- ANTARA/Sri Dewi Larasati
Review Film Bapak Paling Jujur: Ketika Calon Gubernur Tak Bisa Bohong, Tapi Justru Kehilangan Filter
Jonas menjadi semacam eksperimen sosial dalam bentuk komedi. Apa yang terjadi jika seseorang tidak lagi mempunyai kemampuan untuk mengatur citra melalui kata-kata?
Jawabannya tentu saja kacau. Tetapi justru dari kekacauan tersebut film mengajak penonton melihat sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
Bapak Paling Jujur tidak menawarkan jawaban bahwa berkata jujur selalu mudah atau selalu menghasilkan sesuatu yang baik. Sebaliknya, film ini memperlihatkan bahwa kejujuran memiliki konsekuensi, terlebih ketika disampaikan tanpa tanggung jawab dan tanpa mempertimbangkan orang lain.
Pada akhirnya, kekuatan utama film ini terletak pada premis sederhananya: bagaimana jika kita kehilangan kemampuan untuk berbohong sekaligus kehilangan filter untuk berbicara?
Lewat Jonas, pertanyaan tersebut dibawa ke dunia kampanye, keluarga, pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Penonton mungkin akan tertawa melihat kekacauan yang ditimbulkannya, tetapi seperti harapan Fajar Nugros, pertanyaan yang lebih penting justru muncul setelah tawa itu selesai: seberapa jujur kita kepada diri sendiri ketika tidak ada kutukan yang memaksa kita berkata benar? (udn)