- Tim tvOne - Abdul Rohim
Getuk Runting, Jajanan Tradisional Khas Pati Rasanya Gurih Manis dan Pulen
Pati, Jawa Tengah - Menjamurnya makanan modern dan cepat saji ternyata tidak menggusur keberadaan makanan tradisional. Getuk runting Pati misalnya, makanan yang terbuat dari ketela ini masih banyak diminati masyarakat. Selain harganya murah, getuk ini juga cocok sebagai pengganti sarapan pagi.
Di warungnya yang ada pinggir jalan raya Pati–Tayu, setiap hari Siti Rohmah disibukkan melayani pembeli yang ingin menikmati getuk buatannya.
Sudah lebih dari delapan tahun, warga Desa Tambaharjo, Kecamatan Pati Kota, Kabupaten Pati, Jawa Tengah ini menekuni usaha pembuatan getuk. Getuk buatan Siti Rohmah ini lebih dikenal masyarakat dengan sebutan Getuk Runting.
Nama Getuk Runting diambil dari tempat pembuatan Getuk, yaitu di Dukuh Runting. Berbeda dengan makanan tradisional getuk dari daerah lain, Getuk Runting terasa lebih halus dan pulen. Selain sangat cocok untuk oleh-oleh, Getuk Runting juga nikmat dimakan pada waktu pagi hari sambil minum kopi.
“Getuk Runting ini memang kesukaan saya dan disamping itu saat sekarang kita jarang menemui makanan tardisional, jadi ya satu satunya yang masih eksis di pati ya getuk runting ini. Getuk Runting ini khas, disamping gurih, srondengnya (parutan kelapa) manis juga teksturnya lembut jadi ketelanya itu pilihannya pas. Sangat cocok di santap pagi hari untuk sarapan, apalagi sambil ngopi, nikmat sekali pokoknya,” ujar Mufaad, salah seorang pembeli Getuk Runting, Minggu (30/1/2022).
Penjual Getuk Runting, Siti Rohmah menjelaskan, Proses pembuatan Getuk Runting dimulai dari mengupas ketela. Setelah dikupas, ketela tersebut kemudian dicuci hingga bersih. Agar menghasilkan getuk yang pulen, ketela ditanak selama tiga jam.
Setelah matang, ketela kemudian diambil dan di dinginkan. Setelah dingin, barulah ketela tersebut dihaluskan dengan cara ditumbuk menggunakan sebuah kayu yang disebut alu. Pada saat ditumbuk, ketela diolesi minyak kelapa, hal ini dimaksudkan agar getuk tidak terasa lengket waktu dimakan.
Untuk memberi tambahan rasa, getuk runting tidak menggunakan perasa buatan, namun menggunakan kelapa dan gula merah. Parutan kelapa dan gula merah yang di masak ditaburkan diatas getuk.
“Proses pembuatan Getuk Runting semua masih menggunakan manual dengan tangan dan menggunakan bahan alami dari ketela, kelapa, gula merah tanpa ada bahan pengawetnya,” jelasnya.
Dalam sehari, Siti Rohmah mengaku dapat menghabiskan lima belas kilogram ketela. Dari lima belas kilogram ketela tersebut bisa untuk membuat seratus lima puluh bungkus getuk, dengan harga jual per porsi Rp2.500 sampai Rp3.000.