- Instagram @fahiramira
Viral Selebgram Fahira Almira Ungkap Perbedaan Diagnosis Usus Buntu di Indonesia dan Malaysia, Diduga Cuma Black Campaign?
tvOnenews.com - Selebgram Fahira Almira tengah menjadi sorotan setelah membagikan pengalaman medisnya saat mengalami masalah pada bagian perut dan mendapatkan hasil pemeriksaan yang berbeda ketika mencari second opinion ke Malaysia.
Cerita tersebut awalnya dibagikan Fahira melalui media sosial dan kemudian viral.
Ia mengaku sempat mendapat diagnosis radang usus buntu atau apendisitis setelah menjalani pemeriksaan di Indonesia.
Bahkan, berdasarkan penuturannya, ia sempat disarankan menjalani operasi.
Namun, Fahira memilih tidak langsung mengambil tindakan. Ia kemudian terbang ke Penang, Malaysia, untuk mendapatkan pendapat medis kedua. Di sana, ia mengaku mendapat hasil pemeriksaan berbeda dan akhirnya tidak menjalani operasi.
- tvOnenews.com Edit / Instagram @fahiramira
Unggahan tersebut memicu perdebatan karena tidak hanya membahas pengalaman pribadi Fahira, tetapi juga menyinggung perbedaan hasil pemeriksaan antara fasilitas kesehatan di Indonesia dan Malaysia.
Di tengah polemik, muncul pula dugaan bahwa konten tersebut memiliki unsur promosi rumah sakit atau produk kesehatan.
Namun, hingga kini belum ada konfirmasi resmi yang membuktikan adanya kerja sama komersial atau endorsement antara Fahira dan pihak rumah sakit di Penang.
Lantas, apa sebenarnya yang terjadi? Berikut rangkaian fakta kontroversi Fahira Almira yang perlu diketahui.
Fahira Almira Viral Usai Ceritakan Pengalaman Didiagnosis Usus Buntu
Polemik bermula dari video Fahira yang viral di media sosial pada 10 Agustus 2026.
Dalam video tersebut, Fahira menceritakan dirinya sempat memeriksakan kondisi kesehatan ke beberapa rumah sakit di Indonesia. Ia mengaku mendapatkan diagnosis usus buntu dan disarankan untuk menjalani operasi.
Menurut penuturannya, diagnosis tersebut didapat setelah pemeriksaan yang menunjukkan ukuran apendiks sekitar 8,1 milimeter. Fahira kemudian mengaku sempat meminta pemeriksaan darah untuk mengetahui kadar leukosit.
Namun, menurut cerita Fahira, dokter menilai pemeriksaan yang sudah dilakukan cukup untuk menentukan diagnosis sehingga pemeriksaan darah tambahan tidak diperlukan. Ia pun sempat mempercayai rekomendasi tersebut karena merasa dirinya bukan tenaga medis.
Dalam kondisi khawatir, Fahira bahkan mengaku sudah mendatangi bagian administrasi untuk menanyakan perkiraan biaya operasi dan ketersediaan kamar.
Namun, sebelum menjalani tindakan, ia memutuskan mencari pendapat medis lain.