- Instagram @fahiramira
Viral Selebgram Fahira Almira Ungkap Perbedaan Diagnosis Usus Buntu di Indonesia dan Malaysia, Diduga Cuma Black Campaign?
Memilih Terbang ke Penang untuk Mencari Second Opinion
Fahira kemudian berangkat ke Penang, Malaysia, untuk mendapatkan second opinion.
Ia mengatakan keputusan tersebut diambil karena khawatir kondisi apendiksnya memburuk atau pecah jika memang benar mengalami radang usus buntu. Setibanya di Penang, Fahira berkonsultasi dengan dokter dan menjalani pemeriksaan lanjutan.
Menurut penjelasan Fahira, dokter di sana kemudian menyarankan pemeriksaan CT scan untuk melihat kondisi apendiks secara lebih menyeluruh.
Hasil pemeriksaan inilah yang kemudian menjadi bagian paling ramai dari ceritanya.
Fahira mengaku hasil CT scan di Penang menunjukkan apendiksnya dalam kondisi normal dan tidak memperlihatkan tanda peradangan yang jelas. Ia juga menyebut terdapat pengukuran sekitar 2,02 milimeter pada gambar CT scan tersebut.
Berdasarkan keseluruhan hasil pemeriksaan, dokter di Penang kemudian menyampaikan bahwa Fahira tidak perlu menjalani operasi usus buntu.
Fahira mengaku sangat bersyukur karena akhirnya tidak perlu menjalani tindakan operasi yang sebelumnya sudah ia persiapkan.
Perbedaan Diagnosis Ini yang Memicu Perdebatan
Perbedaan hasil pemeriksaan antara Indonesia dan Malaysia kemudian membuat cerita Fahira menjadi viral.
Dalam versinya, ia sebelumnya mendapat diagnosis apendisitis dan rekomendasi operasi. Namun, setelah pemeriksaan lanjutan di Penang, ia justru mendapat kesimpulan berbeda.
Meski demikian, perbedaan hasil tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa salah satu dokter melakukan kesalahan diagnosis.
Secara medis, diagnosis apendisitis memang dapat membutuhkan kombinasi antara gejala, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, serta pencitraan.
Tidak ada satu pemeriksaan yang selalu dapat memastikan apendisitis dalam seluruh kasus. NHS menjelaskan bahwa pemeriksaan dapat mencakup tes darah, urine, USG atau CT scan, tergantung kondisi pasien.
Karena itu, hasil pemeriksaan yang berbeda perlu dilihat bersama dengan kondisi pasien pada saat diperiksa, metode pemeriksaan yang digunakan, waktu pemeriksaan, serta interpretasi dokter.
Artinya, klaim mengenai "misdiagnosis" masih membutuhkan pembuktian medis, bukan semata-mata berdasarkan pengalaman yang dibagikan di media sosial.
Konten Fahira Dikritik karena Dinilai Menyudutkan Layanan Kesehatan Indonesia
Setelah viral, unggahan Fahira mendapatkan reaksi beragam.
Sebagian warganet menganggap pengalaman tersebut sebagai cerita pribadi sekaligus pengingat pentingnya mencari second opinion ketika menghadapi keputusan medis yang besar.