- Gambar ilustrasi AI / Gemini
Prof. Deby Vinski Raih Merit Award di Moldova, Bawa Misi Pengembangan Stem Cell ke Eropa
tvOnenews.com - Pengembangan teknologi kesehatan kini tidak hanya berfokus pada pengobatan penyakit, tetapi juga pada upaya menjaga kualitas hidup dan memperlambat dampak penuaan.
Konsep longevity medicine dan pengobatan regeneratif pun semakin menarik perhatian karena menawarkan pendekatan kesehatan yang menitikberatkan pada pencegahan, pemantauan kondisi tubuh, serta pemanfaatan perkembangan ilmu kedokteran.
Di tengah perkembangan tersebut, Prof. dr. Deby Susanti Pada Vinski, MSc, PhD, menggagas peluang pengembangan pusat kesehatan internasional di Chișinău, ibu kota Moldova.
Gagasan bernama International Stem Cell & Longevity Centre ini diarahkan untuk membuka peluang kolaborasi dalam layanan kesehatan preventif, pengobatan regeneratif, penelitian, dan inovasi bioteknologi.
Jika terealisasi, proyek tersebut berpotensi menjadi salah satu pintu kerja sama kesehatan antara Indonesia dan negara di kawasan Eropa Timur itu.
Namun, rencana membangun pusat kesehatan berstandar internasional tentu tidak cukup hanya mengandalkan gagasan dan jejaring lintas negara.
Kelayakan bisnis, kesiapan infrastruktur, kemitraan dengan institusi lokal, serta kepatuhan terhadap regulasi kesehatan menjadi faktor penting yang harus dipastikan. Lantas, seperti apa rencana yang dibawa Prof. Deby Vinski, dan peluang apa yang ingin dikembangkan melalui proyek tersebut?
Prof. Deby Vinski Gagas Pusat Stem Cell dan Longevity di Moldova
Dalam kunjungan diplomatiknya ke Moldova, Prof. Deby Vinski memperkenalkan gagasan pengembangan International Stem Cell & Longevity Centre di Chișinău.
Rencana tersebut menjadi bagian dari upayanya menjajaki peluang kerja sama internasional di sektor kesehatan, khususnya dalam pengembangan layanan preventif dan kedokteran regeneratif.
Prof. Deby memiliki pengalaman profesional di bidang anti-aging, stem cell, dan regenerative medicine. Dalam materi publikasi yang disampaikan, ia juga disebut menjabat sebagai Presiden World Council of Stem Cells (WOCS) serta World Council of Preventive, Regenerative and Anti-Aging Medicine (WOCPM). Pengalaman tersebut menjadi latar belakang dalam upayanya membuka peluang kolaborasi kesehatan lintas negara.
Ia juga mengembangkan Celltech Stem Cell Centre di Jakarta. Pengalaman tersebut diharapkan dapat menjadi modal untuk menjajaki kemitraan, pertukaran pengetahuan, serta pengembangan layanan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan dan ketentuan di Moldova.
Pusat yang direncanakan itu diharapkan tidak hanya berorientasi pada layanan kepada pasien, tetapi juga membuka ruang bagi penelitian, pengembangan teknologi medis, dan kolaborasi dengan universitas maupun rumah sakit.
Dalam pernyataannya, Prof. Deby menyampaikan harapan agar proyek tersebut mampu memberikan manfaat lebih luas bagi Moldova sekaligus menarik perhatian mitra internasional.
“Kita ingin membangun sesuatu yang bukan hanya bermanfaat bagi Moldova, tetapi juga dapat menarik pasien dan mitra internasional. Saya ingin Moldova dikenal sebagai salah satu destinasi longevity dan inovasi kesehatan di Eropa,” ujar Prof. Deby.
Meski demikian, gagasan tersebut masih memerlukan tahapan persiapan. Studi kelayakan, penjajakan mitra lokal, serta persetujuan dari otoritas terkait menjadi bagian penting sebelum proyek dapat diwujudkan.
Layanan Preventif hingga Bioteknologi Jadi Fokus Pengembangan
Salah satu aspek yang ingin dikembangkan melalui pusat tersebut adalah layanan kesehatan preventif. Pendekatan ini menitikberatkan pada upaya mengidentifikasi risiko kesehatan, menjaga kondisi tubuh, dan mendukung kualitas hidup melalui pemantauan serta intervensi medis yang sesuai.
Selain itu, terdapat rencana pengembangan layanan healthy aging, yaitu pendekatan untuk membantu seseorang mempertahankan kesehatan dan kemampuan fungsional seiring bertambahnya usia.
Bidang lain yang masuk dalam gagasan tersebut meliputi precision medicine, regenerative medicine, penelitian, serta inovasi bioteknologi. Precision medicine berupaya menyesuaikan pendekatan medis dengan karakteristik dan kebutuhan individu, sedangkan kedokteran regeneratif mempelajari pendekatan untuk memperbaiki atau memulihkan fungsi jaringan dan organ.
Meski memiliki potensi pengembangan, penerapan teknologi stem cell dan pengobatan regeneratif tetap membutuhkan dasar ilmiah yang kuat. Keamanan pasien, efektivitas terapi, standar pelayanan, dan pengawasan regulator harus menjadi prioritas.
Tidak semua terapi yang menggunakan istilah stem cell atau anti-aging memiliki bukti manfaat klinis yang memadai.
Karena itu, realisasi pusat kesehatan tersebut akan bergantung pada kemampuan pengelola untuk membangun layanan yang sesuai dengan bukti ilmiah, standar medis, dan regulasi yang berlaku di negara tujuan.
Apabila dikembangkan melalui kemitraan yang tepat, pusat tersebut berpotensi menjadi ruang kolaborasi bagi tenaga medis, peneliti, universitas, rumah sakit, dan pelaku industri teknologi kesehatan. Namun, peluang tersebut masih harus dibuktikan melalui perencanaan dan pelaksanaan yang terukur.
Moldova Dibidik sebagai Mitra Investasi Kesehatan Internasional
Selain aspek medis, rencana pendirian pusat stem cell dan longevity juga berkaitan dengan peluang investasi dan pengembangan pariwisata kesehatan. Moldova dinilai memiliki kesempatan untuk memperluas kerja sama internasional melalui sektor kesehatan, teknologi, dan layanan yang menyasar pasien dari berbagai negara.
Dalam kunjungannya, Prof. Deby menyampaikan pandangan mengenai potensi Moldova sebagai negara yang dapat mengembangkan sektor investasi dan layanan kesehatan berorientasi internasional. Ia juga melihat keterbukaan komunikasi pemerintah sebagai salah satu faktor yang dapat membantu membangun hubungan dengan calon investor.
“My vision is to see Moldova become a combination of Singapore and Monaco — a prosperous, beautiful, investment-friendly country with world-class healthcare and longevity services,” ungkap Prof. Deby.
Pernyataan tersebut menggambarkan visinya untuk melihat Moldova berkembang sebagai negara yang menarik bagi investasi, memiliki kualitas hidup yang baik, serta menawarkan layanan kesehatan berstandar internasional.
- ist
Meski demikian, pembangunan pusat kesehatan berskala internasional memerlukan kajian yang menyeluruh. Aspek perizinan medis, perlindungan pasien, ketersediaan tenaga ahli, pembiayaan, kebutuhan pasar, dan keberlanjutan operasional perlu diperhitungkan sebelum keputusan investasi dibuat.
Prof. Deby juga mendorong pengusaha Indonesia untuk melihat peluang kerja sama di Moldova, termasuk dalam sektor kesehatan, teknologi, properti, dan pariwisata. Konsulat Kehormatan Republik Moldova di Vinski Tower, Jakarta, diharapkan menjadi salah satu jalur komunikasi awal bagi pihak yang ingin menjajaki peluang tersebut.
Gagasan International Stem Cell & Longevity Centre menunjukkan peluang untuk memperluas hubungan Indonesia dan Moldova melalui bidang kesehatan dan inovasi medis.
Namun, nilai strategis proyek ini nantinya tidak hanya ditentukan oleh besarnya visi yang dibawa, melainkan juga oleh kesiapan investasi, kepatuhan regulasi, dan bukti ilmiah dari layanan yang dikembangkan.
Untuk saat ini, pusat stem cell dan longevity di Chișinău masih berupa rencana. Tahapan studi kelayakan, pembentukan kemitraan, dan persetujuan regulasi akan menentukan apakah gagasan tersebut dapat berkembang menjadi fasilitas kesehatan yang beroperasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. (udn)