- Kolase tvOne/Irfan & Tangkapan layar YouTube Dare Debil
Kisah Agen Polisi yang Lolos di Tragedi G30S PKI 1965, Sukitman Beri Kesaksian saat Temukan Lubang Buaya
Jakarta, tvOnenews.com - Peristiwa G30S PKI 1965 atau malam 30 September menuju 1 Oktober 1965 menjadi salah satu tragedi yang selalu menarik bagi masyarakat. Kisah ini memiliki kombinasi unsur misteri hingga tercatat sebagai sejarah kelam bangsa Indonesia.
Pemberontakan dalam tragedi tersebut mengakibatkan pertumbahan darah. Peristiwa ini juga mengugurkan tujuh jenderal Indonesia atau Pahlawan Revolusi sehingga dikenal sebagai Gerakan 30 September 1965 PKI (G30S PKI).
Menariknya, dalam G30S PKI, ada seorang anggota agen polisi sebagai saksi sejarah melihat saat jasad tujuh Pahlawan Revolusi dikubur hingga ditumpuk dalam sumur di Lubang Buaya, Jakarta Timur. Dia adalah almarhum Sukitman.
Pada 3 Oktober 1965, AKBP (Purn) Sukitman membagikan laporan penemuan jasad tujuh Pahlawan Revolusi, di antaranya Jenderal Ahmad Yani, Mayor Jenderal Raden Soeprapto, Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono, Mayor Jenderal Siswondo Parman, Brigadir Jenderal Donald Isaac Panjaitan, Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo, dan Kapten Pierre Tendean (ajudan Jenderal Nasution).
Kisah Sukitman Temukan Lubang Buaya dalam Tragedi G30S PKI 1965
- Kolase Museum.polri.go.id & Impact
Merujuk dari tayangnan channel YouTube Dare Debil, Selasa (29/9/2026), Sukitman pernah hadir menceritakan saat dirinya menjadi saksi sejarah melihat kekejaman para pelaku penculikan dari anggota Gerakan 30 September yang didukung oleh pasukan Cakrabirawa.
Mulanya Sukitman mengungkapkan bahwa dirinya hanya sebatas seorang tamatan SMA. Ia lahir di Desa Cimanggu, Palabuhanratu pada 30 Maret 1943.
Sukitman pantang menyerah. Ia memutuskan untuk mengikuti pendidikan Sekolah Polisi Negara (SPN) di Kramat Jati, Jakarta Timur.
"Awalnya saya pergi ke Jakarta hanya untuk mencari pekerjaan. Dengan niat tulus, saya akhirnya diterima jadi polisi negara dididik," ungkap Sukitman.
Sukitman Pakai Sepeda Jalani Patroli
Sukitman kemudian menjalani tugasnya sebagai seorang Agen Polisi Tingkat II. Pada malam hari 30 September 1965, ia bertugas dengan berjaga-jaga di sekitar Guest House di Jalan Iskandarsyah Raya, Jakarta Selatan.
Sukitman saat itu ditemani oleh rekannya bernama Sutarso. Ia mengungkapkan bahwa dirinya bisa berkeliling 100-300 meter dan selalu bergantian dengan Sutarso untuk kontrol di malam hari.
Di tengah tugasnya, Sukitman kaget tiba-tiba mendengar serentetan tembakan di sekitar area patrolinya pada 1 Oktober 1965 dini hari. Hal ini membuat dirinya harus membuang senjatanya.
"Saya berangkat menuju tempat suara tembakan itu menggunakan sepeda. Gencaran tembakannya sangat kencang membuat saya berhenti lalu turun dan melemparkan senjata. Kemudian, saya angkat tangan," terangnya.
Sukitman terpaksa dilempar ke dalam kabin sebuah mobil di tengah situasi yang begitu menegangkan. Ia hanya bisa pasrah lantaran pasukan pemberontak sangat banyak.
"Suasana tembakannya sangat gencar dan secara terus-menerus. Pasukannya banyak banget, ada yang menyerbu satu rumah, menyergap dari kanan belakang, mungkin ada lebih dari 100-200 orang," tuturnya.
Korban Penyekapan hingga Lihat Penyiksaan 7 Pahlawan Revolusi
Sukitman yang saat itu berada dalam kabin sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi. Posisi kepalanya telah tertutup seperti korban penyekapan.
Ia saat itu masih berusia 22 tahun. Hal ini membuat ia dibawa menggunakan mobil seperti bus ke area Lubang Buaya. Selepas itu, ikatan di kepalanya dibuka hingga dirinya diseret secara paksa.
"Saat itu samar-samar saya mendengar, 'Yani'," ucapnya.
Dikutip tvOnenews.com dari buku miliknya berjudul "Kesaksian Sukitman Penemu Sumur Lubang Buaya", di momen inilah Sukitman berbagi kisah sebagai saksi kekejaman para anggota Gerakan 30 September 1965 PKI.
Pria berusia 22 tahun ini melihat secara jelas banyak orang sebagai sukarelawan dan sukarelawati yang berpenampilan seperti ABRI. Mereka membantu anggota Resimen Cakrabirawa dipimpin oleh Letkol Untung Syamsuri.
Pada momen tersebut, tujuh Pahlawan Revolusi dibantai oleh Pasukan Cakrabirawa. Bahkan, Sukitman menjadi saksi satu per satu jasad enam jenderal dan satu perwira ditumpuk ke dalam sumur Lubang Buaya.
"Kata-kata kapitalis, 'Ganyang kabir, ganyang kabir'. Satu per satu lalu dimasukkan. Orang yang masuk duluan juga sambil ditembak dari atas. Kalau yang masih hidup, dia diikat, ditodong senjata dari kanan-kiri dan dipaksa menandatangani sesuatu meski akhirnya berontak," jelasnya.
Sukitman mengaku stress dalam situasi tersebut. Ia lagi-lagi hanya bisa pasrah karena berpikir dirinya juga menjadi korban serupa seperti ketujuh jenderal Indonesia tersebut.
"Hati saya waktu itu enggak karuan lagi, mungkin giliran saya saat itu lantaran (Pahlawan Revolusi) saat itu secara bergiliran masuk ke dalam sumur," paparnya.
Penculik Lengah dan Sukitman Kabur
Pada 1 Oktober 1965 sore hari, penculik terpantau sedang lengah. Situasi ini mendorong Sukitman kabur dan lari dari area Lubang Buaya untuk segera melaporkan kejadian ini kepada pasukan keamanan.
Dilansir dari buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando, Perwira Muda RPKAD (Kopassus), Letnan Sintong Panjaitan bercerita bahwa hasil dari laporan tersebut membuat pihaknya segera melakukan evakuasi.
Sayangnya situasinya tidak mendukung. Kondisi langit saat itu mulai gelap di tengah keterbatasan perlengkapan dari pasukan RPKAD.
Proses Evakuasi Tujuh Pahlawan Revolusi
Mayor Jenderal (Mayjen) Soeharto saat itu kebetulan menjadi Pangkostrad TNI AD. Presiden ke-2 RI itu meminta bantuan kepada Panglima KKO (Marinir) Mayjen Hartono.
Dari permintaan tersebut, rombongan dari KKO langsung menuju Lubang Buaya pada 4 Oktober 1965, sekitar pukul 04.00 WIB. Meski begitu, mereka masih belum mengetahui letak sumur Lubang Buaya.
Komandan KIPAM KKO-AL, Kapten Winanto menjadi pemimpin proses evakuasi yang dibantu oleh prajurit RPKAD pada pertengahan hari. Hal ini membuat jenazah tujuh pahlawan yang sempat tertumpuk dalam satu sumur berhasil diangkut setelah berjuang selama dua jam.
(hap)