- Instagram/maiaestiantyreal - X/LambeSahamjja
Maia Estianty Soroti Kasus Yurizal Pasien BPJS, Ingatkan Nakes untuk Jaga Empati
tvOnenews.com - Maia Estianty ikut menyoroti polemik yang mencuat setelah meninggalnya Yurizal Tri Chaerawan.
Melalui unggahan di media sosial, musisi sekaligus produser tersebut menyampaikan rasa prihatin terhadap kondisi pelayanan kesehatan, khususnya bagi peserta BPJS Kesehatan, sembari mengingatkan pentingnya empati dalam melayani pasien.
Perhatian publik terhadap kasus ini semakin besar setelah kisah Yurizal viral di media sosial.
Sebelum meninggal dunia, Yurizal sempat menceritakan pengalamannya menunggu hingga delapan jam untuk mendapatkan kamar rawat inap saat menggunakan layanan BPJS Kesehatan.
Dalam unggahan di platform Threads pada 22 Juli 2026, Yurizal menuliskan keluhannya.
"8 jam belum dapat ruangan, gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS."
Unggahan tersebut kemudian ramai diperbincangkan dan memicu beragam respons dari masyarakat maupun tenaga kesehatan.
- X @LambeSahamjja
Pada Jumat (7/8/2026), Maia Estianty turut menyampaikan pandangannya melalui akun Threads @maiaestiantyreal.
Ia mengaku selama ini rutin membayar iuran BPJS Kesehatan, termasuk untuk para karyawannya, meski belum pernah memanfaatkan fasilitas tersebut karena masih diberi kesehatan.
"Aku bayar BPJS, bahkan karyawanku juga, tapi aku ga pernah pake (alhamdulillah sehat)," tulis Maia.
Ia juga mengaku merasa iba melihat antrean panjang pasien BPJS saat berada di rumah sakit.
"Tapi kadang kasian kalo pas di RS, liat pasien BPJS antri panjang banget, aku pun mungkin ga sanggup kalo sakit kudu ngantri."
Tak hanya memberikan semangat kepada para pengguna BPJS, Maia juga menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan yang setiap hari menghadapi banyak pasien.
Namun, ia mengingatkan agar para tenaga medis tetap menjaga tutur kata saat berinteraksi dengan pasien.
"Semangat para pemakai BPJS. Juga buat para nakes, kami tau Anda lelah krn pasien yang banyak, tp bukankah kalian memang sdh mendedikasikan hidup Anda untuk menolong yang sakit?"
"Semangat para nakes, perjuangan kalian tentunya akan dibalas oleh Allah. Tapi jangan berkata-kata buruk ke pasien ya."
- X @zoelfick
Kasus Yurizal sendiri terus menjadi perhatian publik.
Setelah kabar meninggalnya pada 31 Juli 2026, berbagai komentar bernada sinis yang sebelumnya ditujukan kepada Yurizal oleh sejumlah tenaga kesehatan kembali menjadi sorotan.
Gelombang kritik dari masyarakat pun bermunculan. Sejumlah pihak, mulai dari anggota DPR, pemerintah, rumah sakit hingga institusi pendidikan kedokteran, turut memberikan respons terhadap peristiwa tersebut.
Sejumlah tenaga kesehatan yang sebelumnya diketahui menuliskan komentar bernada tidak empatik akhirnya menyampaikan permintaan maaf secara terbuka.
Salah satunya adalah Norma Zahara, pegawai PPPK paruh waktu di RSUD dr. Soekardjo Kota Tasikmalaya.
Setelah videonya meminta maaf beredar dan mendapat sorotan luas, Norma resmi mengundurkan diri dari jabatannya pada Kamis (6/8/2026).
Selain itu, dokter umum dr. Herdiana Ayu Saputri yang bertugas di UPT Puskesmas Pakisaji, Kabupaten Malang, juga dinonaktifkan sementara dari pelayanan klinik menyusul dugaan komentar bernada negatif terkait kasus Yurizal.
Di sisi lain, RS Pusri mengumumkan telah mengakhiri kerja sama dengan Tamara Dewi Jasmine sehari setelah polemik tersebut mencuat.
Sementara itu, RSUP dr. Sardjito Yogyakarta juga mengambil langkah tegas dengan menonaktifkan sementara dokter residen Elda Puri Rahardini.
Dokter Elda diketahui sedang menjalani Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKMK) UGM dengan lokasi pendidikan di RSUP dr. Sardjito.
Kasus Yurizal Tri Chaerawan kini tak hanya menjadi perbincangan mengenai pelayanan kesehatan dan akses pasien BPJS, tetapi juga memunculkan diskusi luas tentang etika profesi, empati tenaga kesehatan, serta pentingnya menjaga sikap profesional dalam berinteraksi, baik di lingkungan pelayanan medis maupun di media sosial. (gwn)