- YouTube/KANGDEDIMULYADICHANNEL
Respons Tegas Dedi Mulyadi Soal Kasus Siswa Bully Guru di Purwakarta, Minta Sanksi Mendidik Bukan Skorsing
“Setiap hukuman harus memberikan manfaat bagi pembentukan karakter. Bagaimanapun itu anak yang perlu dibimbing,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mendapat beragam respons dari netizen di media sosial. Mayoritas mendukung usulan Dedi Mulyadi yang dinilai lebih efektif dibandingkan skorsing.
“19 hari di rumah enak banget, paling ke mal atau main TikTok, enggak ada manfaatnya. Mending disuruh bersih-bersih sekolah,” tulis salah satu netizen.
Komentar lain juga menyuarakan hal serupa.
“Setuju, Pak. Kalau skors malah seperti libur sekolah. Lebih baik dihukum di sekolah sambil dibimbing,” ujar netizen lainnya.
Bahkan, ada pula yang mengusulkan agar ide anak masuk ke barak militer kembali dilakukan.
“Barak militer aktifkan lagi, Pak,” tulis seorang pengguna media sosial.
Fenomena ini menunjukkan bahwa masyarakat mulai menginginkan sistem pembinaan yang lebih tegas namun tetap edukatif dalam dunia pendidikan.
Kasus di Purwakarta ini pun menjadi pengingat penting bagi semua pihak tentang perlunya penguatan nilai-nilai etika, sopan santun, serta penghormatan terhadap guru di lingkungan sekolah.
Di sisi lain, peristiwa ini juga membuka diskusi lebih luas tentang metode penanganan kenakalan siswa.
Apakah pendekatan hukuman konvensional seperti skorsing masih relevan, atau justru perlu diganti dengan metode pembinaan yang lebih konstruktif dan berkelanjutan. (adk)