news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Radiator Mobil.
Sumber :
  • freepik

Jangan Asal Isi Radiator Mobil Pakai Air Biasa atau Air AC, Dampaknya Bisa Bikin Kantong Jebol

Air biasa dan air buangan AC kerap digunakan untuk mengisi radiator mobil. Padahal, keduanya berisiko menimbulkan korosi hingga mengganggu pendinginan mesin.
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 19:00 WIB
Editor :

Jakarta, tvOnenews.com - Mengisi radiator mobil menggunakan air biasa atau air buangan AC masih menjadi kebiasaan sebagian pengendara. Padahal, penggunaan cairan tersebut dalam jangka panjang berisiko menyebabkan kerusakan mesin.

Radiator berfungsi menjaga suhu mesin tetap stabil selama kendaraan digunakan. Pemilihan cairan pendingin yang tidak tepat dapat mengganggu kinerjanya.

Air biasa memang mampu menyerap panas sehingga bisa digunakan dalam keadaan darurat. Namun, cairan tersebut tidak memiliki perlindungan khusus seperti radiator coolant.

Salah satu masalah utama berasal dari kandungan mineral dalam air keran maupun air sumur. Mineral tersebut dapat membentuk kerak pada saluran radiator.

Penumpukan kerak berpotensi menghambat sirkulasi cairan pendingin di dalam mesin. Akibatnya, pelepasan panas menjadi kurang optimal dan risiko overheat meningkat.

Selain menimbulkan kerak, penggunaan air biasa juga dapat mempercepat korosi. Kondisi ini berisiko merusak radiator, water pump, hingga komponen sistem pendingin lainnya.

Lantas, bagaimana jika radiator mobil diisi menggunakan air buangan AC? Sebagian pemilik kendaraan menganggap cairan tersebut lebih aman karena terlihat jernih.

Air AC merupakan hasil pengembunan uap air yang umumnya memiliki kandungan mineral rendah. Karena itu, risiko pembentukan kerak mineral relatif lebih kecil dibandingkan air keran.

Meski demikian, air buangan AC bukan berarti sepenuhnya aman bagi radiator. Cairan tersebut berpotensi mengandung debu, kotoran, maupun kontaminan dari saluran pembuangan.

Air AC juga tidak memiliki kandungan zat antikarat untuk melindungi komponen mesin. Penggunaan terus-menerus dapat meningkatkan risiko korosi pada sistem pendingin.

Korosi yang dibiarkan berpotensi menimbulkan kebocoran dan mengganggu sirkulasi cairan radiator. Kerusakan tersebut dapat menyebabkan suhu mesin meningkat secara tidak normal.

Berbeda dengan air biasa, radiator coolant dirancang khusus untuk sistem pendingin kendaraan. Cairan ini mengandung bahan tambahan yang membantu mencegah korosi dan melindungi komponen mesin.

Coolant juga diformulasikan untuk memberikan perlindungan terhadap suhu ekstrem. Penggunaannya harus mengikuti jenis dan spesifikasi yang direkomendasikan pabrikan mobil.

Sementara itu, air distilasi lebih cocok digunakan untuk mencampur coolant konsentrat sesuai petunjuk produk. Kandungan mineralnya yang rendah membantu mengurangi risiko pembentukan kerak.

Namun, air distilasi tetap tidak disarankan sebagai pengganti coolant untuk penggunaan jangka panjang. Pasalnya, air tersebut tidak mengandung zat pelindung antikarat.

Jika coolant habis dalam kondisi darurat, air bersih bisa digunakan sebagai solusi sementara. Pengendara tetap perlu memeriksa penyebab berkurangnya cairan dan mengembalikan campuran coolant sesuai spesifikasi.

Pengendara juga tidak boleh membuka tutup radiator ketika mesin masih panas. Tekanan dalam sistem pendingin dapat membuat cairan panas menyembur dan menyebabkan luka bakar.

Pemeriksaan cairan radiator secara berkala menjadi langkah penting untuk mencegah kerusakan. Perhatikan volume coolant, perubahan warna, serta kemungkinan munculnya endapan atau kebocoran.

Dengan demikian, penggunaan air biasa maupun air AC secara terus-menerus sebaiknya dihindari. Memilih radiator coolant yang tepat dapat membantu menjaga performa pendinginan dan mencegah biaya perbaikan mesin yang mahal. (fan)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
14:03
08:06
08:08
08:29
08:13

Viral