- Dibuat oleh ChatGPT
Apa Benar Kencing Unta Bisa Menghambat Pertumbuhan Sel Kanker? Ini Penjelasannya
“Tapi tunggu dulu, sebagai ilmuwan kita harus jujur. Penelitian ini masih pada tahap sel dan hewan uji, belum sampai pada uji klinis manusia. Artinya, belum bisa disimpulkan bahwa urin unta adalah obat kanker pada manusia,” tegas Prof. Zulys.
Ia menambahkan bahwa penelitian lanjutan masih diperlukan untuk mengetahui kandungan yang berperan dalam efek tersebut serta memastikan keamanannya.
“Kesimpulannya sederhana, ada potensi ilmiah yang menarik, tetapi masih membutuhkan riset lanjutan untuk mengidentifikasi zat aktifnya dan membuktikan keamanannya pada manusia,” jelasnya.
Dengan demikian, penelitian tersebut belum dapat dijadikan dasar untuk menggunakan Kencing Unta sebagai terapi kanker. Pasien kanker tetap perlu mengikuti pengobatan yang telah terbukti secara klinis dan berkonsultasi dengan tenaga medis sebelum mempertimbangkan penggunaan bahan lain.
Bagaimana Konteks Hadis tentang Kencing Unta?
Selain dari sisi penelitian, Prof. Zulys membahas hadis Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan penggunaan susu dan kencing unta untuk pengobatan. Ia menekankan pentingnya memahami latar belakang riwayat tersebut sebelum menarik kesimpulan mengenai penggunaannya sebagai anjuran pengobatan umum.
“Lalu bagaimana dengan hadis Nabi tentang pengobatan menggunakan urin dan susu unta ini?” kata Prof. Zulys.
Penjelasan Prof. Zulys. (Sumber: Instagram @prof.zulys)
Ia kemudian menjelaskan riwayat mengenai sekelompok orang dari suku Urainah yang datang ke Madinah dan mengalami gangguan kesehatan.
“Di sinilah kita harus memahami konteks. Hadis tersebut berkaitan dengan kasus khusus suku Urainah yang berniat jahat dan mengalami kondisi penyakit tertentu serta berpura-pura masuk Islam meminta solusi pengobatan atas sakit yang mereka derita akibat perbedaan cuaca dengan Madinah,” jelas Prof. Zulys.
Dalam riwayat tersebut, setelah kondisi mereka membaik, kelompok itu membunuh penggembala Nabi dan membawa kabur unta-unta. Mereka kemudian dikejar dan dijatuhi hukuman.
“Setelah sembuh, alih-alih berterima kasih, mereka malah membunuh penggembala Nabi dan merampas unta-unta tersebut. Setelah terkejar oleh sahabat Nabi, mereka diberi hukuman yang setimpal,” ungkapnya.
Prof. Zulys menyebut riwayat tersebut dapat menjadi bahan kajian, tetapi pemaknaannya perlu mempertimbangkan konteks sejarah dan penjelasan para ulama. Ia juga mengingatkan bahwa keberadaan suatu praktik dalam riwayat sejarah tidak dengan sendirinya membuktikan efektivitasnya secara medis untuk semua kondisi.