- Instagram @kemenkes_ri
Sebelum Meninggal, Dokter PPDS Adrian Rantung Diduga Mengunggah Pesan Terakhir
tvOnenews.com - Dokter PPDS Adrian Rantung diduga mengunggah pesan terakhir sebelum ditemukan meninggal dunia di kamar kosnya. Unggahan tersebut kini menyita perhatian publik terkait dugaan perundungan yang dialaminya.
TRIGGER WARNING: Informasi berikut tidak ditujukan untuk menginspirasi tindakan serupa. Jika Anda mengalami gejala depresi dengan kecenderungan bunuh diri, segera konsultasikan ke psikolog, psikiater, atau klinik kesehatan mental terdekat.
Adrian Rantung merupakan peserta Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Anestesiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado. Ia diduga meninggal dunia setelah mengalami tekanan berat selama menjalani pendidikan spesialis di rumah sakit tersebut.
Korban diduga mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari sejumlah senior selama bertugas di RSUP Prof. Dr. R.D. Kandou, Manado. Dugaan ini kemudian dikaitkan dengan penyebab kematiannya yang mendadak.
Berdasarkan informasi yang beredar di media sosial, dr. Adrian ditemukan tewas di kamar kosnya. Ia diduga menenggak cairan pembersih kamar mandi sebelum akhirnya dinyatakan meninggal dunia.
Kabar duka ini kemudian ramai diperbincangkan setelah akun Radietya Alvarabie di Threads mengunggah keterangan mengenai kematian dr. Adrian. Unggahan tersebut turut menyertakan tangkapan layar status terakhir korban di media sosial.
Dalam keterangannya, Radietya menuliskan bahwa dr. Adrian ditemukan meninggal dunia saat dijadwalkan bertugas jaga. Ia juga menyebut bahwa korban sempat menuliskan pesan terakhir sebelum kejadian tersebut terjadi.
“Telah berpulang dr. Adrian Rantung, PPDS Anestesi Universitas Sam Ratulangi Manado (RS Prof. Dr. Kandou). Ditemukan berpulang dengan kondisi (diduga) suicide saat jadwal jaga Almarhum. Yang bersangkutan menuliskan pesan terakhir. Merasa tertekan dengan kondisinya dan pendidikannya,” tulis Radietya Alvarabie di Threads.
Unggahan itu turut ditandai kepada sejumlah akun resmi, di antaranya @kemenkes_ri, @kemdiktisaintek.ri, hingga akun yang diduga milik Presiden dan Wakil Presiden. Radietya tampak berharap perhatian pihak berwenang terhadap kasus ini.
Selain keterangan tersebut, Radietya turut mengunggah tangkapan layar yang disebut sebagai status terakhir dr. Adrian di media sosial sebelum ia dinyatakan meninggal dunia. Status itu berupa kutipan yang dikaitkan dengan penulis Franz Kafka.
“There was no fight left in me. Not because I was weak, but because nothing felt worth the effort. I didn’t give up, I drifted out.” - Franz Kafka.
Diduga Pesan Terakhir dr Adrian Rantung. (Sumber: Treads @radietyaalvarabie)
Kutipan tersebut menjadi sorotan karena diunggah tidak lama sebelum dr. Adrian dikabarkan tidak hadir pada jadwal jaganya. Banyak warganet menilai unggahan itu sebagai isyarat kondisi emosional korban menjelang kematiannya.
Selain status tersebut, beredar pula tangkapan layar percakapan pribadi yang menggambarkan proses penemuan jenazah dr. Adrian. Sumber percakapan itu disebut berasal dari sesama PPDS yang identitasnya tidak ingin dipublikasikan.
Berdasarkan percakapan itu, dr. Adrian dijadwalkan bertugas jaga pada Minggu pagi, namun tidak kunjung datang. Rekannya kemudian memeriksa kos korban dan mendapati pintu tidak dibuka meski telah diketuk berkali-kali.
Setelah dipastikan tidak ada respons, pihak yang memeriksa akhirnya menemukan dr. Adrian telah tidak bernyawa di dalam kamarnya. Kejadian ini pun langsung menggemparkan lingkungan pendidikan kedokteran di Manado.
Rekan sesama PPDS turut menyebut bahwa dr. Adrian masih berada di semester awal pendidikan spesialis saat kejadian berlangsung. Kondisi tersebut disebut menjadi salah satu faktor tekanan yang dialami korban.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI kemudian menyampaikan duka mendalam atas berpulangnya dr. Adrian Rantung melalui akun Instagram resminya. Kemenkes menyebut semangat pengabdian almarhum selama menjalani pendidikan sebagai teladan nyata.
Kasus ini turut mendorong Kemenkes menghentikan sementara kegiatan pendidikan PPDS Anestesiologi di RSUP Kandou. Kebijakan tersebut diambil sembari menunggu hasil investigasi tim gabungan yang tengah mengusut dugaan perundungan ini. (agr/muu)
(anf)