news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Ilustrasi Sayur Genjer.
Sumber :
  • Gambar ilustrasi AI / Gemini

Kok Bisa Sayur Genjer Identik dengan G30S/PKI? Ternyata Berawal dari Lagu “Gendjer-gendjer”

Mengapa sayur genjer dikaitkan dengan G30S/PKI? Ternyata sejarahnya berawal dari lagu “Gendjer-gendjer” yang menggambarkan penderitaan rakyat saat pendudukan
Rabu, 30 September 2026 - 16:43 WIB
Reporter:
Editor :

tvOnenews.com - Bagi sebagian orang, genjer mungkin hanya dikenal sebagai sayuran sederhana yang biasa ditumis dengan tauco, sambal, atau bumbu dapur lainnya. 

Tumbuh di area persawahan dan rawa, tanaman bernama ilmiah Limnocharis flava ini sejak lama menjadi bagian dari makanan masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia. 

Namun, siapa sangka, nama genjer kemudian memiliki cerita sejarah yang jauh lebih panjang daripada sekadar urusan dapur.

Genjer pernah menjadi salah satu sumber pangan bagi masyarakat kecil ketika kehidupan rakyat berada dalam kondisi sulit. Pada masa pendudukan Jepang, masyarakat Banyuwangi, misalnya, memanfaatkan genjer yang tumbuh di sekitar sungai dan persawahan untuk memenuhi kebutuhan pangan. 

Sayuran yang sebelumnya dianggap sederhana itu kemudian diabadikan dalam sebuah lagu yang kelak menjadi sangat terkenal: “Gendjer-gendjer”.

Masalahnya, setelah pergolakan politik 1965, nama genjer tidak lagi sekadar mengingatkan orang pada makanan rakyat. Lagu “Gendjer-gendjer” ikut dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI), sehingga genjer pun secara tidak langsung terseret ke dalam stigma politik tersebut. Lantas, kok bisa sayuran yang tumbuh di sawah ini identik dengan G30S/PKI?

Genjer Awalnya Makanan Wong Cilik

Sebelum menjadi bagian dari perdebatan sejarah, genjer merupakan makanan yang dekat dengan kehidupan masyarakat kecil. 

Sejarawan sekaligus akademisi Jurusan Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Heri Priyatmoko, mengatakan genjer telah menjadi makanan keseharian wong cilik sejak dahulu.

“Wong cilik terbiasa mengolah bahan yang ada di sekitarnya, termasuk genjer atau paku rawan (limnocharis flava). Sayuran ini cukup akrab dalam ekologi persawahan,” kata Heri melansir dari Kompas.

Masyarakat memanfaatkan apa yang tersedia di lingkungan sekitar untuk memenuhi kebutuhan pangan. Genjer yang tumbuh di persawahan pun diolah menjadi santapan. Dalam tradisi masyarakat Jawa, tumbuhan yang tumbuh di sawah maupun pekarangan juga dipercaya memiliki manfaat bagi tubuh.

“Sayuran bagian dari tombo atau ramuan,” kata Heri.

Menurutnya, keyakinan tersebut terbentuk dari pengalaman empiris masyarakat. Genjer yang dikonsumsi dari generasi ke generasi kemudian dianggap sebagai tanaman yang aman dimakan.

“Makanya genjer terus hidup dan berhasil menerobos sekat waktu, walau hanya akrab di dunia wong cilik,” tuturnya.

Pada masa pendudukan Jepang, keberadaan genjer menjadi semakin penting bagi masyarakat yang mengalami kesulitan pangan. 

Menurut buku Musik dan Politik: Genjer-Genjer, Kuasa dan Kontestasi Makna (2007) karya Utan Parlindungan, kondisi ekonomi masyarakat Banyuwangi saat itu turut terdampak kebijakan pendudukan Jepang. Warga kemudian memanfaatkan daun genjer yang tumbuh di sekitar sungai sebagai bahan makanan.

Lagu “Gendjer-gendjer” Mengubah Makna Genjer

Kisah genjer kemudian masuk ke dunia musik. Muhammad Arief, seorang musisi Banyuwangi, menciptakan lagu “Gendjer-gendjer” untuk menggambarkan kondisi masyarakat yang mengalami penderitaan pada masa pendudukan Jepang.

Lagu tersebut menggambarkan bagaimana genjer yang sebelumnya dianggap sebagai tanaman biasa justru menjadi bahan pangan masyarakat dalam kondisi serba kekurangan.

Setelah Indonesia merdeka, “Gendjer-gendjer” semakin dikenal dan pernah dipopulerkan oleh sejumlah penyanyi, termasuk Lilis Suryani dan Bing Slamet. Lagu tersebut juga populer pada masa Demokrasi Terpimpin.

Namun, perjalanan lagu ini kemudian bersinggungan dengan politik.

Dalam jurnal Genjer-Genjer dan Stigmatisasi Komunis (2003) karya Paring Waluyo Utomo, disebutkan bahwa situasi sosial-politik Indonesia pada 1960–1965 turut memengaruhi perjalanan lagu tersebut. Muhammad Arief disebut bergabung dengan Lekra, organisasi kebudayaan yang memiliki kedekatan politik dengan PKI.

Lagu “Gendjer-gendjer” kemudian mendapat tempat di lingkungan politik PKI. Menurut Utan Parlindungan dalam bukunya, pada 1964 DN Aidit bahkan mengklaim “Gendjer-gendjer” sebagai mars PKI.

Di titik inilah hubungan antara genjer, lagu “Gendjer-gendjer”, dan PKI mulai terbentuk dalam ingatan publik.

Setelah 1965, Genjer Ikut Terseret Stigma Politik

Ketika Gerakan 30 September 1965 terjadi dan PKI kemudian menjadi sasaran utama penindakan politik, “Gendjer-gendjer” ikut mengalami perubahan nasib.

Lagu yang sebelumnya menggambarkan penderitaan rakyat tersebut dicekal dan tidak lagi bebas dinyanyikan pada masa Orde Baru. Kompas mencatat bahwa lagu itu kemudian dikenal luas sebagai lagu yang dikaitkan dengan PKI.

Dari sinilah muncul asosiasi yang bertahan hingga sekarang: genjer dianggap memiliki hubungan dengan G30S/PKI.

Padahal, jika ditarik jauh ke belakang, genjer telah lebih dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Tanaman ini tumbuh liar di persawahan dan rawa serta dimanfaatkan sebagai pangan oleh masyarakat yang hidup dalam keterbatasan.

Dengan kata lain, yang berubah bukanlah genjernya, melainkan makna yang melekat pada nama tersebut.

Sayuran yang dahulu menjadi makanan wong cilik kemudian ikut terseret ke dalam sejarah politik karena sebuah lagu. Setelah 1965, hubungan lagu “Gendjer-gendjer” dengan PKI membuat nama genjer mendapatkan stigma yang jauh lebih luas daripada konteks kulinernya.

Kini genjer kembali lebih sering dilihat sebagai bahan makanan. Rasanya memang cenderung pahit ketika masih mentah dan teksturnya cukup keras. Namun, setelah diolah dengan tepat, genjer dapat menjadi hidangan yang renyah dan lezat.

Sejarahnya pun menunjukkan satu hal menarik: sebuah makanan sederhana ternyata bisa memiliki perjalanan makna yang panjang—dari penyelamat pangan rakyat, menjadi judul lagu, kemudian terseret ke dalam pergolakan politik Indonesia setelah 1965. (udn)

 

Berita Terkait

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:50
02:47
06:54
06:16
06:20
07:15

Viral