- Ilustrasi AI
Urin Berwarna Kuning Pekat saat Puasa, Apakah Berbahaya?
Ia menambahkan, ginjal sedang bekerja melindungi tubuh dari kekurangan cairan ekstrem dengan cara menahan air agar tekanan darah tetap stabil dan aliran darah ke organ vital tetap terjaga.
Warna urin yang pekat ini bersifat sementara. Setelah berbuka dan kebutuhan cairan tercukupi, warna urin biasanya akan kembali normal dan lebih jernih.
Proses ini tidak menyebabkan kerusakan ginjal pada orang yang sehat.
Kapan Harus Waspada?
Meski umumnya normal, ada kondisi tertentu yang perlu diwaspadai. Urin pekat menjadi tanda bahaya jika disertai gejala lain.
“Kalau misalnya ada rasa perih, kencing terasa panas, atau ada warna kemerahan seperti bercampur darah, itu harus curiga,” kata dr Saddam.
Beberapa tanda yang perlu segera dikonsultasikan ke dokter antara lain:
* Nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil
* Urin bercampur darah
* Nyeri hebat di pinggang yang menjalar ke perut (bisa mengarah ke batu ginjal)
* Demam disertai urin pekat dan perih (kemungkinan infeksi saluran kemih)
Jika hanya perubahan warna tanpa keluhan lain, umumnya kondisi tersebut masih tergolong wajar selama puasa.
Tips Menjaga Kesehatan Ginjal saat Puasa
Agar ginjal tetap sehat selama Ramadan, penting untuk mencukupi kebutuhan cairan harian.
dr Saddam menyarankan tetap memenuhi kebutuhan sekitar 8 gelas atau kurang lebih 2 liter air per hari.
Ia merekomendasikan pola minum 2-4-2, yaitu:
* 2 gelas saat berbuka
* 4 gelas di malam hari
* 2 gelas saat sahur
“Jangan minum sekaligus banyak dalam satu waktu, apalagi saat sahur. Nanti malah cepat keluar lagi,” pesannya.
Selain itu, hindari minuman manis berlebihan, minuman bersoda, serta batasi konsumsi teh dan kopi terutama saat sahur karena kandungan kafein bersifat diuretik dan bisa membuat tubuh lebih cepat kehilangan cairan.
Makanan terlalu asin seperti ikan asin, camilan gurih, dan fast food juga sebaiknya dibatasi.
Garam berlebih dapat membuat tubuh lebih cepat haus dan menambah beban kerja ginjal. (gwn)