- Kolase tvOne/Siti Ma'rufah & BNPB
Dulu Pernah Selamat dari Tsunami Banten 2018, Survivor ini Kembali Ingatkan Betapa Seramnya Gunung Anak Krakatau
Berdasarkan waktu kejadian, tsunami mendadak menghantam pesisir Banten dan Lampung tanpa peringatan dini pada malam hari hingga surut pada dini hari.
Merujuk dari laporan BNPB, pemicu peristiwa ini akibat rangkaian erupsi yang membuat ketidakstabilan di lereng gunung berapi tersebut. Volume material yang jatuh mendorong air laut secara tiba-tiba sehingga menyebabkan gelombang tsunami.
"Pada malam 22 Desember 2018, seharian keadaan sekitar juga normal, tapi memang kondisi Anak Krakatau pada saat itu sedang batuk-batuk, tapi menurut warlok (warga lokal) itu sudah biasa. Jadi, kami tidak khawatir sama sekali," bebernya.
Anggap Enteng Kondisi Erupsi Gunung Anak Krakatau
Ia kembali mengenang saat dirinya dan keluarga liburan bersama ke wisata pantai di pesisir Banten. Ia selalu menginap di sebuah villa yang dianggap sudah menjadi langganannya.
"Setiap tahun selama lima tahun sebelum kejadian tsunami Banten Desember 2018, itu bukan first timer juga," jelasnya.
Ia dan keluarga saat itu mengaku sudah biasa mendengar kabar peningkatan status aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Ditambah, mereka diyakinkan oleh warga lokal tidak akan terjadi apa pun.
"Kami dan keluarga pun pas dengar ada berita seperti sekarang juga enggak takut pas di lokasi karena ada warlok yang meyakinkan," ungkapnya.
Kata dia, liburan yang niatnya untuk mencari kebahagiaan justru membawa malapetaka. Peristiwa tsunami mendadak menghantam keluarganya.
"Setelah kejadian tsunami yang kami alami, kayaknya sangat wajar kalau saya memperingatkan kakak-kakak supaya tidak mengalami hal yang sama seperti kami," tegasnya.
"Tindakan preventif untuk segera meninggalkan lokasi lebih baik. Jangan kemakan omongan warlok. Stay safe ya kakak-kakak," tambahnya.
Saat peristiwa tsunami terjadi, Prita tidak bisa melupakan ketika dirinya diterjang gelombang air laut yang menewaskan sekitar 437 orang meninggal dunia dan 7.202 orang luka-luka, serta 23 orang dinyatakan hilang.
Prita mengaku sangat pasrah. Ia juga merasa terpukul lantaran bayinya tidak bisa diselamatkan akibat penginapannya hancur lebur diterjang oleh pasang air laut yang menyapu pesisir pantai.
"Oh iya, hari itu kebetulan ulang tahun saya. Jadi, pada saya saat di dalam air, saya sudah pasrah, dan kepikiran bahwa tanggal lahir dan wafat di nisan saya sama tanggalnya. Pada saat itu juga, saya tersadar bahwa anak saya yang bayi terlepas dari gendongan saya karena villa kami roboh dihantam tsunami," paparnya.