lama, Psikolog Jelaskan Proses Panjang Pemulihan Trauma Kekerasan Seksual

Aurelie Moeremans buka luka lama lewat Broken Strings. Psikolog jelaskan trauma kekerasan seksual sulit hilang tapi bisa dipulihkan dengan dukungan.
Selasa, 13 Januari 2026 - 20:00 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Memoar Broken Strings karya artis Aurelie Moeremans sukses menjadi trending topic di berbagai platform media sosial.

Buku ini menyentuh hati banyak pembaca karena menyingkap kisah masa lalu Aurelie yang penuh luka dan perjuangan.

Dalam memoir tersebut, Aurelie dengan jujur menceritakan bagaimana dirinya pernah mengalami bullying, eksploitasi, hingga kekerasan dalam hubungan yang tidak sehat sejak usia remaja.

Salah satu bagian yang paling banyak disorot publik adalah kisahnya dengan seorang pria bernama “Bobby” (nama samaran), yang disebut menjalin hubungan dengannya ketika Aurelie masih berusia 15 tahun.

Pria tersebut berusia 29 tahun pada saat itu, sehingga publik menilai adanya unsur grooming dan ketimpangan kekuasaan yang jelas.

Kisah tersebut membuat banyak orang menyoroti isu kekerasan dan manipulasi dalam relasi yang melibatkan remaja di bawah umur.

Psikolog klinis Gisella Tani Pratiwi, melalui kanal YouTube Gemilang Sehat, ikut memberikan pandangan profesionalnya mengenai isu ini.

Ia menjelaskan bahwa trauma akibat kekerasan seksual merupakan salah satu bentuk luka psikologis paling kompleks dan mendalam, dan proses pemulihannya tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat.

Menurut Gisella, langkah pertama yang paling penting ketika menghadapi korban kekerasan seksual, terutama anak atau remaja, adalah memastikan keamanan fisik dan emosional mereka.

"Kita harus safety first. Pastikan anak atau remaja berada dalam kondisi yang aman dan tidak lagi berdekatan dengan pelaku. Jangan buru-buru ingin tahu kronologinya, tapi pikirkan dulu keselamatannya,” ujarnya.

Setelah kondisi aman, tahap berikutnya adalah memberikan ruang aman untuk bercerita.

Gisella menekankan bahwa korban harus diberikan kesempatan untuk mengekspresikan perasaannya tanpa paksaan.

“Kadang mereka cuma bisa menangis atau bilang ‘aku nggak nyaman’. Itu harus diterima dulu. Jangan buru-buru menasehati atau menghakimi,” katanya.

Ia juga menyoroti kesalahan umum masyarakat yang sering kali menyalahkan korban. Pertanyaan seperti “kenapa nggak lari?”, “kenapa nurut?”, “kenapa pakai baju begitu?” justru memperparah trauma.

Gisella menegaskan bahwa pendekatan yang lebih tepat adalah mendengarkan tanpa penilaian, serta memberikan empati tulus terhadap apa yang dialami penyintas.

Lebih jauh, Gisella menjelaskan bahwa dampak trauma kekerasan seksual tidak hanya dirasakan oleh individu korban, tapi juga dapat menyebar ke lingkungan sekitar.

“Efeknya bisa ripple effect. Bahkan orang yang hanya membaca kisahnya di media bisa merasa terguncang. Karena kekerasan seksual melanggar banyak aspek kemanusiaan, itu yang membuat dampaknya begitu dalam,” tuturnya.

Dalam kasus Aurelie, banyak yang memuji keberaniannya membuka luka lama melalui buku Broken Strings.

Menurut Gisella, tindakan seperti itu bisa menjadi bagian dari proses penyembuhan, namun tetap membutuhkan pendampingan profesional.

“Trauma kekerasan seksual bisa berlangsung jangka panjang, bahkan seumur hidup. Tapi manusia punya kemampuan resiliensi, kemampuan untuk bangkit,” jelasnya.

Ia menambahkan, dukungan lingkungan sekitar sangat berperan penting dalam pemulihan korban.

"Jika penyintas berada di lingkungan yang suportif, yang bisa mendengarkan dan menolong tanpa menghakimi, itu akan mempercepat proses recovery,” kata Gisella.

Selain itu, korban juga disarankan untuk mendapatkan akses bantuan medis, psikologis, hingga hukum bila diperlukan.

“Setelah tenang, baru bantu dia mengidentifikasi kebutuhan. Apakah perlu ke psikolog, dokter, atau pendamping hukum. Ini proses yang panjang dan bertahap,” ujarnya.

Gisella menegaskan bahwa meski pemulihan tidak mudah, setiap penyintas kekerasan seksual memiliki peluang untuk kembali bangkit dan menjalani hidup dengan lebih kuat.

Ia menutup dengan pesan agar masyarakat berhenti memperkeruh keadaan dengan menyebar opini atau gosip tanpa memahami kondisi psikologis korban.

“Yang dibutuhkan bukan rasa ingin tahu, tapi empati dan kepedulian,” ujarnya. (adk)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:10
08:13
08:52
02:17
01:33
03:09

Viral