- Pixabay/VugarAhmadov
Gluten-Free Makin Populer, Apakah Orang Indonesia Perlu Menghindarinya?
Jakarta, tvOnenews.com – Viral dan popularnya produk dan diet gluten-free semakin mudah ditemukan di Indonesia. Di media sosial, gluten juga kerap dituding sebagai penyebab berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga kenaikan berat badan. Namun, benarkah gluten memang berbahaya bagi masyarakat Indonesia?
Jawaban ilmiahnya tidak sesederhana itu. Bagi sebagian besar orang, gluten bukanlah zat yang berbahaya. Namun, pada kelompok tertentu, protein yang terdapat dalam gandum, jelai (barley), dan gandum hitam (rye) ini memang dapat memicu gangguan kesehatan yang serius.
Gluten merupakan kelompok protein yang memberikan tekstur kenyal pada roti, mi, pasta, dan berbagai makanan berbahan gandum. Protein ini telah menjadi bagian dari pola makan manusia selama ribuan tahun.
Kementerian Kesehatan RI menegaskan bahwa gluten tidak berbahaya bagi orang yang tidak memiliki gangguan terkait gluten.
Menurut Kementerian Kesehatan, diet bebas gluten hanya direkomendasikan bagi penderita penyakit celiac, alergi gandum, sensitivitas gluten non-celiac (non-celiac gluten sensitivity/NCGS), maupun gluten ataxia.
Hingga saat ini juga belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa menghindari gluten membuat orang sehat menjadi lebih sehat atau lebih mudah menurunkan berat badan.
Siapa yang memang harus menghindari gluten?
Secara medis, terdapat beberapa kondisi yang mengharuskan seseorang membatasi atau menghindari gluten.
Pertama, penyakit celiac (celiac disease). Menurut Mayo Clinic dan National Institute of Diabetes and Digestive and Kidney Diseases (NIDDK), penyakit ini merupakan gangguan autoimun yang menyebabkan sistem imun menyerang lapisan usus halus setelah seseorang mengonsumsi gluten.
Kerusakan tersebut dapat mengganggu penyerapan nutrisi dan memicu diare kronis, penurunan berat badan, anemia, hingga kekurangan vitamin.
Kedua, alergi gandum. Berbeda dengan penyakit celiac, American College of Allergy, Asthma & Immunology (ACAAI) menjelaskan bahwa alergi gandum merupakan reaksi sistem kekebalan terhadap protein dalam gandum yang dapat menyebabkan gatal, ruam, muntah, sesak napas, hingga anafilaksis pada kasus yang berat.
Ketiga, sensitivitas gluten non-celiac (NCGS). Menurut tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam jurnal The Lancet, penderita NCGS dapat mengalami kembung, nyeri perut, atau diare setelah mengonsumsi makanan yang mengandung gluten tanpa mengalami kerusakan usus seperti pada penyakit celiac.