- (ANTARA/Pexels)
Hati-Hati, Usai Lebaran Serangan Jantung Bisa Meningkat Drastis, Ini Faktor Pemicunya
Kurang tidur diketahui dapat meningkatkan tekanan darah dan memperburuk kesehatan jantung secara keseluruhan.
Kombinasi antara pola makan tidak sehat, kurang gerak, dan tidur yang tidak teratur menjadi “paket lengkap” yang meningkatkan risiko serangan jantung.
Lebaran bukan hanya soal kebahagiaan, tetapi juga bisa menjadi sumber stres.
Perjalanan jauh saat mudik, kemacetan, kelelahan, hingga tekanan sosial dapat memicu stres emosional.
Secara medis, stres dapat meningkatkan hormon seperti kortisol dan adrenalin yang berdampak pada lonjakan tekanan darah, peningkatan detak jantung, gangguan irama jantung.
Pada individu dengan kondisi jantung tertentu, stres akut bahkan dapat menjadi pemicu langsung serangan jantung.
Faktor lain yang sering diabaikan adalah keterlambatan dalam mencari pertolongan medis.
Saat liburan, banyak orang cenderung menunda pemeriksaan meski mengalami gejala seperti nyeri dada atau sesak napas.
Selain itu, akses ke fasilitas kesehatan bisa terbatas, atau waktu respons menjadi lebih lambat karena kondisi libur nasional.
Padahal, penanganan cepat sangat menentukan keselamatan pasien serangan jantung.
Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang mengalami serangan jantung saat liburan sering kali memiliki kondisi lebih buruk akibat terlambat mendapatkan penanganan medis.
Meningkatnya risiko serangan jantung setelah Lebaran bukanlah mitos.
Perubahan gaya hidup yang terjadi secara tiba-tiba menjadi faktor utama yang memicu kondisi ini.
Oleh karena itu, menjaga pola makan tetap seimbang, tidak berlebihan dalam mengonsumsi makanan tinggi lemak dan gula, serta tetap aktif bergerak menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan jantung.
Selain itu, penting untuk mengenali gejala awal serangan jantung seperti nyeri dada, sesak napas, atau rasa tidak nyaman di bagian tubuh tertentu. (adk)