- Cepi Kurnia/tvOne
Warga Jabar Berbondong-bondong Minta Dedi Mulyadi Fokus Atasi Kendala Akses SMKN 1 Rancabali, Bukan'Status' Sekolah
tvOnenews.com - Polemik terkait SMKN 1 Rancabali di Kabupaten Bandung ramai menjadi perbincangan publik setelah muncul kabar sekolah tersebut disebut “ditutup”.
Namun, penjelasan terbaru dari Dinas Pendidikan Jawa Barat justru menyebut sekolah itu bukan ditutup, melainkan dipindahkan ke lokasi baru yang dinilai lebih layak.
Penjelasan tersebut disampaikan Kepala Bidang PSMK Disdik Jabar, Edy Purwanto, dalam unggahan terbaru Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi di Instagram.
- Antara
Menurut Edy, selama ini SMKN 1 Rancabali memang belum memiliki gedung sendiri. Kegiatan belajar mengajar masih meminjam bangunan sekolah lain sejak bertahun-tahun lalu.
“SMKN 1 Rancabali belum memiliki gedung sendiri, kegiatan KBM masih meminjam pakai gedung SMPN 3 Cipelah sejak tahun 2013 serta di SDN 4 Barutunggul sejak tahun 2018,” jelas Edy.
Karena itu, Pemprov Jawa Barat berinisiatif membangun gedung permanen untuk SMKN 1 Rancabali.
Namun muncul kendala tata ruang karena wilayah Rancabali masuk zona hijau sehingga pembangunan sekolah permanen dinilai belum memungkinkan.
Setelah mencari alternatif, pemerintah akhirnya mendapatkan lahan baru di Desa Panundaan, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung.
Menurut Edy, lokasi tersebut sudah sesuai aturan tata ruang dan masuk zona kuning sehingga layak digunakan sebagai fasilitas pendidikan.
"Sejak tahun 2024, lahan ini sudah resmi bersertifikat atas nama Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk SMKN 1 Rancabali, Kabupaten Bandung, jadi landas hukumnya sudah lengkap, namun memang, pasti akan ada jarak tempuh yang berbeda antara sekolah yang baru dengan yang lama," jelas Edy.
Saat ini SMKN 1 Rancabali memiliki 337 siswa aktif dengan empat program keahlian, yakni ATPH, APHP, Kuliner, dan Perhotelan.
Meski begitu, penjelasan tersebut justru memunculkan reaksi beragam dari warganet.
Banyak yang menilai persoalan utama bukan soal status sekolah ditutup atau dipindahkan, melainkan jarak tempuh menuju lokasi baru.
- jabarprov.go.id
Dalam kolom komentar unggahan KDM tersebut, sejumlah warga mengaku khawatir banyak siswa kesulitan melanjutkan pendidikan karena akses menuju sekolah baru dinilai terlalu jauh dan minim transportasi umum.
"Lalu solusi untuk anak-anaknya apa pak? Inget itu bukan kota loh pak, jadi dengan jarak yang jauh bisa sangat menyulitkan mereka. JANGAN SAMPAI AKIBAT INI BANYAK ANAK YANG TIDAK TERPENUHI HAK NYA BERPENDIDIKAN," tulis salah seorang warganet @samiajixxx, di kolom komentar.
"Pak Dedi mending turun ke lapangan, Cipelah ke Panundaan itu jauh. Bohong pak gak 30 menit, saya aja baik mobil sejam 1/2," timpal netizen lain @risnaxxx.
"Pak @dedimulyadi71 saya kemarin datang langsung ke SMKN 1 Rancabali yang jadi masalah adalah jarak. Jarak yang teramat sangat jauh mengingat tidak ada kendaraan umum.. terancam tidak bisa melanjutkan sekolahnya. Ortupun gak semua mampu memfasilitasi kendaraan pribadi," tulis @qibixxx.
- jabarprov.go.id
Beberapa komentar lain mencoba meluruskan bahwa inti persoalan sebenarnya bukan penutupan sekolah, melainkan kekhawatiran siswa terhadap akses menuju lokasi baru.
"Pak coba tonton di video yang asli, bukan di Disdikjabarnya. Siswinya jelas kok ngasih tahu kalau bangunan dipindahkan tapi jauh. Mungkin salah dia menggunakan kata 'ditutup'. Jadi bapak salah paham, disdik salah paham. Jadi itu berita jelas bukan disinformasi pak," tulis @sekitarbandung, mencoba meluruskan yang sebenarnya terjadi.
Pasalnya, dalam unggahan tersebut, Dedi Mulyadi menegaskan bahwa informasi soal sekolah ditutup merupakan disinformasi.
Ia menyebut sekolah tetap berjalan, hanya berpindah lokasi ke tempat baru yang dianggap lebih layak secara hukum dan fasilitas.
"Sejatinya bukan ditutup, tapi dipindah ke lokasi yang baru. Hatur nuhun kepada @infokabbandung.co yang telah turut memberikan informasi tentang disinformasi yang terjadi. Sehingga kami dapat memberikan penjelasan utuh," kata Dedi Mulyadi, dalam keterangan unggahan Instagramnya tersebut.
Hingga kini, belum ada arahan dan kebijakan lebih lanjut dari Dedi Mulyadi maupun pihak Disdik Jabar untuk solusi dari masalah ini. (asl)