- Gambar ilustrasi AI
Gangguan Mata Kerap Tak Disadari, Teknologi Skrining Bantu Kenali Gejalanya Lebih Awal
tvOnenews.com - Ponsel, tablet, dan komputer telah menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari, mulai dari kegiatan belajar hingga bekerja. Namun, ketika waktu di depan layar semakin panjang, kesehatan mata perlu mendapat perhatian lebih.
Mata lelah, kering, sakit kepala, atau kesulitan melihat objek jauh dapat menjadi tanda bahwa seseorang perlu mengevaluasi kebiasaan visualnya dan mempertimbangkan pemeriksaan mata.
Perkembangan teknologi kesehatan kini membuka lebih banyak peluang untuk mengenali gangguan penglihatan sejak dini. Pemeriksaan tidak hanya dilakukan di fasilitas kesehatan, tetapi juga dapat menjangkau sekolah dan komunitas melalui program skrining.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyediakan aplikasi WHOeyes yang memungkinkan pengguna berusia delapan tahun ke atas melakukan pemeriksaan ketajaman penglihatan jarak jauh dan dekat sebagai langkah awal. Namun, skrining mandiri tidak menggantikan pemeriksaan menyeluruh oleh tenaga profesional.
Urgensi deteksi dini juga terlihat dari perkembangan masalah rabun jauh atau miopia. WHO memperkirakan jumlah kasus miopia secara global dapat mencapai 3,36 miliar pada 2030.
Di China, salah satu negara dengan beban miopia tinggi pada anak, WHO mencatat lebih dari separuh siswa mengalami kondisi tersebut, dengan proporsi meningkat dari 36,7 persen pada tingkat sekolah dasar menjadi 81,2 persen pada tingkat sekolah menengah atas.
Kondisi ini mendorong penguatan skrining penglihatan, edukasi, dan upaya pencegahan sejak usia dini.
Kebiasaan Menatap Layar dan Pentingnya Deteksi Gangguan Penglihatan
Melansir dari berbagai sumber, penggunaan gawai dalam waktu lama sering membuat seseorang terus memusatkan pandangan pada jarak dekat. Kebiasaan tersebut dapat memicu kelelahan mata, sementara berkurangnya waktu beraktivitas di luar ruangan juga menjadi salah satu faktor yang dikaitkan dengan perkembangan miopia pada anak.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis yang diterbitkan di jurnal JAMA Network Open pada Februari 2025 menganalisis 45 penelitian dengan total 335.524 peserta. Hasilnya menunjukkan adanya hubungan antara bertambahnya durasi penggunaan layar digital dan meningkatnya kemungkinan mengalami miopia.
Dalam analisis tersebut, setiap tambahan satu jam penggunaan layar per hari berkaitan dengan peningkatan odds miopia sebesar 21 persen. Temuan ini menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti bahwa penggunaan layar secara langsung menyebabkan miopia pada setiap individu.
Karena itu, mengurangi waktu menatap layar saja tidak cukup untuk menjaga kesehatan penglihatan. Pemeriksaan berkala diperlukan untuk mengenali kelainan refraksi, seperti miopia atau rabun jauh, hipermetropia atau rabun dekat, serta astigmatisme atau mata silinder.
Menurut WHO, kelainan refraksi yang tidak dikoreksi dapat mengganggu proses belajar anak, mengurangi produktivitas orang dewasa, dan memengaruhi kualitas hidup.
Kondisi tersebut umumnya dapat ditangani dengan alat bantu penglihatan yang sesuai, seperti kacamata atau lensa kontak, berdasarkan hasil pemeriksaan tenaga kesehatan.
Sejumlah negara maju telah mengembangkan pendekatan untuk meningkatkan kesadaran kesehatan mata. Di Amerika Serikat, National Eye Institute menganjurkan aturan 20-20-20 untuk membantu mengurangi kelelahan mata akibat penggunaan layar: setiap 20 menit, alihkan pandangan ke objek berjarak sekitar 20 kaki atau enam meter selama 20 detik.
Sementara itu, Australia menekankan pentingnya aktivitas fisik, pembatasan waktu layar rekreasional, dan kebiasaan tidur yang baik bagi anak serta remaja.
Langkah sederhana tersebut dapat membantu membangun kebiasaan yang lebih sehat. Namun, apabila penglihatan kabur, sakit kepala berulang, atau kesulitan membaca papan di kelas terus terjadi, pemeriksaan mata tetap diperlukan.
Teknologi Skrining Mata Membuka Akses Pemeriksaan Lebih Luas
Teknologi skrining berperan dalam membantu mengidentifikasi orang yang berpotensi mengalami gangguan penglihatan dan membutuhkan pemeriksaan lanjutan.
WHO melalui Vision and Eye Screening Implementation Handbook mendorong pelaksanaan skrining di lingkungan komunitas dan layanan kesehatan primer agar gangguan dapat dikenali lebih awal, termasuk pada anak prasekolah, siswa, dan kelompok lanjut usia.
Pendekatan ini penting karena tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap fasilitas pemeriksaan mata. Skrining yang dilakukan di sekolah atau lingkungan masyarakat dapat membantu menjangkau peserta yang belum pernah memeriksakan penglihatannya atau tidak menyadari adanya perubahan pada mata.
Di Indonesia, kebutuhan tersebut masih relevan. Data Kementerian Kesehatan RI menunjukkan bahwa dari sekitar 55 juta penduduk berusia di atas tujuh tahun yang mengikuti skrining kesehatan mata pada 2025, sekitar 17 persen ditemukan mengalami gangguan penglihatan, termasuk miopia, hipermetropia, dan astigmatisme.
Angka tersebut memperlihatkan pentingnya pemeriksaan yang mudah dijangkau masyarakat. Meski demikian, skrining dan diagnosis merupakan dua tahapan berbeda.
Hasil skrining membantu mengenali kemungkinan masalah, sedangkan penentuan kondisi mata dan penanganan yang tepat membutuhkan evaluasi tenaga kesehatan sesuai kebutuhan masing-masing individu.
Teknologi juga dapat membantu memperluas edukasi. Selain aplikasi WHOeyes, berbagai program pemeriksaan berbasis komunitas memanfaatkan perangkat skrining untuk mendukung proses pemeriksaan awal.
Penggunaan teknologi tersebut tetap perlu disertai prosedur yang sesuai, petugas terlatih, serta rujukan apabila ditemukan indikasi gangguan penglihatan.
Dengan demikian, manfaat teknologi bukan sekadar mempercepat pemeriksaan. Nilai pentingnya terletak pada kemampuan memperluas jangkauan layanan, meningkatkan kesadaran, dan membantu masyarakat memperoleh tindak lanjut yang diperlukan.
Dari Edukasi Gawai hingga Pemeriksaan Mata Gratis di Tangerang
Pentingnya deteksi dini menjadi salah satu latar belakang kegiatan Bakti Sosial Pemeriksaan Mata Gratis bertema “Melihat Lebih Jelas, Berbagi Lebih Luas” yang diselenggarakan JEC Eye Hospitals and Clinics bersama Parent Teacher Association (PTA) Secondary Syafana Islamic School.
Program ini melanjutkan semangat World Sight Day 2026 yang diperingati bulan Oktober melalui kampanye global “Love Your Eyes”. Sebanyak 250–300 peserta menjadi sasaran kegiatan, mencakup tenaga pendidik dan staf sekolah, masyarakat sekitar yang membutuhkan terutama kelompok dhuafa, serta anak didik Atta’awun Educare Kampus Lengkong.
Peserta memperoleh skrining mata melalui EyeCheck, edukasi kesehatan penglihatan, dan kacamata gratis bagi yang membutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan. Materi edukasi mencakup penggunaan gawai secara bijak, pentingnya istirahat mata, menjaga jarak pandang, dan mengenali perubahan penglihatan.
Prof. Dr. Tjahjono D. Gondhowiarjo, SpM(K), PhD, Senior Direktur Pengembangan dan Pendidikan JEC Eye Hospitals and Clinics, menekankan bahwa kelainan refraksi dapat dialami anak-anak maupun orang dewasa dan kerap tidak disadari sejak awal.
“Kelainan refraksi, seperti mata minus, plus, dan silinder, dapat dialami siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa. Kondisi ini kerap tidak disadari sejak awal, padahal dapat memengaruhi kenyamanan belajar, produktivitas, hingga kualitas hidup sehari-hari,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan pentingnya pemeriksaan berkala untuk mengenali gangguan penglihatan sedini mungkin. Pemeriksaan dapat diulang setiap enam bulan hingga satu tahun, menyesuaikan kondisi mata dan anjuran dokter.
- Gambar ilustrasi AI
Dari sisi komunitas, Sundus Wahidah, Ketua PTA Secondary Syafana Islamic School, menilai kegiatan tersebut menjadi kesempatan bagi orang tua, siswa, dan warga sekolah untuk belajar berbagi sekaligus memahami kebutuhan masyarakat.
“Pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui kepedulian terhadap lingkungan sekitar,” ujar Sundus.
Dukungan pemberian kacamata melibatkan M-Optik JEC. Mubadiyah, Kepala Divisi Marketing dan Komunikasi JEC Eye Hospitals and Clinics, menjelaskan bahwa kacamata diberikan kepada peserta yang membutuhkan berdasarkan hasil pemeriksaan.
Program tersebut menunjukkan bagaimana skrining mata, edukasi, dan akses terhadap alat bantu penglihatan dapat dipadukan dalam kegiatan berbasis komunitas.
Teknologi skrining mata akan lebih bermanfaat apabila diikuti kesadaran masyarakat untuk memeriksakan penglihatan secara berkala. Melalui kolaborasi itu, upaya tersebut diwujudkan lewat pemeriksaan mata gratis, edukasi penggunaan gawai yang lebih bijak, serta bantuan kacamata bagi peserta yang membutuhkan.
Tujuannya bukan hanya membantu masyarakat melihat lebih jelas, tetapi juga mendorong gangguan penglihatan dikenali lebih awal sebelum mengganggu aktivitas belajar, bekerja, dan kehidupan sehari-hari. (udn)