- istimewa
Ternyata Berbahaya, Dokter Ingatkan Jangan Sembarangan Minum Obat Penghenti Saat Diare!
tvOnenews.com - Diare sering dianggap sebagai penyakit ringan yang bisa diatasi dengan obat bebas yang mudah ditemukan di apotek.
Namun, ternyata kebiasaan langsung minum obat penghenti diare justru bisa berbahaya bagi tubuh.
Dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Tirta, mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan menghentikan proses alami tubuh saat sedang mengalami diare.
Dalam penjelasannya di kanal media sosialnya, dr. Tirta menegaskan bahwa diare adalah salah satu mekanisme pertahanan tubuh yang seharusnya tidak langsung dihentikan.
"Untuk pengobatan di hari ini jangan sekalipun kalian minum obat yang menghalang-halangi, jadi langsung di-stop. Kenapa? Karena mencret ini isinya bakteri semua,” ujarnya.
Menurutnya, saat seseorang mengalami diare, tubuh sebenarnya sedang berusaha membuang zat berbahaya seperti bakteri, virus, atau parasit yang masuk ke saluran pencernaan.
Ketika obat penghenti diare diminum terlalu cepat, maka proses pengeluaran zat berbahaya itu ikut terhenti.
Akibatnya, bakteri dan toksin yang seharusnya dikeluarkan malah tertahan di dalam usus.
“Kalau tiba-tiba diare itu otomatis usus sedang melakukan pertahanan tubuh supaya si kotoran ini keluar dari tubuh dalam bentuk feses. Kalau tiba-tiba kalian stop pakai obat-obatan, stop diare, ini kotorannya di dalam semua sama bakterinya. Otomatis gasnya usus menjadi tinggi,” kata dr. Tirta menambahkan.
Dampak dari menghentikan diare secara tiba-tiba tidak bisa dianggap remeh.
Dokter Tirta mengingatkan bahwa hal ini bisa menimbulkan komplikasi serius seperti infeksi usus hingga ileus, yaitu kondisi ketika usus berhenti bergerak dan bisa pecah.
"Yang terjadi bisa potensi infeksi ususnya semakin besar, bolong jadinya ileus. Ileus itu artinya ususnya pecah, eek-nya di dalam semua,” jelasnya.
Dalam dunia medis, diare dibagi menjadi dua jenis, yaitu diare akut dan diare kronis.
Diare akut biasanya berlangsung kurang dari dua minggu dan bisa disebabkan oleh infeksi virus atau bakteri.
Sementara diare kronis berlangsung lebih lama dan bisa berkaitan dengan penyakit tertentu seperti irritable bowel syndrome (IBS) atau intoleransi makanan.
Jika seseorang mengalami diare akut, langkah pertama yang paling penting bukanlah menghentikan mencret dengan obat, melainkan mengganti cairan tubuh yang hilang.
“Kalau diare akut, treatment-nya apa? Kasih oralit, cairan pengganti tubuh. Bisa oralit, minuman ion, atau air kelapa. Sekali diare langsung minumin,” saran dr. Tirta.
Tubuh yang kehilangan banyak cairan akibat diare bisa mengalami dehidrasi berat, terutama pada anak-anak dan lansia.
Gejala dehidrasi bisa berupa mulut kering, kulit kendor, mata cekung, hingga penurunan kesadaran.
Oleh sebab itu, pemberian cairan seperti oralit dan air kelapa muda sangat disarankan untuk menjaga keseimbangan elektrolit.
Selain menjaga cairan tubuh, dokter Tirta juga menjelaskan bahwa beberapa obat seperti imodium hanya boleh digunakan dalam kondisi tertentu dan harus dengan pengawasan dokter.
Obat tersebut bekerja dengan cara memperlambat gerakan usus agar cairan lebih banyak diserap.
Namun, penggunaan obat ini tidak boleh sembarangan, terutama jika diare disebabkan oleh infeksi bakteri, karena bisa memperparah kondisi pasien.
“Bisa berikan obat-obatan imodium untuk mengurangi peristaltik jadi memperkuat penyerapan, tapi tetap harus tahu penyebabnya dulu,” tutur dr. Tirta.
Selain itu, ia menyarankan untuk memperhatikan pola makan selama mengalami diare.
Hindari makanan pedas, berlemak, dan susu yang bisa memperburuk kondisi usus. Sebagai gantinya, pilih makanan yang mudah dicerna seperti bubur, pisang, dan sup bening. (adk)