- Gambar ilustrasi AI
Kasus Kematian dr Icha Jadi Sorotan, Mengapa Kesehatan Mental Dokter Masih Terabaikan? Ini Fakta dan Data Penelitiannya
tvOnenews.com - Kematian dr. Elisa Princilia Utami Pakaenoni atau dr Icha menjadi perhatian publik dan kembali membuka diskusi mengenai kesehatan mental di kalangan tenaga medis.
Perempuan berusia 27 tahun itu ditemukan meninggal dunia pada Jumat (26/6/2026). Hingga kini, kepolisian bersama Kementerian Kesehatan masih melakukan investigasi untuk mengungkap seluruh fakta di balik peristiwa tersebut.
Belum ada kesimpulan resmi yang menyatakan adanya hubungan langsung antara kematian dr Icha dengan dugaan intimidasi yang dialaminya beberapa hari sebelumnya.
Namun, keluarga meyakini kedua peristiwa tersebut saling berkaitan. Mereka mengenang dr Icha sebagai sosok dokter yang ramah, pekerja keras, dan berdedikasi dalam menjalankan profesinya.
Sebelum meninggal, dr Icha juga diketahui sempat menjalani perawatan intensif terkait kondisi kesehatan mental.
Kepada keluarga, ia berulang kali menceritakan tekanan yang dialaminya saat bertugas setelah berinteraksi dengan sejumlah anggota DPRD.
Kasus tersebut menjadi pengingat bahwa kesehatan mental bukan hanya persoalan masyarakat umum, tetapi juga merupakan isu serius di lingkungan profesi medis.
Berbagai penelitian menunjukkan dokter dan tenaga kesehatan memiliki risiko lebih tinggi mengalami depresi, kecemasan, kelelahan kerja (burnout), hingga gangguan stres akibat tekanan pekerjaan.
Para ahli pun mengingatkan bahwa menjaga kesehatan mental tenaga medis bukan hanya penting bagi kesejahteraan mereka, tetapi juga berkaitan erat dengan keselamatan pasien dan mutu pelayanan kesehatan.
Tingginya Tekanan Kerja Membuat Dokter Rentan Mengalami Gangguan Mental
Sejumlah penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed Central menunjukkan bahwa masalah kesehatan mental merupakan tantangan nyata dalam profesi kedokteran.
Hasil penelitian tersebut memperlihatkan sekitar 29 persen dokter mengalami gejala depresi, sementara hingga 24 persen mengalami gangguan kecemasan. Selain itu, sekitar 4–16 persen dokter mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD), sedangkan ebih dari sepertiga tenaga medis mengalami burnout atau kelelahan kerja berat.
Tingginya angka tersebut tidak terlepas dari karakteristik profesi dokter yang penuh tekanan. Setiap hari mereka dituntut mengambil keputusan penting yang menyangkut keselamatan pasien, bekerja dalam durasi panjang, menghadapi keterbatasan fasilitas, hingga berhadapan dengan berbagai persoalan etik maupun hukum.
Beberapa faktor yang paling sering memicu gangguan kesehatan mental pada tenaga medis antara lain beban kerja yang tinggi, jam kerja panjang dengan waktu istirahat terbatas, tekanan mengambil keputusan medis, risiko melakukan kesalahan, konflik moral, perundungan di tempat kerja, menghadapi pasien atau keluarga pasien yang agresif, hingga ancaman sengketa hukum.
Apabila tekanan tersebut berlangsung terus-menerus tanpa dukungan yang memadai, risiko munculnya depresi, kecemasan, maupun burnout akan meningkat secara signifikan.
Stigma Masih Membuat Banyak Dokter Enggan Mencari Bantuan
Di balik tingginya angka gangguan kesehatan mental, penelitian juga menemukan adanya hambatan besar yang membuat banyak dokter memilih memendam masalahnya sendiri, yakni stigma.
Masih menurut penelitian yang dimuat di PubMed Central, sekitar 40 persen dokter percaya bahwa tenaga medis dengan riwayat depresi atau gangguan kecemasan dianggap kurang kompeten. Bahkan 47 persen responden menilai dokter yang pernah mengalami gangguan mental akan lebih sulit dipercaya atau direkrut dalam dunia kerja.
Tidak hanya itu, hampir 40 persen dokter mengaku enggan mencari pertolongan profesional karena khawatir kondisi tersebut berdampak pada izin praktik maupun perjalanan karier mereka.
Stigma tersebut membuat banyak tenaga medis memilih menyembunyikan kondisi psikologisnya. Sebagian bahkan menunda berkonsultasi, mengobati diri sendiri, menarik diri dari lingkungan sosial, atau menggunakan cara-cara yang kurang sehat untuk mengatasi tekanan.
Para peneliti menjelaskan bahwa karakter dokter yang perfeksionis, memiliki tanggung jawab tinggi, terbiasa mandiri, dan merasa harus selalu kuat turut memperbesar kecenderungan untuk memendam masalah psikologis.
Di sisi lain, budaya di lingkungan medis juga masih sering menganggap gangguan kesehatan mental sebagai bentuk kelemahan atau ketidakmampuan menjalankan profesi.
Persepsi tersebut diperkuat oleh sejumlah kebijakan administratif, misalnya kewajiban melaporkan riwayat gangguan kesehatan mental dalam proses registrasi atau perizinan praktik yang dinilai dapat memperkuat stigma.
Perlu Lingkungan Kerja yang Lebih Aman Secara Psikologis
Para peneliti menegaskan bahwa gangguan kesehatan mental yang tidak tertangani tidak hanya berdampak pada dokter sebagai individu, tetapi juga dapat memengaruhi kualitas pelayanan kesehatan.
Tenaga medis yang mengalami depresi, kecemasan, atau burnout berisiko mengalami penurunan konsentrasi, kelelahan emosional, berkurangnya kemampuan mengambil keputusan, meningkatnya risiko kesalahan medis, hingga munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup.
Karena itu, penanganan kesehatan mental tenaga medis perlu dilakukan secara menyeluruh.
Penelitian tersebut merekomendasikan beberapa langkah, mulai dari membuka ruang dialog yang lebih terbuka mengenai kesehatan mental, menghilangkan anggapan bahwa gangguan psikologis merupakan aib, hingga membangun lingkungan kerja yang aman secara psikologis.
Selain itu, institusi kesehatan didorong menyediakan layanan konseling yang mudah diakses, memperkuat sistem dukungan antarrekan sejawat (peer support), serta menciptakan budaya kerja yang bebas dari perundungan maupun intimidasi.
Para peneliti juga menyarankan regulator mengevaluasi kebijakan yang berpotensi memperkuat stigma terhadap tenaga medis yang mengalami gangguan kesehatan mental, sehingga dokter tidak lagi merasa takut mencari bantuan profesional ketika membutuhkannya.
Kasus meninggalnya dr Icha masih menunggu hasil investigasi resmi mengenai seluruh faktor yang melatarbelakanginya.
Namun, peristiwa tersebut kembali mengingatkan bahwa kesehatan mental tenaga medis merupakan isu yang tidak boleh diabaikan.
Di balik tanggung jawab besar menyelamatkan nyawa pasien, para dokter juga membutuhkan ruang yang aman untuk menjaga kesehatan psikologis mereka tanpa takut terhadap stigma ataupun konsekuensi terhadap karier.
Dengan dukungan yang tepat, kesejahteraan tenaga medis dapat terjaga sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. (udn)