news

Daerah

Bola

Sport

Gaya Hidup

Video

Tvone

Sosok Ainun, guru SLB disabilitas tunanetra asal Tasikmalaya yang meraih gelar magister (S2) Pendidikan Khusus di UPI.
Sumber :
  • Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Mengenal Ainun, Guru Tunanetra di Tasikmalaya yang Buktikan Keterbatasan Bukan Penghalang Sabet Gelar Magister di UPI

Berikut kisah Ainun, guru disabilitas tunanetra SLB Negeri Tasikmalaya yang meraih gelar magister (S2) Pendidikan Khusus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Minggu, 25 Oktober 2026 - 17:05 WIB
Reporter:
Editor :

Ia mengikuti program magister melalui kelas kerja sama yang menerapkan sistem blended learning, yaitu perpaduan pembelajaran daring dan tatap muka.

Sebagian besar kegiatan akademik dilakukan secara daring, sementara pertemuan langsung di kampus hanya terjadi beberapa kali dalam satu semester.

Harapan Ainun agar Kampus Lebih Ramah bagi Tunanetra

Meski merasakan kemudahan berkat teknologi, Ainun menyoroti persoalan aksesibilitas sejumlah layanan digital UPI. Ia menilai beberapa bagian situs web kampus belum sepenuhnya kompatibel dengan perangkat pembaca layar yang digunakan penyandang tunanetra.

Kendala itu pernah dialaminya ketika mengunggah tugas karena terdapat bagian laman yang tidak terbaca oleh perangkat tersebut. Proses pengunggahan tesis melalui tautan repositori juga sempat mengalami hambatan.

"Aksesibilitas internetnya itu seharusnya sesuai dengan ketentuan internasional," terangnya.

Menurut Ainun, layanan digital perguruan tinggi semestinya dirancang agar dapat digunakan oleh seluruh mahasiswa, termasuk mereka yang memiliki hambatan penglihatan.

Dari segi interaksi, ia menilai warga kampus UPI cukup ramah dan fasilitas fisiknya sudah lumayan baik. Meski demikian, banyaknya tangga di sejumlah area membuat mahasiswa tunanetra kerap berhati-hati ketika berjalan.

Pesan Ainun untuk Penyandang Disabilitas

Ainun berpesan kepada mahasiswa penyandang disabilitas, khususnya generasi muda agar tidak kehilangan semangat dalam menuntut ilmu. Ia menekankan pentingnya menguasai teknologi informasi supaya penyandang disabilitas tidak tertinggal dalam perkembangan zaman.

Ia turut mendorong para orang tua yang memiliki anak disabilitas agar tetap optimistis memberikan pendidikan setinggi mungkin. 

Menurutnya, stigma negatif di masyarakat masih menjadi tantangan karena penyandang disabilitas kerap dipandang memiliki kemampuan lebih rendah dibandingkan orang nondisabilitas.

Padahal, setiap individu memiliki potensi yang dapat dikembangkan melalui kesempatan belajar, pelatihan, dan akses teknologi yang memadai.

"Masyarakat kita tidak akan bisa pintar, termasuk disabilitas, kalau kita tidak terbuka dengan pendidikan dan teknologi. Jadi jangan terlalu banyak stigma. Pendidikan dan latihan itu penting sekali," ujarnya dengan tegas.

Kisah Ainun menunjukkan bahwa kesempatan pendidikan yang terbuka, kemauan belajar, dan pemanfaatan teknologi dapat membantu penyandang disabilitas meraih prestasi sekaligus mengembangkan kemampuan untuk berkontribusi di lingkungan masyarakat.

Berita Terkait

1
2
3 Selanjutnya

Topik Terkait

Saksikan Juga

08:02
14:03
08:06
08:08
08:29
08:13

Viral