- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Gubernur Dedi Mulyadi Soroti Kisah Viral Asep Mudik Jalan Kaki ke Ciamis, Heran Penjual Cilok itu Tak Punya Ongkos
Subang, tvOnenews.com - Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi menyoroti kisah viral Asep Kumala Seta (31), penjual cilok yang nekat mudik berbekal jalan kaki dari Cibaduyut, Kota Bandung menuju Ciamis.
Hal yang membuat Dedi Mulyadi menyikapi kisah viral tersebut, Asep mengaku tidak memiliki ongkos saat Lebaran menuju Ciamis namun memutuskan mudik melewati kerasnya aspal jalanan.
Dedi Mulyadi menyoroti penyebab Asep tidak memiliki ongkos sehingga nekat jalan kaki. KDM sapaan akrabnya, langsung bertanya alasan Asep mudik tanpa berbekal uang di sakunya.
Ia mulanya bertanya kegiatan sehari-hari Asep terutama saat berjualan cilok untuk bertahan hidup di Bandung.
"Kamu jualan ciloknya di mana?," tanya Dedi Mulyadi dilansir tvOnenews.com dari kanal YouTube Lembur Pakuan Channel, Jumat (20/3/2026).
Dedi Mulyadi Soroti Penyebab Asep Tidak Punya Ongkos saat Mudik ke Ciamis
- Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel
Asep mengaku biasanya berjualan cilok di area Terminal Leuwi Panjang, Bandung. Ia kerap kali meraup penghasilan sebesar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu per hari selama Ramadhan.
Di balik itu, warga Ciamis tersebut tinggal di mess disediakan oleh bos usaha ciloknya, Agus Jaya. Dari sinilah, KDM heran kenapa Asep kekurangan ongkos saat pulang kampung ke Ciamis.
"Bapak kan punya bos," ujar Dedi Mulyadi.
Asep justru memberikan jawaban tak terduga. Ia mengaku sangat malu meminta uang ongkos maupun Tunjangan Hari Raya (THR) ke bos ciloknya.
Mantan Bupati Purwakarta itu bertanya-tanya alasan Asep tidak meminta ongkos. Kata KDM, Asep selaku karyawan berhak mendapat THR dari bosnya.
"Bapak ini karyawan bosnya. Bahkan bosnya punya kewajiban untuk mengasuransikan Bapak. Bosnya kan orang mampu bukan?," jelas KDM.
Asep tak menafikkan sang bos orang mampu. Usaha cilok bosnya sukses berkat 3-8 karyawan sehingga bisa menghasilkan sekitar Rp180 ribu sehari.
"Artinya bosnya memiliki keuangan yang baik. Pertanyaan saya walaupun bapak sudah pulang, secara keuangan, secara ketenagakerjaan, Bapak selama setahun berjualan menyimpan sisa (penghasilan) setiap hari?," bebernya.
KDM Kaget Asep Selalu Habiskan Penghasilan Jualan Cilok
Alih-alih menabung penghasilannya, Asep justru selalu boros menghabiskan uangnya. Penjual cilok itu mengaku uangnya kerap kali dihabiskan untuk mendaki gunung.
Gubernur Jabar itu semakin kaget mendengar pengakuan Asep. Ia membandingkan kisah tukang becak yang sudah paruh baya di Cirebon.
KDM menjelaskan, tukang becak tersebut selalu menyimpan penghasilan sebesar Rp10 ribu di jok becak. Pria paruh baya itu pun bisa mudik Lebaran dari hasil tabungan sebesar Rp2 juta.
Sebaliknya, KDM terkejut Asep pilih menghabiskan uang demi memenuhi hobi mendaki gunung. Padahal warga Ciamis itu masih muda yang seharusnya bisa mengatur keuangannya.
"Bapak kan anak muda umur 30 tahun lebih, kenapa sampai ongkos ke Ciamis nggak punya? Sedangkan Bapak tiap hari jualan? Karena uangnya oleh Bapak dihabiskan untuk kegiatan naik gunung," paparnya.
KDM Semprot Asep
Asep seketika terdiam membisu. KDM langsung menyayangkan mentalitas anak muda zaman sekarang.
Ia menuturkan, apabila penghasilan berjualan cilok berkurang di Ramadhan, justru Asep tidak boleh menghaburkan uangnya.
"Sehingga pas Lebaran, pas puasa Bapak harusnya istirahat selama sebulan karena jumlah pembeli juga menurun, Bapak kehabisan uang untuk pulang mudik ke Ciamis. Berarti kesusahan Bapak diciptakan oleh siapa?," sentil KDM.
Namun begitu, pria bernama Dedi Mulyadi itu tetap memberikan bantuan kepada Asep. Ia mengguyur uang sebesar Rp4 juta agar Asep membangun usaha cilok sendiri.
Sebelumnya, kisah Asep mudik berjalan kaki viral di media sosial. Ia nekat menuju kampung halamannya tanpa bekal ongkos yang cukup.
Ironisnya, Asep hanya menggantungkan 50 butir cilok dan sebotol sirup. Tujuannya untuk menambah uang ongkos saat mudik ke Desa Gunungcupu, Sindangkasih, Kabupaten Ciamis.
Di balik kekurangan ongkos tersebut, Asep mengaku hasil dagang cilok berkurang drastis selama bulan Ramadhan. Karena kekurangan ongkos, hal ini menyebabkan ia mudik berjalan kaki akibat tak mampu membeli tiket bus.
Langkah perjalanan Asep tidak berjalan mulus. Ia sempat menumpang truk dari Rancaekek menuju Nagreg.
Alih-alih menuju Ciamis, truk ditumpangi Asep berbelok ke arah Kadungora. Penjual Cilok itu pun turun sehingga tersesat tak tahu arah.
Beruntungnya Asep bertemu wartawan. Ia langsung dibekali ongkos untuk melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya.
(hap)