Eks Jubir BNN Minta Evaluasi Operasi Narkoba Usai Tiga Polisi Gugur di Katingan
Jakarta, tvOnenews.com - Tragedi tewasnya tiga anggota Polri saat operasi penggerebekan narkoba di Desa Tumbang Kalemei, Kecamatan Katingan Tengah, Kabupaten Katingan, Kalimantan Tengah, dinilai menjadi momentum evaluasi terhadap pola penindakan kasus narkotika berisiko tinggi.
Ketiga anggota polisi yang gugur dalam operasi pada 1 Juli 2026 tersebut adalah Aipda Anumerta Yudi Perdana Putra, Aiptu Anumerta Sumarianto, dan Briptu Anumerta Noprandi Ramdana. Mereka diserang saat melakukan penangkapan terhadap seorang bandar sabu yang diduga mendapat perlawanan dari keluarga dan sejumlah warga sekitar.
Mantan Juru Bicara Badan Narkotika Nasional (BNN) periode 2015–2017, Kombes Pol (Purn.) Slamet Pribadi, menyampaikan belasungkawa atas gugurnya tiga personel tersebut. Menurutnya, peristiwa itu harus menjadi bahan evaluasi dalam pelaksanaan operasi penegakan hukum terhadap jaringan narkotika.
"Ini adalah sebuah titik balik, sebuah koreksi bagi kita semua. Operasi seperti ini seharusnya diperhitungkan secara matang agar risiko terhadap personel dapat diminimalkan," kata Slamet.
Ia menilai operasi penindakan terhadap jaringan narkotika membutuhkan perencanaan yang lebih komprehensif, termasuk pemetaan terhadap karakter pelaku, jumlah personel, hingga potensi perlawanan di lapangan.
Menurut Slamet, aparat perlu melakukan profiling secara menyeluruh sebelum operasi dilakukan, termasuk mengidentifikasi kekuatan jaringan, kemungkinan kepemilikan senjata, hingga dukungan yang dimiliki pelaku di lingkungan sekitar.
"Kalau diketahui pelaku memiliki senjata atau mendapat dukungan dari banyak orang, maka kekuatan personel yang diturunkan harus disesuaikan. Jangan sampai anggota menjadi korban," ujarnya.
Slamet juga menyoroti fenomena kampung narkoba yang menurutnya dapat membentuk hubungan saling menguntungkan antara bandar dan sebagian masyarakat sekitar.
Ia mengatakan Bandar narkoba kerap membangun pengaruh melalui bantuan sosial maupun aktivitas ekonomi sehingga ketika aparat melakukan penindakan, sebagian warga justru memberikan perlindungan kepada pelaku.
"Terjadi semacam simbiosis mutualisme. Bandar dianggap berjasa karena membantu kebutuhan masyarakat, padahal sumber dananya berasal dari bisnis narkotika," katanya.
Selain itu, ia menilai penanganan terhadap pelaku tindak pidana narkotika berbeda dengan kejahatan konvensional karena sebagian pelaku juga merupakan pengguna narkoba yang memiliki karakter psikologis berbeda.
Karena itu, menurutnya, pendekatan intelijen, analisis risiko, serta strategi operasi perlu disesuaikan dengan karakter jaringan narkotika agar keselamatan petugas tetap menjadi prioritas.
"Peristiwa ini harus menjadi evaluasi agar operasi pemberantasan narkoba ke depan dapat berjalan lebih profesional, terukur, dan mengutamakan keselamatan personel," ujar Slamet.