- Antara
Lengkap! 8 Pernyataan Sikap SMAN 1 Pontianak, Buntut Polemik Penilaian Juri Lomba Cerdas Cermat MPR RI di Kalbar
Jakarta, tvOnenews.com - SMAN 1 Pontianak resmi merilis pernyataan sikapnya. Hal ini bentuk menyikapi polemik terhadap penilaian dewan juri final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI 2026.
Polemik siswi SMAN 1 Pontianak dirugikan dewan juri menghebohkan publik. Jwaban peserta C2 dari Regu C, Josepha Alexandra dianulir dalam final Lomba Cerdas Cermat tingkat Kalimantan Barat (Kalbar).
Maka dari itu, pihak sekolah memberikan delapan pernyataan sikap melalui Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak, Indang Maryati. Hal ini telah dirilis melalui Instagram resminya pada Kamis (14/5/2026).
"Pernyataan sikap SMAN 1 Pontianak. Sehubungan dengan dinamika dalam pelaksanaan Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2026," ujar Indang Maryati dalam keterangan tertulisnya.
8 Sikap SMAN 1 Pontianak soal Dinamika Final Lomba Cerdas Cermat Empat Pilar MPR RI 2026
- YouTube/MPRGOID
Indang Maryati menyampaikan sikap pertama sebagai penegasan dari pihak sekolah. Sekolah mengambil langkah agar mendapatkan konfirmasi dan klarifikasi terhadap persoalan ini.
Langkah ini, kata Indang, bagian bentuk SMAN 1 Pontianak mendukung Lomba Cerdas Cermat diinisiasi MPR RI berlangsung secara transparan.
"Demi terwujudnya pelaksanaan dan mekanisme lomba yang transparan, objektif, dan akuntabel," terangnya.
Adapun sikap kedua, SMAN 1 Pontianak mengapresiasi dan berterima kasih kepada publik. Ia tidak menyangka keberanian Regu C banjir pujian dari publik.
"SMAN 1 Pontianak menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian, dukungan, serta kepedulian berbagai pihak dalam menyikapi kondisi ini," ucapnya.
Soal sikap ketiga, Indang menyampaikan keberanian dilakukan Josepha Alexandra bukan menyerang berbagai pihak. Sikap muridnya tidak bermaksud menjatuhkan kredibilitas instansi maupun individu terkait.
"SMAN 1 Pontianak menegaskan bahwa langkah yang dilakukan bukan merupakan upaya untuk menyerang ataupun menjatuhkan kredibilitas lembaga, penyelenggara lomba, maupun individu tertentu," tegasnya.
Lebih lanjut, ia menyampaikan pernyataan sikap yang keempat. Ia kembali menyoroti sesi saat memperebutkan jawaban.
Seorang MC, Shindy Lutfiana mulanya menyebut pertanyaan aspek pemilihan BPK. Josepha Alexandra alias Ocha dari Regu C SMAN 1 Pontianak menjadi sosok penekan tombol pertama untuk menjawab hal itu.
Kepala Biro Pengkajian Setjen MPR RI selaku dewan juri, Dyastasita WB langsung menyebut jawaban tersebut membuat Regu C minus lima poin.
Pertanyaan tersebut kemudian digeser ke Regu B dari SMAN 1 Sambas. Perwakilannya menyampaikan jawaban serupa yang diucap oleh peserta C2 dan diberi tambahan 10 poin.
Ocha langsung menunjukkan langkah keberaniannya. Ia mempertanyakan aspek penilaian dilakukan dewan juri lantaran jawaban yang dilontarkan Regu B serupa dengannya.
Dewan juri tetap berpegang teguh pada keputusannya. Sementara, juri lainnya selaku Kepala Bagian Sekretariat Badan Sosialisasi MPR RI, Indri Wahyuni menyinggung kebutuhan artikulasi.
Indang selaku Kepala Sekolah SMAN 1 Pontianak menegaskan, upaya dilakukan muridnya sudah tepat. Ocha hanya ingin mengetahui kesalahan dari jawaban tersebut.
"Sejak awal, SMAN 1 Pontianak tidak memiliki maksud untuk menganulir hasil lomba, melainkan semata-mata untuk memperoleh kejelasan melalui klarifikasi terhadap poin-poin yang dipersoalkan," bebernya.
Dalam pernyataan kelima, Indang menyinggung hasil akhir juara setelah babak final LCC Empat Pilar MPR RI tingkat Kalbar selesai. Hasil ini sempat membawa SMAN 1 Sambas ke tingkat nasional.
"SMAN 1 Pontianak menghormati hasil lomba yang telah ditetapkan serta menyampaikan dukungan penuh kepada SMAN 1 Sambas sebagai perwakilan," kata Kepsek SMAN 1 Pontianak tersebut.
Kepsek SMAN 1 Pontianak itu merilis pernyataan sikap keenam. Ia mengetahui final LCC Empat Pilar tingkat Kalbar akan digelar ulang oleh MPR RI.
Kendati demikian, Indang menegaskan, pihak sekolah memutuskan tidak akan mengirim perwakilan meski acara Lomba Cerdas akan diulang.
"SMAN 1 Pontianak menyatakan tidak akan terlibat dalam pelaksanaan lomba LCC yang diulang, sebagaimana informasi yang disampaikan oleh MPR RI," sebutnya.
Adapun sikap ketujuh, SMAN 1 Pontianak menyampaikan permohonan maaf. Polemik penilaian juri terus menimbulkan kegaduhan di ruang publik.
"SMAN 1 Pontianak memohon maaf atas kegaduhan yang terjadi, serta mengajak semua pihak untuk menyelesaikan permasalahan ini dengan semangat kebersamaan, saling menghargai, dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan," ucap Indang.
Kemudian, Indang menyampaikan pernyataan sikap yang terakhir. SMAN 1 Pontianak membutuhkan dukungan agar sistem pendidikan di Indonesia berlangsung lancar.
"SMAN 1 Pontianak memohon dukungan dari seluruh pihak ke depan, dalam upaya menciptakan iklim pendidikan yang kondusif, aman, dan nyaman bagi semua," harapnya.
"Demikian pernyataan ini disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab dan komitmen kami terhadap dunia pendidikan yang berintegritas. Sampai jumpa di LCC 4 Pilar 2027," tutup Indang.
(hap)