- Tangkapan layar
Jadi yang Bohong Kubu Yai Mim atau Sahara? Denny Darko Ungkap Hasil Terawangannya, Ternyata...
Jakarta, tvOnenews.com — Publik Indonesia tengah heboh soal perseteruan dua figur yang sebelumnya tak pernah saling bersinggungan. Yai Mim sosok religius yang dikenal karismatik dan Sahara perempuan yang mendadak viral karena pengakuannya.
Jawaban siapa yang salah tak kunjung jelas. Masing-masing kubu mengklaim pihaknya paling benar. Netizen pun terbagi dua, bahkan saling serang di kolom komentar.
Untuk mendapatkan jawaban siapa yang sebenarnya bohong? Yai Mim atau Sahara? Simak ulasan Denny Darko berikut ini.
- Tangkapan layar
Di tengah hiruk-pikuk itu perseteruan Yai Mim dan Sahara, datang analisa dari Denny Darko, mentalist kondang yang dikenal dengan analisis energi dan pembacaan alam bawah sadar.
Dan hasil terawangan Denny Darko justru melenceng jauh dari dugaan publik.
Dalam sebuah video yang kini banyak dibagikan ulang, Denny Darko menyatakan bahwa persoalan terbesar bukan pada Yai Mim atau Sahara, melainkan pada kegilaan publik dalam mencerna informasi.
“Kita selalu ingin tahu siapa yang benar dan siapa yang salah. Padahal sering kali, yang salah justru adalah cara kita melihat,” ujar Denny dengan nada serius.
Menurutnya energi dari kedua tokoh ini tidak sepenuhnya negatif. Yang justru terasa kuat adalah energi keributan dari para penonton.
“Kalau saya terawang, energinya paling panas bukan dari Yai Mim atau Sahara. Tapi dari netizen yang marah-marah tanpa tahu duduk perkaranya,” lanjutnya.
Fenomena Post-Truth: Fakta Bukan Lagi Penting, yang Penting Siapa yang Lebih Dramatis
- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Denny Darko mengibaratkan kasus ini sebagai “pertunjukan massal tanpa sutradara”, di mana publik menjadi hakim tanpa fakta, dan kebenaran ditentukan oleh siapa yang lebih viral.
“Hari ini, orang tak lagi cari kebenaran. Mereka cuma cari pembenaran. Begitu cocok dengan emosinya, langsung dianggap fakta,” ucapnya.
Inilah yang oleh para sosiolog disebut “era post-truth” ketika fakta bisa kalah oleh narasi.
Kasus ini menjadi bukti bahwa masyarakat kita lebih senang menonton drama ketimbang mencari kejelasan.