news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Guru BK SMKN 2 Garut peluk siswi menjadi korban kasus viral cukur rambut paksa di hadapan Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM).
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel

Di Hadapan KDM, Guru BK Ngaku Menyesal Cukur Rambut Paksa Sebabkan Siswi SMKN 2 Garut Trauma: Saya Berdosa

Guru BK SMKN 2 Garut, Ai Nursaidah meminta maaf sudah paksa memotong rambut belasan siswi. Ia menyampaikan ini saat diundang Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM).
Kamis, 7 Mei 2026 - 05:01 WIB
Reporter:
Editor :

Bandung, tvOnenews.com - Guru BK SMKN 2 Garut, Ai Nursaidah mengaku salah telah memotong rambut belasan siswi. Ia mengungkapkan hal ini di hadapan oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM).

Pasalnya, KDM langsung turun tangan menyikapi polemik terjadi di SMKN 2 Garut. Video rambut berwarna 18 siswi saat dipotong paksa oleh guru BK viral di media sosial.

Peristiwa pemotongan rambut belasan siswi SMKN 2 Garut oleh guru BK juga menuai reaksi keras dari publik. Maka dari itu, KDM mengundang guru BK dan perwakilan siswi yang menjadi korban.

Di momen ini, Ai Nursaidah menyesal atas tindakannya kepada belasan siswi. Dengan suara bergetar, ia meminta maaf sudah membuat kegaduhan akibat mencukur rambut secara paksa.

"Saya minta maaf ke anak-anak. Saya sekarang psikologisnya lagi enggak baik," ungkap Ai Nursaidah dilansir tvOnenews.com dari Lembur Pakuan Channel, Kamis (7/5/2026).

Ia menyadari tindakannya terhadap belasan siswi sangat berlebihan. Peristiwa ini hanya membuat 18 siswi jurusan Broadcasting trauma berat.

"Pada akhirnya, saya sadar dan menyadari saya salah, saya bersalah, saya merasa berdosa sama anak-anak," ucapnya.

Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi (KDM) undang guru BK yang potong rambut 18 siswi SMKN 2 Garut
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel

Dedi Mulyadi langsung menimpali ungkapan tersebut. Menurutnya, Ai tidak melakukan kesalahan sepenuhnya.

Gubernur Jabar itu melihat ada niat tulus dari Ai. Ia memahami tindakan mencukur rambut secara paksa bagian dari upaya membentuk karakter dan pendidikan siswa.

Hanya saja tindakan guru membentuk karakter pendidikan terhadap siswa sekolah memiliki batasan. Hal ini guna menghindari polemik hingga trauma bagi para murid.

"Menurut saya enggak. Niat ibu dalam hati tujuannya untuk memperbaiki, tujuannya karena rasa sayang, bukan karena rasa benci, bukan karena rasa ketidaksukaan," tutur KDM.

Dedi Mulyadi menjelaskan tindakan dari guru sebagai teguran untuk para siswi. Menurutnya, peristiwa ini menggambarkan tanda ekspresi AI menyayangi anak didiknya terutama dari jurusan Broadcasting.

"Artinya, bahwa ekspresi ibu memukul seperti saya sering dipukul ibu saya, itu menjadi pukulan yang indah," terang KDM.

Mantan Bupati Purwakarta ini mengambil contoh saat dirinya ditempa membentuk karakter yang lebih baik. Ia mengaku di semasa kecil sering didik sangat keras oleh orang tuanya.

Namun begitu, hal itu sangat berarti karena berhasil membentuk kepribadiannya semakin baik. KDM mengaku pendidikan keras dari orang tua membawa dirinya menjadi orang sukses.

Namun begitu, Ai masih merasa dirinya telah berdosa. Ia telah mengakibatkan psikologi belasan anak didiknya terganggu dan mengalami trauma hebat.

Ai Nursaidah Ungkap Alasan Potong Rambut Siswi SMKN 2 Garut kepada KDM

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM) undang guru BK, jajaran sekolah, dan siswi SMKN 2 Garut
Sumber :
  • Tangkapan layar YouTube Lembur Pakuan Channel

Dalam kesempatan yang sama, Ai ditanya mengenai alasan dirinya merazia hingga memotong rambut siswi SMKN 2 Garut. Tak ayal, ia melakukan hal itu karena sesuai tugasnya menjadi guru BK.

Sementara, belasan siswi tersebut selalu bersemangat saat menimba ilmu. Bahkan, mereka tidak pernah bolos dan rajin secara akademis pendidikannya.

Ai Nursaidah menjelaskan kasus pemotongan rambut secara paksa berangkat dari keresahannya. Ia menilai penampilan belasan siswi sangat berlebihan.

"Yang meresahkan kami baru-baru ini tentang penampilan siswa. Mereka berkerudung cuma dalam hal badan, komestiknya berlebihan," terang guru BK SMKN 2 Garut itu.

Ai menuturkan siswa laki-laki SMKN 2 Garut sering mengeluh. Kata Ai, mereka sangat resah terhadap penampilan rambut berwarna siswi di sekolah.

Ia menjelaskan, tak sedikit siswi memperlihatkan rambut berwarnanya. Hal itu terjadi saat di dalam maupun luar area sekolah.

"Ke luar gerbang dibuka kerudungnya, masih pakai seragam, akumulasi dari sana dari sini," bebernya.

Pemandangan tersebut, kata dia, hal ini juga menimbulkan spekulasi negatif dari masyarakat sekitar. Ironisnya, persoalan ini membuat siswi jurusan Broadcasting menjadi sasaran tuduhan mereka.

"Yang disalahkan biasanya anak-anak Broadcasting aja. Itu anak bimbingan saya, saya sakit hati anak-anak saya digituin, 'Bu, ada yang colek-colek anak ibu dari sopir angkot'. Itu yang membuat saya resah," tutur Ai.

Kendati demikian, Ai mengaku tidak ada bukti minimal tayangan video, foto, dan sebagainya. Hal ini sebagai bukti bahwa anak didiknya direndahkan oleh banyak pihak.

Sementara, Dedi Mulyadi memahami keresahan dialami Ai. Namun peneguran terhadap siswa harus mengikuti aturan, setidaknya mengirim surat tertulis untuk menghadirkan orang tua mereka.

"Biasakan guru untuk memberikan surat kepada orang tuanya, minimal 'bahwa anak ibu bernama ini berpenampilan terlalu menor. Mohon kepada ibu untuk segera datang ke sekolah membicarakannya'," tukas KDM.

(hap)

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

05:59
01:27
00:49
02:49
02:17
01:53

Viral