- Kolase tvOnenews.com / Instagram @giapratamamd @claurakiehl @sumargodenny
3 Figur Publik yang Bereaksi atas Kasus Yurizal Pasien BPJS, dr. Gia Ajak Berempati
tvOnenews.com - Kasus Yurizal, pasien BPJS yang mengeluhkan lamanya waktu tunggu kamar rawat inap sebelum meninggal dunia, memicu reaksi dari sejumlah figur publik. Cinta Laura, dr. Gia, dan Denny Sumargo turut menyoroti isu pelayanan kesehatan serta pentingnya empati tenaga medis terhadap pasien BPJS.
Kasus ini bermula ketika Yurizal Tri Chaerawan menumpahkan keluhannya melalui akun Threads pribadinya, @yurizaltrich. Sebagai pasien BPJS, ia mengaku telah menunggu delapan jam tanpa mendapatkan ruangan di Instalasi Gawat Darurat. Yurizal sengaja tidak menyebut nama rumah sakit tersebut demi menjaga nama baiknya.
Sembilan hari setelah mengunggah curhatannya, Yurizal Tri Chaerawan dinyatakan meninggal dunia pada Jumat, 31 Juli 2026. Kasus pasien BPJS ini pun semakin viral setelah muncul rundungan dan komentar nirempati dari sejumlah oknum tenaga kesehatan terhadap keluhan almarhum di media sosial.
Kronologi Keluhan Yurizal di Threads
Pada 22 Juli 2026, Yurizal mengunggah pengalamannya melalui Threads. Ia mengaku telah menunggu sekitar delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap.
"8 jam belum dapat ruangan. Ga mau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis Yurizal.
Menurut keterangan sahabatnya, Yurizal bahkan baru dipindahkan ke ruang rawat inap setelah terkatung-katung selama dua hari di IGD. Kabar duka atas meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan kemudian disampaikan pihak keluarga melalui sepupunya, Hilda Aprianti Perdana.
Meski belum ada bukti medis resmi yang menyatakan kematiannya disebabkan langsung oleh lamanya waktu tunggu kamar, keluarga menyayangkan dugaan keterlambatan penanganan serta tekanan psikologis akibat perundungan nakes.
1. Cinta Laura
Cinta Laura menjadi salah satu figur publik yang memberikan tanggapan mendalam soal kasus ini. Melalui akun Threads dan Instagram pribadinya, ia menyoroti stigma yang masih kuat di masyarakat bahwa pasien BPJS kerap mendapat perlakuan berbeda dibanding pasien umum.
Cinta juga mengkritik rendahnya tingkat kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan di Indonesia. Ia menilai hal itu lahir dari akumulasi cerita buruk pasien yang merasa tidak mendapat pertolongan darurat saat paling dibutuhkan. Ia pun mendesak transparansi apabila dugaan kelalaian atau diskriminasi pelayanan ini terbukti benar.